
“Hutan ini adalah rumahku, warisan dari ayahnya ayahku dan akan menjadi warisanku kepada anakku yang diwariskannya lagi ke anaknya kelak.”
Kutipan itu diucapkan oleh Jaguar Paw. Ia adalah anak dari Flint Sky, seorang kepala suku dari suku Maya yang tinggal di pedalaman hutan hujan semenanjung Yucatan, Meksiko.
Kisah mereka merupakan rekaan dalam film berjudul “Apocalypto” (2006). Flint Sky berharap agar anaknya, Jaguar Paw, yang akan menggantikan dirinya kelak sebagai kepala suku tidak hanya mampu melindungi keluarganya sendiri, tapi juga seluruh anggota suku dan hutan yang merupakan rumah mereka.
Dalam kehidupan nyata, bagaimanakah harapan untuk menjaga hutan itu bisa terwujud pada saat bumi mengalami tekanan yang semakin hebat dan tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat? Adakah sebuah kearifan lokal yang mampu menghambat laju kerusakan itu?
Kita akan mengulik sebuah kearifan lokal dari desa Serdang, kecamatan Barusjahe, kabupaten Karo, Sumatera Utara terkait dengan pelestarian hutan dan segudang manfaat yang ada di dalamnya.
Sekilas tentang Hutan Badigulan di Desa Serdang

Serdang adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Barusjahe, kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Luas administratif desa Serdang adalah 7,38 km. Sejarah penamaan desa Serdang dikaitkan dengan letaknya yang berbatasan di sebelah timur dan sangat berdekatan dengan kabupaten Deli Serdang.
Letak desa ini sangat dekat dengan hutan, hanya berjarak sekitar 300 meter dari permukiman penduduk. Hal ini membuat interaksi masyarakat dan ketergantungannya juga sangat erat dengan hutan. Desa Serdang juga diapit oleh 4 deleng (gunung), yaitu deleng Badigulan, deleng Ganjang, deleng Lau Mbiring, dan deleng Lau Simbelin.
Hutan Badigulan memiliki mata air yang merupakan sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat desa Serdang dan desa lain di sekitarnya. Selain sebagai sumber air bersih, deleng Badigulan merupakan sumber pengambilan humus, bambu, serta tanaman obat.
Menurut Imran Barus, seorang teman masa kecil saya yang bertempat tinggal di desa Serdang, nama “Badigulan” sebenarnya berasal dari fenomena alam pada sumber air yang ada di tengah hutan kampung kami. Batu-batu yang ada di sepanjang aliran sungai yang airnya bersumber dari mata air ini tidak berlumut (badigulen).
Sekilas tentang Pulu Balang
Pulu Balang atau disebut juga dengan penjaga kuta (penjaga desa) merupakan roh nenek moyang yang berbentuk sebuah batu yang dikeramatkan oleh masyarakat desa Serdang. Dari pengakuan ibu saya, dulu pada masa kanak-kanak, seingatnya batu itu hanya berupa onggokan yang bentuknya tidak terlalu jelas, berukuran tidak terlau besar, berada di sekitar hutan di pintu masuk desa.
Hal itu ia saksikan saat bersama anak-anak lain seusianya berada di sekitar lokasi pulu balang yang dikeramatkan itu, pada suatu kesempatan ketika dilakukan pelaksanaan tradisi ercibal atau erpagar oleh masyarakat desa. Pada zaman dahulu tradisi itu dilakukan dengan maksud untuk meminta perlindungan, menolak bala atau gangguan-gangguan lainnya yang bisa mendatangkan keburukan bagi warga desa.
Pada upacara adat ercibal atau erpagar ini, warga desa memberikan persembahan kepada roh nenek moyang, berupa sirih, kapur, gambir, tembakau, cimpa dan garam yang dipercaya memiliki kekuatan. Ramuan sirih (belo penurungi, bahasa Karo) diracik di atas batu pulu balang, kemudian dibalurkan ke tubuh.
Kemudian setiap orang yang hadir diberikan tanda menggunakan ramuan sirih pada keningnya yang mirip dengan bindi pada masyarakat India. Bindi adalah tanda berupa lingkaran kecil berwarna merah maupun oranye, tersemat pada dahi, ditoreh di antara alis. Maksud dan tujunnya adalah sebagai lambang penolak bala, doa mengusir penyakit.
Tradisi ini biasanya dulu dilakukan saat pergantian musim. Di mana pada musim pancaroba marak orang dilanda virus influenza.
Akan tetapi, pada saat ini kegitan ercibal atau erpagar sudah tidak lagi atau jarang sekali dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena masyarakat setempat sudah memeluk agama dan juga karena pengaruh kemajuan zaman dan teknologi.
Pulu Balang dalam Bingkai Kesenian dan Kearifan Lokal pada Suku Karo
Kearifan lokal tentang pulu balang ini juga terekam dalam seni patung pada suku Karo. Patung-patung nenek moyang dianggap sebagai penyelamat sesuai dengan kepercayaan yang dipuja dan dihormati. Patung-patung itu berbentuk polos, sederhana, namun ungkapannya cukup memberikan kesan yang kuat (M. Saleh, 1980).

