Pengalaman Unik, Lain yang Dibeli Lain yang Diberi

Hiburan, Humor323 Dilihat

INI pengalaman saya sepekan yang lalu. Mungkin ini tidak baik barangkali, tapi mungkin menarik. Unik juga, menurut saya. Lain yang dibeli (dibayar awal) tapi lain pula yang diberikan oleh penjual. Di situ letak uniknya.

Ahad (24/01/2021) kemarin, itu kembali saya berkesempatan membantu isteri, ke pasar membeli belanjaan pagi. Sering hari istirahat sekolah atau kantor seperti ini kami dapat bersama-sama di rumah mengerjakan pekerjaan rumah. Bersama-sama pula menyelesaikannya. Sebagai guru yang harus bekerja di hari lain, hanya hari Ahadlah waktu di rumah. Terkadang hari Sabtu ada juga liburnya.

Kemarin itu, karena dia bersih-bersih rumah dan pakaian juga, saya diberi kepercayaan berbelanja dapur untuk masak makan siangnya. Dia minta saya ke pasar untuk membeli beberapa keperluan dapur. Saya bersedia karena memang sudah biasa saya ke pasar sejak pensiun ini. Oh ya, meskipun sudah pensiun dari PNS saya masih dipercaya mengelola sebuah yayasan pendidikan. Dan waktu-waktu saya tetap di luar rumah selain hari Ahad.

Sesuai pesanan isteri saya harus membeli ikan. Katanya akan dimasak menu asam pedas siangnya. Ini memang menu kesukaan saya. Bergegas saya hidupkan scutter merah saya dan tancap gas ke pasar yang jaraknya kurang lebih dua kilo meter dari rumah saya. Sampai di Pasar Maimun, begitu naka pasarnya saya langsung ke kios ikan basah. Karena akan dimasak menu asam pedas, enaknya ya ikan patin.

Saya lihat masih ada seekor ikan patin hidup di dalam bak berisi air. Saya langsung pesan dan dibayar sesuai berat dan harganya. Saya katakan, tolong dibersihkan dan dipotong-sesuai pesanan isteri, untuk masak asam pedas.

Setelah saya bayar duluan (dibayar awal sebelum diambil) saya naik ke lantai dua, kios sayur-mayur dan bumbu-bumbu masakan. Saya harus membeli bumbu gulai asam pedas. Seebelum naik ke lantai dua saya katakan kepada penjual ikan, bahwa saya mau naik dulu sambil menunggu dia selesai membersihkan ikan pesanan saya. “Ok,” kata penjual ikan.

Hanya dua menit dari lantai bawah ke lantai dua. Langsung saya menuju ke ibu penjual bumbu yang sudah menajdi langganan isteri saya. “Bumbu asam pedas, Bu,” pinta saya sambil memberikan uang.

“Berapa?’ Dia balik bertanya.

“Ikannya satu setengah kilo,” kata saya. Diapun dengan cekatan memasukkan beberapa macam bumbu giling ke dalam plastik kecil. Saya tak tahu persis apa saja bumbu-bumbu itu. Yang saya lihat ada yang berwarna merah. Itu pasti lada (cabei). Lainnya saya tidak memperhatikan. Tapi pasti itu kombinasi beberapa bumbu yang akan dipakai memasak ikan asam pedas. Harga bumbu itu Rp 5.000 (lima ribu rupiah).

Setelah dapat bumbu untuk ikan yang sudah menunggu di lantai bawah, sayapun turun kembali. Pesanan sayur juga dicari di lantai dua ini. Baru kembali ke bawah. Saya menuju kios ikan basah yang tadi saya sudah membeli dan membayar ikannya. Tinggal mengambilnya saja.

Sampai di kios ikan, saya meminta ikan pesanan saya tadi. Dengan cekatan dia menyerahkan satu plastik kresek yang berisi ikan yang sudah disiangi. “Patin yang 1,4 tadi, Bang,” kata saya karena saya merasa beratnya tidak seperti yang saya perkirakan plastic yang diserahkan. Jumlah ikannya juga sedikit. Ukuran kepalanya juga berbeda dengan yang tadi saya pesan.

Sepertinya dia ragu dengan plastik kresek yang mau diberikan ke saya. “Sepertinya, itu tampak sedikit berbanding ikan yang tadi saya pesan. Kalau satu kilo lebih, tentu lebih banyak.” Saya jelaskan begitu. Abang penjual ikan akan menukar dengan plastic lainnya yang juga berisi ikan. Tapi dia tidak menjumpai ikan patin lainnya.

Dia letakkan kembali sambil mencari-cari ikan saya yang sudah saya bayar tadi. Tapi sepertinya tidak ada. Lima kantong kresek yang berisi ikan yang sudah dibersihkan, tampaknya tidak ada yang menunjukkan itu adalah ikan pesanan saya. Ada wajah heran dan juga risau dari wajah Abang itu saya lhiat. Jangan-jangan, ikan saya sudah terberikan kepada pembeli lainnya, kata saya dalam hati.

Abang itu menanyakan ke pembantunya, “Mana plastik Bapak ini?” Tanpa menunggu jawaban dia langsung perintahkan pembantunya mengejar seorang ibu sebelumnya sudah duluan mengambil pesanannya. Katanya ikan patin juga. Tampaknya dia salah berikan ke pembeli lainnya itu. “Coba ke situ, kejar dia,” perintahnya dengan sedikit tinggi.

Tapi setelah pemabantunya kembali dan tidak menemukan ibu yang disebutkannya, akhirnya saya harus memilih, apakah meminta uangnya dikembalikan atau menerima ikan yang ukurannya lebih sedikit itu. Kebetulan ikan patin sudah tidak ada yang lainnya. Sudah habis semua. Atau, saya ditawarkan memilih ikan lain saja karena ikan patinnya yang sudah habis itu. Saya juga merasa kesal. Waktu saya juga tidak bisa berlama-lama di pasar.

Akhirnya, saya menerima ikan yang ada itu. Ikan patin yang ukurannya lebih kecil. Untuk itu sebagian uang saya dikembalikannya. Jadi, lain yang saya beli (bayar) awal tapi lain pula yang saya diberikannya. Inilah pengalaman unik saya hari ini.***

Tinggalkan Balasan