Solat Id di Tengah Cpvid, Ikhlas Pondasinya

Berita, Islam, Literasi519 Dilihat

MEMBACA beberapa informasi, ada masjid atau musolla yang menyelenggarakan solat Idul Adha, tapi ada pula yang tidak menyelngarakannya pada tahun 2021 (1442) ini. Itu fakta versi berita secara nasional yang kita baca di banyak media. Televisi juga memberitakannya. Tapi di daerah, tentu saja menyesuaikan dengan status covid-19 yang sedang terjadi. Karena covid jualah yang menjadi punca banyaknya masjid atau musolla kosong karena tidak dibenarkan solat Id di luar rumah sendiri.

Di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri, misalnya berlaku arahan bupati yang dikelaurkan dalam bentuk surat edaran. Pada intinya surat itu membolehkan menylenggarakan Idul Adha –seperti puasa dan Aidil Fitri, lalu– dengan persyaratan sesuai protokoler kesehatan. Dapat dikatakan bahwa di seluruh masjid atau musolla se-Kabupaten Karimun menyelenggarakan solat Id. Bahkan ada yang dilaksanakan di halaman terbuka. Tentu saja syarat protokoler kesehatan menjadi syarat utamanya.

Untuk catatan hari ini, saya ingin melaporkan bahwa di masjid di dekat rumah saya, surat edaran bupati itu dilaksanakan juga. Maksud saya itulah yang diberlakukan pengurus masjid Al-Ubudiyah, Wonosari, Kecamatan Meral untuk tetap menghelat solat Id tahun ini secara bersama-sama. Kebetulan saya solat di masjid ini untuk tahun haji 1442 ini. Tidak hanya di RW saya saja terlaksananya helatan Idul Adha. Saya juga mendapat informasi bahwa di seluruh daerah (kecamatan) se-Kabupaten Karimun berlaku dan dilaksanakan arahan surat edaran itu. Masyarakat tetap melaksanakan solat Idul Adha dengan mematuhi protokoler kesehatan. Berarti di Masjid Agung (Masjid Kabupaten) dan masjid-masjid Ibu Kota Kecamatan juga melaksanakan helatan Idul Adha tahun ini.

Di Masjid Al-Ubudiyah sendiri tampak jamaah sudah memenuhi ruangan solat sejak pukul 06.30 WIB. Kebetulan jalan menuju masjid melewati jalan di depan rumah saya. Masih pagi sekali masyarakat sudah berbondong-bondong ke arah masjid. Sesuai pengumuman pengurus masjid sebenarnya solat baru akan dimulai pada pukul 07.15 dengan tolerasni terundurnya sekitar 30 menit. Artinya selambat-lambatnya solat Id akan dimulai pukul 07.45 meskipun jika ada yang terlambat, misalnya. Tapi para jamaah kelihatan sudah begerak dari rumah masing-masing pada sekitaran 06.30 atau sebelum jam itu. Saya sendiri bersama isteri sampai di masjid yang sedang dibangun ulang itu pada pukul 07.15. Dan pengurus sudah memulai prosesi solat beberapa saat setelah saya selesai solat sunah tahayyat masjid.

Sebelum solat Id dan khutbah sebagai kegiatan inti dalam prosesi solat Idul Adha dimulai pengurus melaksanakan beberapa agenda. Agenda ini memang sudah menjadi kebiasaan oleh pengurus masjid di setiap Idul Adha atau di Idul Fitri. Sebelum imam memulai dan memimpin solat selalu ada pidato-pidato. Pagi ini, setelah dibuka oleh MC, Sahabuddin, acara dilanjutkan dengan laporan panitia kurban dan sambutan oleh pengurus masjid. Dua acara ini selalu ada pada setiap solat Idul Adha di masjid kami ini.

Panitia kurban yang diketuai Mas Kemi (Sukemi) menyampaikan jumlah hewan kurban yang akan disembelih sekalian dengan nama para demawan yang menyedekahkan hewan kurbannya. Kata Pak Sukemi, yang menyampaikan laporan panitia kurban, ada 3 ekor lembu/ sapi dan 6 ekor kambing yang akan disembelih setelah solat Id nanti. Ada juga 3 ekor kambing dari orang yang mengakikahkan anak-anaknya. Berarti kambingnya ada 9 ekor selain 3 ekor lembu itu.

Acara selanjutnya adalah sambutan dari Ketua Pengurus Masjid. Pak Supardi, Ketua Pengurus Masjid Al-Ubudiyah menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan pembangunan masjid. Katanya, walaupun masjid kita belum siap (belum beratap) namun sudah kelihatan pembangunan yang kita buat ini. Solat di ruangan yang belum terpasang atapnya menunjukkan bahwa sebagian bangunan masjid ini sudah terbangunan. Dindingnya sekeliling, lantainya sepenuh ruangan walaupun itu juga masih dalam keadaan yang belum sempurna. Secara khusus dia menyampaikan ucapak terima kasih kepada para jamaah yang hadir.

“Terima kasih kepada masyarakat Wonosari yang telah ikut memberikan sebagian rezekinya untuk pembangunan masjid kita ini,” begitu katanya. “Masjid kita juga alhamdulillah mendapatkan sumbangan dari masyarakat di luar sana. Salah satu rumah makan di Karimun telah memberikan sumbangan 40 sak semen ditambah beberapa lori pasir,” lanjutnya. Untuk itu dia menghimbau masyarakat Wonosari khususnya dan masyrakat Kabupaten Karimun pada umumnya yang kebetulan mempunyai kelebihan rezeki untuk terus memberikan sumbangannya untuk kelanjutan pembangunan masjid. Tentu saja dengan landasan keikhlasan kita. Begitu dia menambahkan.

Bagaimanapun, keikhlasan memanglah salah satu sikap yang perlu dimiliki oleh semua orang, khususnya dalam keinginan kita untuk memberikan sumbangan. Termasuk juga perlunya keikhlasan jika dikaitkan dengan ujian virus corona yang melanda Indonesia dan dunia sejak dua tahun ini. Tanpa adanya landasan keikhlasan dalam setiap gerak dan langkah kita, maka sudah pasti kita akan selalu merasakan keberatan terhadap apa saja yang akan kita hadapi. Ini salah satu isi khutbah yang disampaikan khatib.

Prosesi solat Id selesai sekitar pukul 08.00 setelah pelaksanaan solat dua rakaat dan khutbah Idul Adha kurang lebih 25 menit. Lamanya khutbah juga sudah ditentukan untuk tidak terlalu lama. Arahan dari Pemerintah memang mengharuskan demikian agar tidak terlalu lama berkumpul dalam satu ruangan seperti itu.***

Tinggalkan Balasan