Puisi Daeng Melfariza

Puisi207 Dilihat

Panggung kehidupan

Siang dan malam laksana seorang atlet yang berlari estafet
Teratur dan terus berputar tanpa lelah
Meski bumi semakin tua
Setiap saat ia laksana ibu yang sedang hamil, mual, muntah, marah, menangis, bahkan terkadang pendarahan.

Para pemuja kehidupan semakin terbuai akan perlombaan
Dimana Tuhan sudah bukan Tujuan utama
Kematian sepertinya tidak begitu diprioritaskan laksana hidup tak akan pernah berakhir
Pedoman hidup dari DIA laksana mutiara dalam samudra
Berlaku bagi mereka yang telah membinasakan nafsunya

Kesedihan sepertinya berlaku bagi mereka yang papa
Sedang tawa milik mereka yang kuasa akan tahta dan kaya
Para saudagar laksana sang raja memberi titah pada siapa yang ia suka
Hati laksana topeng yang berwarna siap dimainkan dalam peran apa saja
Sepertinya mereka musuh manusia yang nyata sedang panen masa untuk mengukuhkan sebuah sumpah pada Adam dan Hawa

Ah inilah cerita anak manusia
Mencatat sejarah untuk mereka penerjemah kehidupan itupun bagi yang Sudi membaca
Entah dimulai dari siapa
Coretan tinta yang berarti sederhana saja
Belajar dari peristiwa
Mengambil hikmah dari para pelaku sejarah
Mengantipasi diri dari hubbuddunnia penuh cela, dusta dan tipu daya.

Jakarta, 24 Januari 2022

Tinggalkan Balasan