Menghadiri Undangan Teman Membuat Terkenang Seribu Taman (1)

SETELAH lama tidak pergi ke Moro, Kecamatan Moro, di Pulau Sugi Bawah yang kebanyakan orang menyebutnya Pulau Moro, Sabtu (19/02/2022) itu saya berkesempatan ke sana. Memenuhi undangan ‘munduh mantu’ seorang teman, H. Syafrizal. Dia adalah seorang guru yang belakangan berprofesi sebagai pengawas sekolah. Pernah menjadi Kepala Sekolah (SD) sebelum dipercaya menjadi pengawas sekolah. Saya dan dia, selain pernah bersama-sama –dulu– membangun Moro ketika saya masih berdinas di Moro, kami juga terhubung oleh pernikahan ponakan saya, Khairul Amri dengan Rukiah yang adalah keluarga dari Pak H. Syafrizal dan isterinya.

Hari Sabtu, itu dia mengadakan pesta pernikahan anak laki-lakinya, Rendi di rumahnya, di Moro. Artinya di rumah pihak laki-laki. Sebelumnya sudah diadakan pula pesta walimatul ‘ursy di rumah pihak perempuan (pengantin wanita) di Jawa sana. Saya tak bisa ikut ke Jawa maka saya berusaha hadir di Moro. Itulah kehadiran saya di Moro waktu itu. Untuk pergi ke Moro dengan posisi sudah bertempat tinggal di Tanjungbalai Karimun tidaklah semudah yang diinginkan. Dikarenaka harus melalui laut dalam jarak tempuh satu jam setengah, tentu saja tidak mudah ke sana. Alhamdulillah, Sabtu itu saya berkesempatan ke sana.

Berangkat ke Moro hanya saya sendiri dari rumah karena isteri saya tidak bisa meninggalkan sekolah tempat dia bertugas, juga karena ada undangan lain di Karimun. Di perjalanan ternyata saya berjumpa banyak teman, guru dan pejabat dari kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Inilah berkah pertama yang saya rasakan kepergian ke Moro kali ini. Saya bertemu para sahabat yang masih berdinas sementara saya sudah pensiun lima tahun yang lalu. Tidak akan mudah untuk bertemu banyak kawan dalam satu kesempatan. Ada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, Sugianto dan beberapa pejabat teras di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karimun yang menjadi rombongannya. Ada juga pejabat lainnya.

Menurut informasi dari para pengawas dan pejabat Kantor Dinas Pendidikan, mereka –para pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten– hadir ke Moro sekaligus ada pertemuan para guru di sana. Sekaligus juga untuk menghadiri undangan Pak H. Syafrizal. Sampai di Moro –setelah mengharungi laut Karimun-Moro kurang-lebih satu setengah jam– kami duduk di salah satu warung kopi. Saya ingat itu, Kedai Kopi A Hong yang sangat terkenal cita-rasa kopinya di Moro. Konon, Pak Muhammad Sani (mantan Gubernur Kepri dan juga Bupati Karimun) saat setiap ke Moro selalu memesan minuman kopi dari kedai kopi ini.

Kurang lebih 40 menit saya duduk di kedai kopi bersama rombongan Kadisdik Kabupaten Karimun, mereka duluan bersurai. Saya sendiri, mengingat waktu masih pagi, saya masih meneruskan duduk ‘ngopi’ di kedai kopi itu. Kebetulan saya berjumpa Pak A. Rivai TS yang usianya sudah 80-an tahun. Masih sehat. Kami nyambung ngopi bersama dua teman lainnya yang juga masih duduk di situ.

Pak Rivai –dia disapa juga dengan panggilan Pak Ikan karena dulu adalah Kepala Perikanan Kecamatan Moro– adalah mitra saya beberapa tahun yang lalu di SMA Negeri 1 Moro. Saat saya menjadi Kepala Sekolah dia pernah menjadi Ketua BP3 (sekarang disebut Komite Sekolah) dalam beberapa tahun. Selain karena ada dua anaknya yang menjadi siswa, rumah tempat tinggalnya juga tidak jauh dari sekolah.

