Perjalanan Cinta Seorang Guru (9) 

Edukasi, Humaniora, KMAB, Novel318 Dilihat

Ada satu hal perinsip yang kokoh dipegang Jamel dalam mengemban tugas-tugas tambahan. Tugas-tugas lain yang tidak ada kaitannya dengan profesinya sebagai guru. Itulahkeyakinan bahwa kepercayaan yang diberikan masyarakat adalah sesuatu yang sangat bernilai tinggi. Sesungguhnya kepercayaan itu adalah emas dan permata yang tidak terlihat oleh mata.

“Bukan berapa honor yang didapat. Bukan juga berapa banyak sertifikat yang diberikan ke kita,” katanya menjawab pertanyaan Maharni yang tidak terlalu suka melihat Jamel terlalu sibuk di luar sana. Maharni maunya cukuplah mengurus sekolah saja.

“Kalau bukan honornya, mengapa harus sibuk sangat, Mel?”

“Selain murid-murid kita, sebenarnya masyarakat juga orang-orang yang kita butuhkan. Kita butuh murid, makanya kita bisa menjadi guru. Tapi kita juga butuh masyarakat karena kita hidup dengan mereka.”

“Tidak ikut sibuk, toh kita tetap bisa hidup bermasyarakat, kan?” Maharni terus membicarakan perlu tudaknya guru ikut sibuk melaksanakan tugas-tugas yang bukan guru itu. Jamel juga kokoh mempertahankan perinsipnya.

Sebagai guru dan pegawai, Pegawai Negeri lagi, secara tak langsung akan membuat masyarakat cukup menghargai dan berharap banyak dari kita. Maka perlu kita tetap memberikan apa yang bisa untuk masyarakat itu. Itulah perinsip yang tetap dipegang Jamel.

Dengan membantu pekerjaan lain di luar fungsi dan tanggung jawab sebagai PNS atau guru, pada hakikatnya itu adalah penghormatan yang tak ternilai bagi kita sebagai masyarakat. Perinsip itu dipegangnya untuk tetap melaksanakan pekerjaan tambahan di luar sana. Dia akan tetap teguh memegang perinsip Dalam Kekurangan Aku Melakukan, maksudnya, sesungguhnya manusia itu selain kelebihan ada banyak kekurangan dan kelemahannya. Itulah pentingnya saling memberi dan melakukan apa saja yang baik untuk bersama.

Terbukti, kurang lebih sembilan tahun Jamel menjadi bagian warga Tanjungbatu Kecamatan Kundur, dia merasa tidak pernah menjadi orang asing. Dia sesungguhnya adalah pendatang dari luar Kundur. Datang ke Tanjungbatu karena panggilan tugas sebagai guru. Tapi dia akhirnya tidak lagi merasa anak rantau. Dia tidak lagi merasa menjadi orang merantau lagi di Pulau Kundur. Justeru dia nyaman merasa sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di sini.*** (bersambung)

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Assalammualaikum.Semoga Ayahnda sehat selalu sekeluarga dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT.Aamiin.Terima kasih atas segala ilmu dan didikan Ayahnda.Dia dari siswa Ayahnda akan menghantar kesurga kelaknya.Aamiin