SAYA pikir benar juga kalau ada kenangan tertentu di tanggal tertentu kembali kita ingat atau dikenang. Apalagi diingatkan. Siapapun yang mengingatkannya. Kata orang tua-tua, tempat terjatuh lagi dikenang, apalagi jika –misalnya—tempat membuat hati senang. Wajiblah itu dingat.
Hari ini ternyata ada kenangan dan tanggal penting itu bagi saya. Ada catatan yang pernah saya buat dan pada hari ini dia terkenang karena diingatkan. Inilah medsos. FB, misalnya. Postingan kita tercatat rapi dan rapat di dokumen mereka. Hebatnya, pada momen-momen tertentu, postingan itu diingatkannya kembali kepada kita.
Saya mengalaminya hari Selasa (21/12/2021) ini. Dengan titel ‘Kenangan Anda di Facebook’ aplikasi ini menginformasikan kembali postingan kita catatan kenangan kita beberapa waktu yang lalu. Kita tidak memintanya tapi tetap diberikannya. Tidak juga memesannya tapi tetap disuguhkannya. Itulah medsos. Kita suka saja, kenangan lama diberitahukan lagi kepada kita.
Kenangan apa gerangan? Tepat tanggal 21 Desember ini, ternyata empat tahun yang lalu saya dan isteri serta rombongan baru saja menjejakkan kaki di Tanah Suci, Arab Saudi. Waktu itu kami diizinkan Allah melaksanakan ibadah umroh. Dan sore atau malam tanggal hari ini kami baru saja sampai di sana. Sungguh kenangan yang indah dan tentu saja menyenangkan diingatkan kembali. Sudah empat tahun tapi serasa baru beberapa hari yang lalu saja setelah foto dokumen itu diperlihatkan kembali.
Lebih dari sekadar kenangan dan catatan perjalanan umroh, ada satu catatan penting lain yang juga menjadi teringat oleh saya tersebab kenangan umroh ini. Saya dan isteri, pada saat akan berangkat umroh itu diberitahu oleh Kasi Urusan Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun bahwa kami juga akan berangkat haji pada tahun depannya, 2018. Setelah kami mendaftar haji dan mendapatkan seat pada akhir tahun 2011, itu kami sesungguhnya sabar saja menunggu giliran berangkat. Namanya antrian panjang daftar haji. Ya, mesti sabar.
Tapi pada hari kami akan berangkat umroh, itulah kami juga mendapatkan berita gembira itu. “Nomor seat Bapak dan Ibu keluar untuk berangkat tahun depan,” kata pegawai Kemenag Kabupaten Karimun itu memberi tahu saya. Sayapun memberitahukannya kepada isteri saya. Sungguh bahagia dan haru menerima informasi itu. Pada saat hati juga haru dan bahagia akan berangkat ke Tanah Suci saat itu, diberi tahu pula akan keberangkatan haji, sungguh kebahagiaan yang tiada tara.
Itulah kenangan yang pada saat catatan ini saya tulis membuncah kembali di hati dan perasaan saya. Kenangan itu memang perlu dikenang. Apalagi diingatkan oleh akun yang tadinya tidak pernah terpikirkan setelah dulu diposting. Jika catatan kenangan itu saya yang menyimpannya, tentu saja entah kemana tersimpannya. Alhamdulillah, yang menyimpannya adalah media online. Hanya butuh jaringan internet untuk menemukannya.
Saya membuat catatan singkat ini semata untuk menyatakan rasa syukur atas kenangan itu. Tapi juga munculnya harapan lagi untuk ke sana. Meskipun sudah menunaikan kewajiban sebagai umat Islam, keinginan untuk mengulang jejak ke Mekkah, Madinah dan beberapa tempat di Tanah Suci saat berhaji dan atau umroh sungguh menjadi impian setiap kita, umat Islam. Akankah Allah ijabah? Hanya Dia yang tahu.***










