Bulir-bulir air hujan, deras berlomba melukis hawa dingin yang tajam. Dingin yang merasuk membawa volume perasaan amat resah.
Gelombang suara sungai Ciberang keras berdentum membungkus keheningan di pagi hari.
“Pa, lihat sungai Ciberang arusnya besar sekali” ujar Bu Uum yang rumahnya hanya dua meter dari sungai.
“Tiap hujan juga suka begitu Mah” balas suaminya.
Bu Uum kemudian melanjutkan aktivitasnya, mengepel teras rumah yang kuyup di terpa semburan hujan. Lantai rumah yang masih mengkilap karena rumahnya baru selesai dibangun setahun lalu.
“Mah, si Dede nangis” ujar anak sulungnya memberitahu.
“Iya sebentar. Teteh simpenin ember sama sapunya ke dapur ya!” balas bu Uum dengan memberi perintah.
Anak gadisnya yang duduk di kelas 2 SD itu kemudian melakukan apa yang diperinthkan ibunya. Bu Uum bergegas ke kamar untuk melihat si kecil putra bungsunya.
Sambil menyusui anaknya yang baru berumur setahun, bu Uum terus memandangi dengan tajam sungai Ciberang dari jendela kamarnya.
Setelah si bayi itu kembali tidur ia kemudian pergi ke dapur untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang ibu. Membuatkan sarapan serta beres-beres rumah adalah pekerjaannya di kala libur.
“Alhamdulilah semoga libur semester di tahun ini, aku bisa melayani keluarga dengan baik” gumamnya dalam hati.
Dengan menyuguhkan nasi goreng kepada anak dan suaminya, Bu Uum duduk di ruang keluarga dengan bersantai sambil menonton TV.
“Mah, Teteh pengen beli Wall Paper buat kamar Teteh” celoteh si sulung kepada bu Uum.
“Teteh, kan cat nya masih bagus. Masih mengkilap, ngapain harus pasang wall paper?” timpalnya.
“Tapi Mah, teteh pengen kamar yang ada motifnya. Biar kalo belajar, teteh betah tinggal di kamar” balasnya.
“Iya nanti kalau gajian, mama beli online” ujar Bu Uum.
“Kapan gajiannya Mah?” tanya si sulung penasaran.
“Tiga bulan lagi hehehe” Jawab Bu Uum dengan riang.
“Ikh lama banget sih!” timpal si sulung dengan nada kesal.
“Lha, ‘kan mamah ini guru honor, gajinya dibayar dari uang BOS. Dan, uang BOS nya cair pertiga bulan” balas Bu Uum menjelaskan.
“Berarti gaji mamah banyak dong?” jawab si sulung masih penasaran.
“Alhamdulilah, cukup buat makan” balasnya dengan tersenyum.
“Kalau gaji mama sedikit, gimana mama bisa bangun rumah ini?” tanya si sulung lagi dan lagi.
“Alhamdulilah Allah kasih rezeki lain di luar gaji mama” jawabnya.
Di tengah obrolan dengan putri sulungnya, tiba-tiba suaminya menyela pembicaraan.
“Mah, buatin teh manis dong!” ujarnya memberi perintah.
“Baik, Pak!” balasnya sambil langsung berdiri menuju dapur.
Tangan lembutnya kemudian meraih secangkir gelas untuk diletakkan di bawah dispenser. Ia kemudian gerakan jemarinya untuk mengambil gula pasir dan teh celup merk ‘sari wangi’. Sambil berhayal membelikan wall paper untuk anak sulungnya, ia goyangkan jemarinya berputar di dalam gelas yang sudah terisi teh manis. Tiba-tiba suara teriakan mengagetkannya.
“Neng Uum, cepat keluar!” teriak tetangganya.
Dia kemudian terperanjat dari lamunannya dan berlari menuju arah suara.
“Ada apa Bi?” ujarnya amat penasaran.
“Cepat keluar Neng, ada Banjiiiiirrrr” teriak si tetangga.
Mata Bu Uum kemudian memandang ke halaman dapurnya. Ia melihat gumpalan air berputar di sekitar rumahnya. Ia kemudian berteriak dan berlari menuju ruang tengah.
“Paaa, Banjiiiir” teriaknya histeris.
Suaminya terperanjat dari kursi dan berlari melihat ruang tamu. Di ruang tamunya air mulai masuk menerobos dengan amat cepat. Tak sampai hitungan menit, gulungan air membanjiri rumahnya.
Suaminya berlari menggendong anak gadisnya. Sementara Bu Uum berlari menuju kamarnya. Disitu terdapat seorang bayi mungil yang pulas dalam tidurnya. Bu Uum sontak menjerit karena gulungan air menghantam jendela kamarnya. Dengan cepat ia meraih bayinya. Terjangan air itu begitu kuat, seketika jendela kamarnya pecah dan gulungan air mulai menjelajahi rumahnya
Bu Uum berlari menuju dapur, dan gulungan air itu pun berlari mengejarnya. Gulungan air menarik badannya dengan keras, ia terseret dan terbanting pada rak piring dapurnya. Bayi dalam genggaman tangannya menangis histeris. Suaminya kemudian menariknya dengan keras, hingga Bu Uum terselamatkan sampai keluar dari rumahnya.
Keluarga kecil itu kemudian berlari menuju rumah tetangga. Para tetangga menangis memeluk mereka. Dari rumah tetangga, tangis Bu Uum pecah tak terhankan. Sorot matanya menatap dengan tajam, menyaksikan gulungan air meluluh lantahkan rumah barunya.
Genangan air matanya senada dengan genangan badai yang menghantam rumahnya. Ia menangis sedu sedan, mengingat batapa jerih ia mengumpulkan uang untuk membangun rumahnya. Bukan sehari atau sebulan, tetapi sepanjang 8 tahun perjalanan rumah tangganya.
Kini tak ada yang ia bawa selain baju basah yang melekat di badannya. Bayangan izazah yang ia raih dengan berkesusahan, hanyut tanpa permisi. Dadanya menjadi sesak, dunia seperti runtuh di matanya.
Ia pandangi anak gadisnya yang tak henti menangis. Jangankan sebuah wall paper, kini sepetak kamar pun tak mereka miliki. Suami dan tetangganya terus menenangkan. Bayinya yang kedinginan, menangis terisak seolah menggambarkan kesedihan yang mendalam.
Namun, dari sekian rasa yang ada di sanubarinya, ia amat bersyukur karena Tuhan masih memberinya keselamatan yang sempurna. Kedua anaknya, serta suaminya adalah harta yang tak ternilai harganya. Dengan menghela nafas panjang, tangisnya mereda. Dan mengucap syukur atas keselamatan dari bencana.
Bu Uum serta para warga korban bencana itu, akhirnya mengungsi di beberapa rumah warga yang jauh dari hantaman sungai.
Bagi seorang guru honor, jangankan memiliki istana, memiliki rumah yang kokoh tanpa bocor saja adalah sebuah anugrah. Bukan hal yang mudah menata impian dengan cepat. Seperti Bu Uum yang butuh waktu menata segalanya. Karena ia harus memulai semuanya dari nol.
Rasa sukur yang tertanam dalam hatinya, semoga memberi harapan padanya untuk sebuah kehidupan yang seperti semula. Aamiin.
-Sekian-











