Terhitung sejak Rapat Kenaikan Kelas di pertengahan tahun 1986 itu, jabatan Wakasek Kurikulum kosong. Maharni yang marah besar karena keputusan rapat yang berbeda dengan perinsipnya telah meletakkan jabatan Wakasek Kurikulum. Pengganti belum terdengar diumumkan. Suasana di Majelis Guru mulai hangat. Para guru masih membicarakan rapat majelis guru itu. Siapa gerangan akan diangkat Kepala Sekolah juga menajdi bisik-bisik.
Untuk sementara Kepala Sekolah menunjuk salah seorang guru MP Ekonomi Koperasi, melaksanakan tugas-tugas Wakasek Kurikulum. Namanya Bahryzal. Sarjana D3 Mata Pelajaran Ekono dan Koperasi itu memang cukup dengan Kepala Sekolah selama ini. Dia diumumkan menjadi pelaksana tugas Wakasek Kurikulum. Semacam Wakasek Kurikulum ad interim. Sampai beberapa bulan ke depan Bahryzal mengemban tugas yang lumayan berat itu.
Sampai satu hari Kepala Sekolah memanggil Jamel. Guru yang masih memegang Wakasek Humas dan Pengelola Perpustakaan, itu masuk ke ruang Kepala Sekolah. Dia sadar kalau selama ini dirinya dikenal sebagai guru yang selalu berseberangan dengan Kepala Sekolah. Di ruangan itu Jamel ditanya, apakah bisa lebih bekerja sama dengan Kepala Sekolah? Kepala Sekolah merasakan kalau Jamel tidak patuh kepada Kepala Sekolah meskipun termasuk disiplin waktu dan disiplin masuk kelas untuk mengajar. Jamel memang dikenal siswa yang disiplin waktu. Tapi selalu berseberangan dengan Kepala Sekolah.
“Saya minta maaf, Pak. Selama ini saya suka membantah. Saya memang begitu. Tapi jujur saja, semua itu saya lakukan demi kebaikan sekolah ini.” Ada banyak yang disampaikan Jamel kepada Kepala Sekolah atas banyak pertanyaan Kepala Sekolah di ruangan itu. Intinya dia ingin berubah dari sikap yang selama ini suka ‘membangkang’ untuk tetap patuh kepada Kepala Sekolah. Jamel teringat pesan-pesan Arif Nasution, seorang pejabat yang dianggapnya abangnya. Nasution memberikan pesan kalau atasan jangan dilawan. Tidak baik walaupun kita merasa benar.
Panjang-lebar Kepala Sekolah dan Jamel berdiskusi. Ujungnya, Jamel bersedia ditunjuk menggantikan kedudukan Maharni. Setelah petemuan itu barulah Kepala Sekolah menunjuk dan mempercayakan jabatan strategis itu kepada Jamel. Senin setelah apel bendera Kepala Sekolah mengumumkan keputusannya itu. Meskipun Jamel semula termasuk guru yang suka menentang Kepala Sekolah karena merasa beberapa kebijakan Kepala Sekolah yang merugikan, namun sejak mendapat tugas baru, Jamel berusaha untuk tidak terlalu mempermasalahkan beberapa kebijakan Kepala Sekolahnya.
Jamel berusaha mendengarkan pesan-pesan Arif Nasution itu. Jamel betul-betul camkan apa yang diingatkan oleh Pak Nasution, bahwa seorang pegawai wajiblah loyal kepada atasannya. Arif Nasution, pegawai kehutanan yang sama-sama berasal dari Kampar, itu menginagkan Jamel untuk tidak mencari-cari kesalahan Kepala Sekolah lagi. Kepala Sekolah mempunyai atasan untuk memberi penilaian dan hukuman. Guru tidak perlu menyalahkan Kepala Sekolah. Pesan itu kini dipegangnya dengan baik.
Satu tahun, dua tahun dan beberapa tahun ke depan, Jamel tidak pernah lagi diganti oleh Kepala Sekolah sebagai Wakasek Kurikulum. Sepertinya Jamel memang sudah bertekad untuk mencurahkan semua pikiran dan tenaganya demi sekolah. Tidak jarang dia datang ke sekolah pada malam-malam hari untuk menyelesakan tugas seperti mjenyusun jadwal pelajaran setiap awal catur wulan atau semester. Selalu juga ke sekolah dua kali sebulan untuk menerbtkan majalah dinding bersama para siswa. Sebagai pengelola Mading Siswa, Jamel memang aktif menghidupkan kegiatan tulis-menulis di sekolahnya. Mading itu adalah salah satu kegiatan yang membuatnya dekat dengan para siswa.
Pada sisi lain, tugas-tugas kemasyarakatan, meskipun tetap dia lakukan, namun pekerjaan sekolah terasa semakin menggunung dan itu dia utamakan untuk diselesaikan. Jamel memang tetap melakukan dan meneruskan pekerjaan-pekerjaan di luar sekolah seperti biasa. Kepala Sekolah juga mulai tidak terlalu mempermasalahkan. Tugas sekolah dan tugas di luar sekolah tetap dilakukan seperti biasa. (bersambung)













