Semerbak dingin menguasai pagi, sang fajar menyingsing membawa matahari, seolah menata hari dengan keceriaan yang mempesona.
Kelopak mata dengan sorotan tajam si gadis mungil, seolah membentangkan keceriaan pada hatinya yang sedang menonton tayangan kartun ‘Shiva’.
“De, nih minum susu dulu” ujar ibunya pada gadis 3 tahun itu.
“Makacih Mah” balasnya dengan lucu.
Ibunyaa kemudian kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai ibu rumahtangga. Dari dalam dapur terdengar tawanya yang menggemaskan menonton adegan demi adegan yang ada dalam kartun tersebut. Ibunya merasa bahagia mendengar celoteh gadis kecilnya yang menggemaskan.
Sebotol susu ia habiskan membersamai menit yang semakin berlari menuju angka 8. Pada jam itu pula kartun kesayangannya bersambung.
Si kecil itu kemudian terbangun dari tempat duduknya, mengambil mainan yang biasa ia mainkan.
Sekumpulan mainan bola kemudian ia tumpahkan kemudian ia mainkan sendiri. Sesekali ibunya mengintipnya dari pintu dapur, gadis kecil itu nampak senang bermain sendiri.
“Alhamdulilah gak rewel” gumamnya dalam hati.
Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya memasak di dapur. Si kecil dengan riang melemparkan bola ke langit-langit rumah, setiap melihat bola yang jatuh ke lantai, ia tertawa terbahak-bahak.
Lagi dan lagi ia ulangi permainannya, tetapi kali ini si bola meluncur keluar rumah. Si gadis kecil itu berlari untuk meraih bola. Namun si bola berlari terlalu jauh. Bola itu terhenti di kubangan lumpur samping rumahnya.
Kubangan lumpur itu milik ayahnya yang merupakan pembuangan dari hasil pengolahan emas. Bola itu menarik magnet si gadis yang belum mengerti akan bahaya.
Tak ada yang menyaksikan si kecil Ivi yang berusaha meraih bola pada kubangan lumpur. Dengan polosnya tangan mungil itu berusaha meraih bola yang terdiam di atas lumpur.
Ia berusaha dengan keras mengulurkan tangannya meraih bola, namun ia terjungkal karena bola itu terlalu jauh. Sang luumpur seolah menarik tangannya, dan perlahan menenggelamkan tubuh mungilnya.
Ibunya yang sedang asik membuat tumisan, tiba-tiba terhenti meraba-raba suara gadis kecilnya. Tak ada tawa yang ia dengar, tak ada gerakan yang ia dengar, kemudian ia berjalan menuju ruang TV, dan menemukan gadis kecilnya raib.
Ia kemudian berlari menuju kamarnya, ternyata gadis kecilnya tetap tak di dapati juga. Ia berteriak memanggil namanya.
“Ivi…. Neng dimana sayang?” teriaknya yang tanpa jawaban.
Ia mulai panik mencari gadis kecilnya, kecemasan mulai menyibak di hatinya. Ia berlari keluar rumah, dan bertanya sma tetangga.
“Bi Umi, lihat si Neng Ivi ga?” tututrnya penuh cemas.
“Gak lihat Teh. Si Neng gak lewat sini” jawab si tetangga.
Ia kemudian berlari ke jalan dan bertanya pada setiap tetangga. Namun jawabannya tetap sama, si gadis itu tak di lihat mereka. Hingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Dari kejauhan, ia melihat benda merah di atas kubangan lumpur. Setelah ia hampiri, ternyata itu bola anak gadisnya yang mengambang di atas lumpur. Betapa terkejutnya ia mendapati lubang jejak tubuh anaknya. Ia berteriak histeris hingga para tetangga menghampirinya.
“Tolooooooong” teriaknya dalam tangisan.
“Ada apa bi Rani” tanya tetangganya.
“Si Neng Ivi nyebur ke lumpur” jawabnya dengan histeris.
Seorang bapak-bapak yang merupakan tetangganya itu, menyelami kubangan lumpur itu. Ia meraba-raba dengan kaki dan tangannya. Satu menit kemudian, tubuhnya ditemukan. Si bapak itu menarik tubuhnya dan mengangkatnya pada permukaan.
Bi Rani, ibunya si gadis itu semakin histeris. Tangisnya pecah tak tertahankan. Ia menatap badan mungil yang dilumuti lumpur pekat. Tetangganya kemudian memandikan gadis itu, membersihkan badannya dari kotoran lumpur.
Setelah badannya bersih, para tetangga berusaha membangunkannya. Namun semua terlambat, wajah mungilnya sudah membiru menelan lumpur. Jemarinya tak bergerak dan detakan jantungnya sudah tak berirama.
“Iklas kan Bi Rani, si Neng Ivi sudah meninggal” ujar pak Husen yang menyelamatkannya.
Bi Rani semakin menjerit, ia tak siap menerima kenyataan harus kehilangan gadis kecilnya yang begitu menggemaskan. Hatinya begitu hancur, dan tak henti menyalahkan dirinya. Ia geram sama suaminya yang membuat pengolahan emas di pinggir rumahnya.
Ia menyesal dan merasa berdosa, lalai mengasuh gadis kecilnya. Perasaan kalut menyelimuti hatinya. Rasa tak iklas lekat dalam perasaannya.
Mendengar kabar itu, suaminya pulang dari tambang Emas, ia menangis sedu sedan tak menyalahkan istrinya. Andai waktu bisa di putar ia ingin mengulangi segalanya. Rasa sesal berkawan dalam hatinya. Sesal membuat tempat usaha yang menemel dengan rumahnya.
Kedua orangtua itu kemudian mengantarkan gadis kecilnya menuju rumah yang paling abadi. Mereka terisak tanpa henti. Rasa sesal dan sesak senada dalam hati mereka.
Ini adalah pelajaran berharga bagi keduanya. Dimana seorang anak perlu dijaga dengan pengawasan yang ketat. Terlebih rumah sejatinya tempat mengukir canda tawa, bukan sebuah tempat yang cocok dijadkan untuk usaha.
Sejak itu sepasang suami istri itu sering merenung, memyembunyikan rindu yang tak pernah terbalas oleh gadis kecilnya. Dan kubangan lumpur itu, sekarang di ratakan dengan tanah. -Sekian-












