10. #KMAB, GURU NEGERI SERUMPUN BERPANTUN

KMAB, Literasi, Pantun1509 Dilihat

Ambillah air dalam perigi,

Air ditimba terasa hangat,

Alangkah riuh di Sabtu pagi,

Berbalas pantun slalu semangat.

 

Pagi sabtu masihlah redup,

Hanya membeli lada dan selasih,

Sungguh lihai puan menjalani hidup,

Sampai ke dapur menjamu kasih.

 

Burung bangau di tepi rawa,

Hinggap di pohon patahlah kayu,

Saya asli dari Jawa,

Ingin belajar pantun Melayu.

 

Cantik berseri puteri bestari,

Sopan santun gaya menarik,

Seandainya diri masih sendiri,

Lepas pantun pasti dirisik.

 

Kalau Tuan pergi ke Penyengat,

Singgah ziarah ke makam puteri,

Berbalas pantun penuh semangat,

Dari malam hinggakan pagi.

 

Tampak berbalam pekan Bidur,

Di situ tempat berjual kuini,

Tadi malam saya tak tidur,

Hanya sempat di pagi ini.

 

Pergi ke Kuala Lumpur naik kapal,

Pergi ke sana membeli kain,

Menyesal rasanya baru kenal,

Kalau dari dulu tentunya lain.

 

Kain renda di atas peti,

Menjadi hadiah halus tenunan,

Canda kekanda mengusik hati,

Moga Allah sudi perkenan.

 

Besi kersani kerisnya panjang,

Hulunya perak simpan di peti,

Sahabat di sini adakah yang bujang?,

Mungkin tergerak mengetuk hati.

 

Pedas sambal gadis nyonya,

Garam gula digaul sebati,

Usah dikesal apa adanya,

Kerana bahagia ada di hati.

 

Kerongsang suasa menghias renda,

Tampak indah kebaya terserlah,

Malu terasa di hati dinda,

Biarlah jodoh aturan Allah.

 

Pedas sambal si anak perempuan,

Sambal semerbak seharum melati,

Sungguh lembut jawaban puan,

Terasa sejuk ke dalam hati.

 

Di atas awan ada merpati,

Hembusan ombak tinggalkan bui,

Kakanda dan adinda rekatkan hati,

Semua peserta pasti merestui.

 

Belayar aduka ke tengah segara,

Teriknya sirna pancaran mentari,

Sepi seketika  berbalas bicara,

Hilang ke mana rindu kucari.

 

Baju kurung penyeri adat,

Dipakai puteri istana lama,

Perintah berkurung diisi padat,

Persiap diri berpantun bersama.

Tinggalkan Balasan