PJJ = LIBUR

PJJ SAMA DENGAN LIBUR

Pagi ini saya absen di Madrasah, beberapa jam pelajaran kemudian, saya dinas luar mengumpulkan beberapa berkas ke Kabupaten, di tengah jalan saya menemukan beberapa anak yang bermain di pematang sawah pada jam pelajaran.

Saya menghampiri mereka dan bertanya ”lo kok nggak sekolah?”

“Libur Pak” dengan enteng salah satu anak menjawab.

“Bukanya sekarang kamu daring?”

“Ya Pak, paling diberi tugas, dan kami bisa kerjakan waktu malam, itupun nanti yang mengerjakan juga mamak”

“Kok bisa gitu?” tanya saya

“Kan nggak pernah diterangkan, jadi ya saya nggak bisa mengerjakan”

Dialog ringan ini mengingatkan beberapa rekan guru yang selama melakukan kegiatan daring, hanya memberikan tugas perintah membaca dan mengerjakan, tanpa sedikitpun menerangkan materi yang dipelajari, dengan alasan keterbatasan sarana prasarana termasuk ketersediaan paket data.

Akibatnya, banyak siswa merasa jenuh yang apabila dibiarkan berkelanjutan, akan memunculkan rasa ketidak percayaan siswa kepada guru, yang tergambar dari banyaknya siswa meninggalkan kegiatan belajar mengajar daring, tidak mengerjakan tugas, ada pula yang kadang hadir diawal sekedar absen, setelah itu entah pergi kemana.

Kekhawatiran muncul, manakala terdapat guru yang kurang atau bahkan tidak mempunyai kepedulian terhadap pelaksanaan PJJ, tanpa sedikitpun berusaha agar transformasi keilmuan bisa diterima tepat sasaran pada siswa, apalagi memotret tantangan siswa yang berasal dari latar belakang berbeda, baik dari strata pendidikan maupun ekonominya.

Lebih parah lagi, terdapat guru beranggapan sama dengan siswa, bahwa PJJ diartikan libur panjang, yang waktu luangnya diisi dengan mencari kerja sampingan baru sebagai tenaga private, pengusaha online dadakan, tukang ojek, kuli bangunan atau bahkan menjadi tenaga pembajak sawah.

Pandemi covid 2019 memang telah mengubah semua sendi kehidupan, termasuk mengubah pola pendidikan dengan menjauhkan guru dan siswa, sehingga memaksa guru lebih berinovasi agar pesan mampu tersampaikan, baik melalui trasformasi keilmuan maupun pesan moral yang harus tetap berjalan.

Tidak menutup kemungkinan, manakala tren Pembelajaran Jarak Jauh saat ini akan berkelanjutan sampai pandemi dianggap pulih; oleh karena itulah, kesiapan guru yang tetap menekuni profesi ini benar-benar dipertaruhkan, dengan tetap semangat belajar, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, atau akan pelan-pelan tergerus zaman.

Guru, sampai kapanpun tetap dibutuhkan sebagai garda terdepan penanaman nilai generasi masa depan bangsa, walau dipenuhi keterbatasan yang kadang seolah mustahil untuk dipecahkan, tapi disitulah seninya guru yang harus selalu siap menghadapi tantangan zaman, tanpa itu, mustahil generasi bangsa akan mampu menghadapi perubahan.

 

KMAA – 3

Bojonegoro, 24 Agustus 2021

Moch. Syaechu Nasirudin.

Tinggalkan Balasan