Kami melanjutkan duduk ‘ngopi’ di kedai kopi A Hong itu meski rombongan Kepala Dinas pergi.  Teman saya lainnya yang baru duduk meminta satu cangkir kopi lagi. Saya dan Pak Ikan tetap duduk di situ plus satu teman yang baru datang bergabung ini. Kami bertiga duduk santai sambil ngobrol ‘ngalor-ngidul’ apa saja.

“Udah lama Bapak tidak ke sini,” kata teman saya yang duduk tepat di depan saya. Di sebelahnya duduk Pak Rivai alias Pak Ikan. Saya jawab, iya. Memang sudah lama saya tidak ke Moro. Sejak pindah dari Moro karena mutasi tugas dari SMA Negeri 1 Moro ke SMA Negeri 2 Karimun pada tahun 2002 yang lalu sebenarnya sering juga saya datang dan berkunjung ke Moro. Baik datang sendiri maupun dengan rombongan lainnya. Hanya saja, dua tahun terakhir memang sudah sangat jarang saya ke Moro.

Tahun-tahun 1995 hingga tahun 1998 adalah masa-masa saya merasa begitu sibuk sekaligus menikmati tugas saya sebagai Kepala SMA Negeri 1 Moro. Bertugas di SMA Negeri 1 Moro sebenarnya dalam kurun waktu 8 tahun tiga bulan, antara tahun 1994 s.d. 2002. Tapi tahun-tahun yang saya sebut itu adalah tahun saya begitu bersemangat membenahi sekolah SLTA pertama di Kecacmatan Moro. Awal datang adalah masa penyesuaian. Sementara di akhir-akhir jabatan, rasanya tidak lagi sesibuk di pertengahan waktu itu.

Banyak kegiatan yang kami buat di masa kepemimpinan BP3 di tangan Pak Ikan. Saat itu pula kami membangun musolla dan beberapa tambahan  bangunan yang dibangun oleh Pemerintah. Kerja sama orang tua dan sekolah melalui  kepengurusan BP3 sangat terasa waktu itu. Sebagai Kepala Sekolah saya merasakan betul kalau keberadaan BP3 atau Komite Sekolah (sekarang) sangat penting. Iyuran BP3 sangatlah membantu kegiatan-kegiatan yang diprogramkan sekolah.

Kami terus ngobrol berbagai hal yang teringat di masa lalu. Sebagai orang tua Pak Ikan adalah tokoh juga di masyarakat Moro. Banyak hal yang dijelaskannya kepada saya, terutama selama saya sudah tidak lagi menjadi warga Moro. Kenangan lama seolah terbayang di mata dan itu adalah bagian terindah yang  pernah kami alami bersama. Bagaikan menyaksikan taman-taman mekar, kenangan itu sungguh memberikan bayangan tersendiri bagi saya.

Setelah lumayan lama duduk bersama, saya mengajak Pak Pai berkeliling Moro. Dia membawa motor sendiri dari rumah ke pasar Moro. Dengan motornya itu kami bergerak berkeliling kota Moro. Saya bahkan menyempatkan melihat tanah saya yang masih ada di Moro. Dengan motornya saya juga bisa sampai ke lokasi SMA Negeri 1 Moro yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Kota Moro. “Sudah begitu megah sekolah ini, Pak,” kata saya kepada Pak Ikan yang duduk di belakang saya.

“Iya, pembangunannya sangat cepat. Apalagi sejak anggaran pendidikan dari Pemerintah Pusat begitu besar, pembangunan-pembangunan sekolah begitu cepat. Anggarannya tentu saja tidak lagi cekak macam dulu.” Begitu Pak Pai menambahkan kekaguman saya. Kami lama berhenti di bagian depan sekolah. Tentu saja di luar pagar karena sekolah memang libur pada hari ini.

Setelah berfoto beberapa jepret kami meneruskan perjalanan. Saya mengajak Pak Pai lewat di jalan belakang sekolah, persis lokasi tanah saya. Di situ juga sudah ada bangunan rumah yang belum selesai. Meskipun belum selesai sudah ada yang menghuninya. Kebetulan dia status numpang saja. Bagi saya, dari pada tinggal kosong yang membuat cepat lapuk, lebih baik ditunggu orang. Rumahnya bisa terjaga dan dirawat oleh yang menghuninya. Itu perinsip saya.***

Tinggalkan Balasan