KMAB 3 Empat Hari di Kapal

Terbaru721 Dilihat

KMAB 3

Perjalanan  Hidup

Empat Hari di Kapal

oleh Lusia Wijiatun

sumber gambar :http://disnakertrans.sumselprov.go.id/

Setelah berada dalam kapal tiga hari tiga malam, kesehatan gadis kecil itu memburuk.  Gadis kecil itu hanya diam saja.,Apa yang terjadi dengannya?

Gadis kecil yang tadinya lincah itu mengalami demam tinggi. Lengan kirinya membengkak, luka vaksin menjadi infekksi. Hal itulah yang membuat Tami demam. Ibu, ayah dan kedua  kakaknya  sangat mengkhawatirkan dirinya. Sesekali ia membuka matanya, dan melirik seakan memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.

Menjelang hari keempat berada didalam kapal gadiskecil itu mulai pulih kembali. Dan hari itu juga kapal hampir sampai di tujuan. Ya…. Benar saja hari keempat kapal mulai merapat dipelabuhan.Namun karena pelabuhannya masih sangat sederhana,maka kapal tidaklah bisa merapat di pelapuhan langsung.

Para penumpang diangkut dengan menggunakan kapal kecil yang disebut sekoci. Secara bergantian beberapa keluarga diangkut menuju pelabuhan. Hampir semua penumpang terlihat lemas sekali, terutama anak-anak.

Setelah semua mendarat para penumpang  atau para transmigrans dikumpulkan ditempat penampungan.seperti balai atau mess ya mungkin, tapi berupa tenda.Tinggal mereka  beberapa hari di sana, sambil menunggu penempatan lahan atau daerah tran yang di tuju.

Di tempat penampungan, para trasmigran mendapat jatah atau bekal untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Mulai dari beras, minyak, ikan asin, gula dan lain lain. Semua mendapat sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Keluarga pak Paul ayahnya Tami berjumlah 5 anggota, bekal yang diterimapun berbeda yang jumlah anggota keluarganya hanya tiga atau lebih dari lima. Semua dapat terpenuhi. Pemerintah sudah menyediakan rangsum atau jatah untuk para transmigran itu.

Empat hari lamanya mereka berada di penampungan , kadang tenda yang dipakai roboh ditiup angin pantai.Udara dan cuaca panas menyengat mengakibatkan banyak diantara mereka yang jatuh sakit.  Untunglah semua kuat dan dapat sehat kembali.

Hari selanjutnya mereka disuruh bersiap-siap atau berkemas-kemas. Karena kendaraan pengangkut segera tiba. Mereka akan di tempat di daerah yang sudah menjadi tujuan. Begitu juga dengan keluarga Pak Paul.

Pak Paul bersama keluarganya segera bersiap-siap, dan langsung menuju ke mobil (truk ) tersebut.  Tentunya dengan membawa semua bekal yang sudah diperolehnya.

Truk melaju kencang menuju daerah pemukiman. Jalan menuju daerah pemukiman belumlah bagus. Jalan masih berupa tanah merah dan lengket. Di sepanjang jalan terlihat ternak  sepert sapi, kerbau, dan kambing  di lepas bebas.

Di kanan-kiri jalan terlihat hutan belantara, pemukiman penduduk terlihat begitu jarang. Perkampungan yang satu dengan yang lain sangatlah  jauh, dibatasi oleh hutan. Penduduknya masih jarang sekali.

Hewan –hewan liar seperti beruk  dan siamang bersahut-sahutan mengeluarkan suara. Ibu Tami agak terkejut menyaksikan semua itu. Tempat tinggal di Yogyakarta berada di dekat kota. Sedang di sini  hutan semua, sungguh sangat berbeda.“Bisakah kami hidup di daerah ini?” gumannya dalam hati. Tapi biarlah akan dijalani saja.

Perjalanan daerah pemukiman selama lima jam. Para transmigran ditempatkkan di tempat yang sudah disediakan. Begitu juga Pak Paul ayah Tami, ia mendapat tempat atau lahan yang sudah ada tanaman singkong.Tanaman terlihat  rapi, menghijau dan subur.

Tapi belum terlihat juga perumahan yang siap dihuni. Keluarga pak Paul ditempat di salah satu rumah penduduk. Rumahnya tinggi, biasa disebut dengan rumah panggung. Rata-rata rumah disekitarnya juga  rumah panggung. Rumah panggung dibuat agak  tinggi untuk menghindari masuknya hewan buas.

Tinggalah keluarga pak paul di situ, dan memulai kehidupan di daerah yang baru. Untuk mencukupi kebutuhan  sehari hari  keluarga pak Paul masih mengandalkan bantuan rangsum yang masih diberikan.

Waktu berlalu begitu cepat  kebutuhan rangsum tidak ada lagi, setiap kepala keluarga sudah harus berusaha sendiri. Beruntung Pak Paul sudah menpunyai lahan singkong, meskipun belum sisp panen.

Dengan bekal yang dibawa, pak Paul mulai menjual beberapa hasil kerajianan yang masih tersisa. Hasil kerajinan perak berupa perhiasan yaitu kalung, gelang, cincin dan lain-lain. Kerajinan itulah yang digunakan pak Paul sebagai modal  untuk menghidupi keluarganya.

Selain itu pak Paul juga mulai belajar bercocok tanam, menanam jagung, kacang tanah dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan agar bisa menjadi petani di daerah yang baru.Di saat senggang Pak Paul Juga belajar memotong rambut atau pangkas rambut.

Tinggalkan Balasan