Gambar patung arwah nenek moyang suku Karo dari batu apung yang digelari patung Pulu Balang (Sumber: Seni Patung Batak dan Nias, M. Saleh, 1980)
Sikap patung dipahat dalam posisi duduk, kedua tangannya memeluk kedua lutut yang tegak. Pandangan mata tajam ke depan, sedang pangkal hidung dipahat menyatu dengan kening. Mulut dicukil sedikit terbuka sehingga gigi yang diukir rata kelihatan jelas.
Pada bagian bawah patung terdapat tujuh patung tengkorak manusia, dibuat sebagai penopang patung induk. Patung pulu balang yang terdapat di daerah Karo selain terbuat dari bahan batu ada juga dibuat dari bahan kayu dipahat sedemikian rupa dengan ungkapan yang kompleks.
Jenis patung ini umumnya diberi warna hitam sehingga memberi kesan magis terhadap ekspresi wajah yang menyeramkan. Namun, lebih dari pada itu ia juga memiliki nilai estetis terhadap perwatakan seni yang melingkupinya. Secara simbolik, warna hitam pada suku Karo melambangkan kemagisan penuh misterius.
Penghormatan dan pengeramatan pulu balang oleh warga desa dengan sendirinya turut menjaga kelestarian tempatnya berada di hutan desa Serdang dari berbagai gangguan manusia. Kearifan lokal dalam memahami dan mengkeramatkan pulu balang ini juga berkaitan erat dengan etika dan aturan berupa larangan untuk melakukan penebangan dalam kawasan hutan lindung, larangan menangkap ikan dengan mengunakan racun dan bom, dan larangan perburuan hewan yang dilindungi.
Ada pula tradisi penggunaan berbagai tanaman hutan sebagai tanaman obat oleh masyarakat desa Serdang yang telah berlangsung turun temurun.
Beberapa contoh jenis tanaman hutan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Serdang dan penjelasan manfaatnya merujuk kepada penjelasan dari www.media.neliti.com di antaranya: daun gagaten harimo (Vitis gracilis) dan daun lancing kerangen (Solanum verbacifolium) yang bisa dikunyah langsung dan airnya diminum yang berkhasiat sebagai obat sakit maag. Kemudian ada daun surat dibata (Macodes petola BI.) yang bisa dikeringkan, kemudian digiling dan ditambah garam lalu dimakan sebagai obat masuk angin.
Alam dan kebudayaan perlu dijaga kesinambungannya sebagai sebuah titipan bagi kita untuk diwariskan kelak kepada generasi selanjutnya.
Teopilus Tarigan untuk Inspirasiana





mantap jiwa bang Teo dan Inspirasiana, semangat….
Indonesia sangat kaya budaya, sangat unik “Pulu Balang” penjaga desa…Terima kasih, Pak Theo