
Kalau boleh ke kampung cina,
Beli lada dan juga talas,
Kalau boleh saya bertanya,
Pantun apa nak kita bahas.
Di kampung cina rumah pak Wahab,
Boleh lah kita menumpang rehat,
Tuan bertanya kami menjawab,
Boleh lah kita bepantun nasehat.
Selama awak kail cecaru,
Daun dedap alas selangat,
Selama awak menjadi guru,
Apa yang sedap apa yang nikmat?
Pohon cendana pohon gaharu,
Ditanam bersama pohon bidara,
Selama saya jadi guru,
Murid berhasil hati gembira.
Bila saya kail cencaru,
Dapat juga si ikan selangat,
Selama saya menjadi guru,
Semua sedap semua nikmat.
Tumbuh kecil pohon bidara,
Tumbuh bakal si pohon jati,
Bila berhasil guru gembira,
Bila nakal apa nak jadi.
Kayu berukir darilah Jepara,
Pasang di pintu sbagai hiasan,
Bila berhasil hati gembira,
Bila nakal kita doakan.
Kalau sudah semua selangat,
Ikan bawal bawa ke labuh,
Kalau sudah semua nikmat,
Budak nakal awak tak ngeluh.
Memang kecil pohon bidara,
Tumbuh berbaris ibarat pagar,
Murid berhasil guru gembira,
Murid nakal guru bersabar.
Bile berburu ke hutan atas,
Bawa sebilah pusau belati,
Mungkin guru sabar berbatas,
Kalau salah apa nak jadi.
Ikan bawal bawa ke labuh,
Ikan di bawa untuk di jual,
Murid nakal jangan mengeluh,
Anggap saja ladang beramal.
Cosmetik wangi cosmetik wardah,
Dibuat orang di pulau Jawa,
Kalau kita rajin ibadah,
Tentu bisa tenangkan jiwa.
Daun pandan nampaknya lebat,
Daun jati di seberang hulu,
Ibadah badan sudah dibuat,
Ibadah hati siapa yang tahu.
Orang ke kedah kita ke kedah,
Sampai di sana di waktu pagi,
Berdoa sudah ikhtiar sudah,
Memang nasib tidak menjadi.
Kalau jiran di tepi pintu,
Daun pandan bawa di tempat,
Kalau pikiran sudah begitu,
Alamat badan akan selamat.
Bila awak ke hutan atas,
Hutan atas semak belukar,
Bila kesabaran memang terbatas,
Tambahlah iya dengan istighfar.














