KALAU boleh berharap, bagaimana sikap kita kepada orang begitu pula sikap orang kepada kita. Seperti apa, misalnya baiknya kita, maka kita pun ingin orang tersebut bersikap yang sama kepada kita. Maksudnya, kita berbuat baik kepada orang lain, kita pun ingin diperlakukan baik oleh orang itu. Namanya juga harapan. Itu biasa. Maksudnya biasa kita berharap hal yang sama.
Tapi tentu saja tidak bisa begitu. Berlaku baik kepada siapa saja, itu sudah seharusnya. Agama dan akhlak mengajarkan begitu kepada kita. Orang tua kita pun mendidik kita untuk begitu. Ternyata jika berharap hal yang sama kepada diri kita, itu berlebihan. Tidak tepat atau kurang tepat. Orang berbuat baik atas kebaikan kita seharusnya itu terjadi atas keinginan dari orang itu saja. Bukan karena kita menyuruh bahkan berharap agar orang melakukannya.
Dalam hidup, benar orang boleh saling berharap. Berharap saling berbuat baik. Kita berbuat baik, mereka atau orang lain, itu juga berbuat baik kepada kita. Itu idealnya. Tapi pasti tidak akan selalu berjumpa keadaan seperti itu. Dan tidak tepat juga harapan begitu ada pada diri kita.
Bagaimana jika yang ditemukan adalah sebaliknya? Sikap baik kita justeru berbalas sikap tidak baik. Bantuan kita bebalas kesulitan bagi kita. Tentu saja ini bukanlah sesuatu yang aneh. Munculnya peribaha, ‘air susu dibalas air tuba’ misalnya adalah bukti bahwa sikap baik seseorang bisa saja berbalas tidak baik dari orang lainnya. Perlakuan dan kelakuan itu tidak hanya antara orang-orang yang tidak saling berhubungan. Malah antara orang yang berhubungan, semisal antara keluarga saja bisa terjadi perlakuan yang tidak sesuai dengan yang seeharusnya itu.
Di pihak kita sesungguhnya yang utama adalah bertahan dengan sikap yang diajarkan eitika dan agama, yaitu tetap berbuat baik kepada orang meskipun orang tidak berbuat baik kepada kita. Kebaikan kita, itu sudah satu point kebaikan (pahala) bagi kita sedangkan kejahatan atau keburukan orang kepada kita itu adalah point kedua bagi kita. Artinya ada peroleh dua pahala atas keadaan seperti itu. Maka tetaplah kita bertahan dengan sikap –yang baik– saat ini, Insyaallah, sikap itu akan meringankan langkah kita. Sikap dan sikap mereka adalah dua sikap yang masing-masing mempertanggungjawabkan dan akan menerima balasannya.***
Juga di mrasyidnur.blogspot.com









