Peristiwa kesurupan masal yang menyambut Jamel di SMA Negeri 2 Karimun mengingatkan dia akan kejadian yang sama di SMA Negeri 1 Moro yang sejenak lagi akan ditinggalkan. Selama dia menerajui SMA yang baru di Kecamatan Moro, itu dia tidak luput juga dari kejadian kesurupan. Seperti di SMA Negeri 2 Karimun, di SMA Negeri 1 Moro kesurupan itu juga menimpa siswa perempuan. Bedanya, kejadian yang menimpa siswi SMA Negeri 1 Moro terjadi tidak di lingkungan sekolah. Tapi terjadi di lokasi perkemahan.
Waktu perkemahan itu, tiba-tiba saja seorang peserta perkemahan Jumat-Sabtu-Minggu (Perjusami) itu memanggil-manggil seseorang. Dia menggelinjang seperti orang kesakitan sambil berbaring di terpal kemah. Suaranya sekali-sekali aneh mirip suara seorang lelaki. “Ayo, sini. Ayo, sinii…” Suara wanita berbadan kekar itu terkadang membentak. Para peserta perkemahan mulai ketakutan. Akhirnya disepakati wanita itu dibawa pulang ke rumah. Dia tidak bisa menyelesaikan perkemahannya.
Selain kejadian di Moro, Jamel pun teringat kejadian yang persis sama di SMA Negeri Tanjungbatu beberapa tahun sebelumnya. Waktu itu benar-benar membuat sekolah kalang-kabut. Siswa perempuan yang kesurupan mencapai puluhan orang. Tidak diketahui siapa yang mulai kesurupan. Tiba-tiba saja dalam satu lokal saat jam belajar ada seorang siswa perempuan memekik. Lalu berdiri dan berlari meninggalkan ruang belajar. Guru yang ada di kelas itu pun terkejut.
Kesurupan itu ternyata dengan mudah dalam waktu singkat sudah mengenai banyak siswi. Ketika salah seorang siswa terpekik seperti ketakutan, dalam waktu yang hampir bersamaan disahut pula oleh siswi lainnya. Lalu siswi lainnya. Akhirnya dalam satu kelas bisa empat-lima orang siswi yang kesurupan. Para guru sibuk dibantu oleh siswa laki-laki menggotong setiap yang terpekik dibawa ke musolla. Sampai di musolla itu begitu ramai para siswa yang kesurupan. Jamel sebagai salah seorang Wakil Kepala Sekolah termasuk yang tampak sibuk mengurus para siswi yang kesurupan itu.
Guru yang paling sibuk adalah Pak Ikram, guru Sejarah yang konon bisa mengobati berbagai penyakit. Dialah yang sibuk menyembur dan memantra para siswa yang terbaring tak sadarkan diri itu. Guru Mata Pelajaran Sejarah itu dibantu oleh dua orang guru BP bergerak dari satu siswa ke siswa lainnya. Ketika seorang siswi melengking di sudut ruang, Pak Ikram akan bergerak ke arah itu. Siswa laki-laki yang ikut membantu tampak begitu cekatan memegang tangan dan kaki para siswi itu. Ada juga yang sambil tersenyum memegang tangan-tangan halus perempuan itu. Itulah peristiwa di sekolah awal Jamel menjadi guru. Kini kejadian yang persis sama terjadi di sekolah yang akan menjadi tanggung jawabnya, SMA Negeri 2 Karimun.
Sambutan ‘kesurupan’ di awal Jamel akan bertugas ini memang membuat berbagai perasaan tak menentu di hati Jamel. Berbagai isu dan spekulasi timbul bak menusuk telinga Jamel. Tiga hari setelah kejadian itu Jamel sudah masuk ke SMA Negeri 2 Karimun. Dia sudah berada di lingkungan sekolah baru itu. Saat dia sudah benar-benar berada di kampus SMA Negeri 2 Karimun, dan sudah bersama-sama mengelola dan mengurus sekolah dengan para guru lainnya, isu dan spekulasi itu masih beredar. Aneka cerita tentang kesurupan itu didengar Jamel langsung dari guru.
“Kata Pak Yatim, hantu-hantu itu sengaja dilepaskan, Pak.” Salah seorang guru menyampaikan kepada Jamel, cerita hantu yang merasuk para siswi itu berasal dari lingkungan sekolah sendiri. Dikatakan selama ini dia tenang berada di atas pokok-pokok yang rindang di sekitar sekolah itu. Kini hantu-hantu itu sengaja dilepaskan oleh Pak Yatim, kepala sekolah yang digantikan Jamel.
“Katanya, ini karena kepala sekolah lama sudah melepaskan ‘hantu-hantu’ yang selama ini diikatnya, Pak.” Begitu dijelaskan oleh guru itu seperti bergurau namun dengan mimik serius. Jamel hanya tersenyum mendengar cerita itu karena Jamel menganggap itu hanya cerita ‘bergurau’ saja. Tidak mungkin hantu itu bisa diikat oleh manusia. Begitu Jamel memastikan di hatinya. *** (bersambung)







