HANYA hitungan hari saja. Tidak berapa lama setelah mendapat telpon dari Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, itu mutasi para Kepala Sekolah benar-benar terjadi di akhir 2001 itu. Jamel sendiri mendapat berita awal hanya dalam bentuk isu. Ada berita tidak resmi beredar di kalangan Kepala Sekolah Kabupaten Karimun. Akan ada mutasi Kepala Sekolah. Jamel ditelpon oleh salah seorang Kepala Sekolah di Karimun.
“Ha, siap-siaplah. Tinggalkanlah Moro Sulit itu,” kata Anto, Kepala SMA Negeri 1 Karimun. Dia adalah sahabat karib Jamel. Keduanya kebetulan berasal dari daratan Sumatera. Anto adalah sahabat sesama guru ketika dulu mengajar di SMA Negeri Tanjungbatu. Meskipun Anto lebih junior dari pada Jamel tapi Anto lebih duluan merasakan menajdi Kepala Sekolah. Konon, karena ada ‘orang dalam’ di Kanwil Depdikbud (Provinsi) Anto lebih duluan dipromosikan menajdi Kepala Sekolah. Jamel sudah tahu itu. Dia dapat menerima kenyataan itu.
Saat Anto sudah diangkat menjadi Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Karimun tahun 1994 awal Jamel masih sebagai guru di SMA Negeri Tanjungbatu. Belakangan Jamel menajdi Wakil Kepala Sekolah yang ditugaskan di SMA Moro. Sebelum Anto diangkat bahkan dia adalah bawahan Jamel. Jamel sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sementara Anto waktu itu masih guru biasa. Tapi kini dalam posisi sesama Kepala Sekolah, dari Antolah dia mendapat kabar awal bahwa akan ada mutasi Kepala Sekolah. Anto akan pindah tugas.
Waktu itu Kepala SMA Negeri 1 Karimun yang dijabat yang dijabat oleh Anto, minta mutasi ke Pekanbaru dengan alasan pribadi yang hanya dia yang tahu. Kekosongan itulah yang membuat bergesernya Kepala SMA Negeri 2 Karimun. Yatim yang menjabat Kepala SMA Negeri 2 Karimun akan menggantikan meja dinas Anto di SMA Negeri 1 Karimun. Meja Anto itulah kabarnya akan diisi oleh Jamel. Namun itu baru berita angin. Jamel mendapat info itu dari Anto yang mau keluar dari Kabupaten Karimun.
“Sudah siap? Siap akan pindah ke Ibu Kota Kabupaten?” Anto selalu menggoda Jamel. Dia tahu kalau Jamel sudah sangat berharap mutasi ke daerah yang lebih ramai.
“Siap kemana aja, Anto. Namanya juga petugas negara. Pokoknya kalau betul akan ke Karimun, kecil telapak tangan, akan saya tadahkan telapak tangan,” katanya menjawap pertanyaan Anto.Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan.
Dengan SK Nomor KPT 345/ XII/ 2001 tanggal 31 Desember 2001 Jamel dan beberapa Kepala Sekolah dimutasi atau diangkat oleh Bupati Karimun, Muhammad Sani. Terhitung sejak awal 2002 itu Jamel berpindah tanggung jawab dari SMA Negeri 1 Moro ke SMA Negeri 2 Karimun. Jamel sudah mendapatkan fotokopy SK itu. Aslinya akan menyusul setelah pelantikan. Jamel benar-benar bangga mendapatkan kopi SK itu. Saya akn bekerja lebih bersemangat lagi, katanya dalam hati. Seberat tugas dan tanggung jawab di sekolah baru seperti SMA Moro, saya mampu melewatinya dalam delapan tahun lebih. Semoga saja mengelola SMA Negeri 2 Karimun yang sudah lebih duluan berdirinya akan lebih mudah.
Jamel ingat tempat yang dia tinggalkan oleh bupati diamanahkan kepada Masnur, salah seorang teman Jamel juga di SMA Negeri 1 Tanjungbatu Kundur, dulunya. Artinya sudah dua oang sahabatnya sesama guru alumni SMA Negeri Tanjungbatu yang menjadi Kepala Sekolah. bertiga dengan dia dan sudah berempat dengan Said Usman beberapa tahun sebelum mereka diangkat.
“Selamat ya, Pak Msnur. Kalau Tuhan menentukan, tidak ada yang bisa mengubahnya,” kata Jamel melalui sambungan telpon. Dia terbawa bangga karena sesama guru SMA Negeri Tanjungbatu sudah sama-sama mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah. ketiganya juga bukan anak kelahiran daerah ini. Berarti yang disebut Pak Parjo, Kepala Sekolah di SMA Negeri Tanjungbatu itu tidaklah benar. Jamel percaya kompetensilah yang menentukan. Bukan pertalian persaudaraan antara atasan dan bawahan.*** (bersambung)










