“Nasib lebih rumit dibanding rumus fisika saat SMA, tidak sesuai kehendak dan rencana manusia, tidak terprediksi“. Rhein Fathia.
Tentang sebuah larik kehidupan yang bercumbu di atas mimpi, bagiku episode masa SMA mengukir samudera kenangan. Masa SMA tak melulu mengukir garis cerita yang manis. Sebagai anak sulung dari seorang PNS yang gajinya sisa potongan bank, tentu oranngtuaku mengajari untuk berprilaku hidup hemat. Barang-barang sederhana yang kumiliki adalah titipan terindah dari kedua orangtuaku.
Kemewahan hanyalah sebuah iklan dalam kehidupan, orang lain yang melihatnya hany terpana akan kilaunya. Tetapi mereka takan terpuaskan. Raihlah ilmu dengan kesederhanaan agar tercipta taman pengetahuan yang elegan, ilmu yang di raih dari jerih yang riap, akan menciptakan lengkungan kebermanfaatan untuk sesama manusia.
Suatu momen yang takan pernah terlupakan dalam labirin ingatanku adalah ketika berdiri tegak di podium lapangan dengan membawakan ‘speech delivering’, sebuah pidato Bahasa Inggris yang harus disampaikan oleh perwakilan petugas upacara sebelum upacara selesai. Itu adalah kali pertama aku berorasi di depan warga sekolah. Suaraku lantang membersamai lebarnya senyum sang mentari di pagi hari. Bagiku itu adalah momen yang menantang, dimana aku mampu berorasi di depan dewan guru dan seluruh siswa SMAN 1 Cipanas.
Tepuk meriah dari seluruh peserta upacara, semakin membangkitkan nilai kepercayaan diriku. Guru bahasa Inggrisku tertegun melihat keberanianku. Sorot sendu dari pojok kanan paling atas menatapku dengan iba dan bangga. Si pemilik sorot itu adalah sang kepala sekolah. Ada yang mengganggu pandangannya atas diriku, bukan suaraku yang lantang, atau penampilan yang tak elegan, melainkan sepatu bolong yang aku pakai ketika orasi di pagi itu.
Sepatu itu adalah pemberian pertama ketika masuk SMA. Ibuku membelinya dari kumpulan keringat selama ia mengajar di sekolah. Aku tahu betapa jerihnya ia, ketika harus mengajar ke sekolah. Perjalanan 2 km, harus ia tempuh dengan jalan kaki. Pergi dan pulang selama mengajar, ia tempuh dengan jalan kaki. Tak ada sepeda motor untuk dikendarai, karena gajinya tak cukup untuk membeli sepeda motor. Itulah sebabnya kenapa aku enggan mengganti sepatuku. Selama masih bisa dipakai, akan selalu ku gunakan sampai alasnya terlepas sendiri.
Hari itu setelah upacara selesai, kepala sekolah memanggilku untuk menghadapnya. Rasa gugup dan kaku berkawan jadi satu. Dengan rasa yang gemetar, aku beranikan diri untuk meraih handle pintu ruangan kepala sekolahku.
“Assalamualaikum, Pak!” Ujarku sedikit malu.
“Ayo silakan duduk!” balasnya dengan ramah.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanyaku pelan.
“Berapa nomor sepatumu?” jawabnya dengan sebuah pertanyaan.
“Nomor sepatu saya 38 Pak” balasku sambil menunduk.
“Besok Bapak bawakan sepatu baru ya! Dan Bapak akan sampaikan sama Pak Yayan agar kamu mengikuti exkul komputer”. Ujarnya dengan senyuman ramah.
“Terimakasih atas semuanya Pak” balasku dengan malu-malu.
Demikian percakapan itu dikemas pada beranda pagi. Hatiku begitu senang, orasi yang berbuah manis mengantarkan semangat yang menggebu. Itu adalah hadiah dari kebernian pertama. Sejak itu aku terus berusaha mengumpulkan keberanian untuk segala hal positif. Tak perlu malu akan kekurangan yang kita miliki. Kekurangan fisik atau harta adalah lecutan senjata untuk terus menggali potensi diri.








Luar biasaa…
Keren. Kayaknya bu May memang multi talenta nih..