Menulis Semudah Berbicara

Terbaru1053 Dilihat

Menulis itu mudah, semudah berbicara. Demikian para penulis profesional sering mengatakan. Jika dicermati ada benarnya. Tetapi begitu didalami, apalagi dijalani maka barulah kita mengerti bahwa itu hanya sebuah makna konotatif.

Menulis dalam arti harfiah mungkin memang mudah. Dalam hal ini menulis dimaknai hanya sekedar mengubah bunyi ke dalam simbol atau huruf. Menulis belum terikat oleh aturan menulis. Sehingga hasil tulisan benar-benar mirip dengan bahasa lisan.

Tapi benarkah menulis semudah berbicara? belum tentu. Bagaimanapun berbicara dan menulis adalah dua hal yang berbeda. Jika berbicara memerlukan pendengar atau audiens yang baik, maka menulis memerlukan pembaca yang baik. Faktanya pendengar yang baik belum tentu adalah pembaca yang baik atau sebaliknya. Demikian pula pembicara yang baik belum tentu penulis yang baik atau sebaliknya.

Satu pesan yang sama disampaikan dengan cara berbeda yaitu lisan (berbicara) dan tulisan, belum tentu akan sampai kepada penerima pesan dengan makna yang sama. Contoh pesan lisan sebagai berikut “Mohammad Sobri adalah pelari cepat Indonesia di ajang olimpiade Tokyo tahun 2021 menduduki peringkat 40”. Pesan ini menyatakan bahwa Mohammad Sobri peringkat 40 di ajang olimpiade Tokyo.

Tetapi jika pesan tersebut disampaikan secara tertulis seperti ini ” Mohammad Sobri adalah pelari cepat. (titik) Indonesia di ajang olimpiade Tokyo tahun 2021 menduduki peringkat 40″, maka maknanya Indonesia peringkat 40 di ajang olimpiade. Dalam hal ini terjadi perubahan makna yang disebabkan jedah atau titik pada akhir kata cepat. Hal ini menunjukkan banyak hal yang membuat bahasan tulisan berubah makna salah satunya tanda baca.

Dalam sebuah percakapan lisan atau berbicara, jika seseorang merasa kurang yakin pesan yang disampaikan kurang dimengerti oleh pendengarnya, maka pembicara dapat langsung memperbaiki ujarannya. Jika perlu, ia bisa mempertegasnya dengan unsur-unsur dari luar bahasa, seperti tekanan suara, tempo, mimik atau bahasa tubuh.

Tetapi, lain halnya dengan bahasa tulisan. Tulisan yang disampaikan kepada pembaca harus mampu mewakili kehadiran penulis. Penulis harus percaya pada teks yang ia tulis, bahwa makna tulisannya akan sampai kepada pembaca persis seperti yang ia maksudkan. Sebab jika terjadi bias atau perubahan makna, maka penulis tidak dapat segera memperbaikinya.

Disinilah perlunya membuat tulisan yang baik. Tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat menyampaikan pesan secara efektif sekaligus nyaman dibaca. Untuk menghasilkan tulisan yang demikian setidaknya penulis harus mampu memanfaatkan tanda baca, diksi yang tepat, dan unsur-unsur gramatikal lainnya.

Penulis juga harus mengerti hukum atau kaidah ragam bahasa tulis dengan baik. Bahkan pada tataran paling bawah, pelafalan, seperti, musykil ditata dengan sebuah kaidah. Pendek kata, untuk menghasilkan tulisan yang bermutu, maka penulis harus memiliki ilmu menulis.

Sampai disini kita menjadi paham bahwa menulis tidaklah semudah berbicara. Menulis membutuhkan ilmu menulis. Hanya dengan menerapkan ilmu menulis secara tepat, kita dapat menghasilkan sebuah tulisan yang bermutu. Menulis memang sebuah keterampilan, tetapi keterampilan yang dilakukan tanpa ilmu menulis tidak akan memberikan hasil yang optimal.

Dengan demikian, menulis itu mudah semudah berbicara akan terjadi pada dua kondisi. Pertama, menulis tanpa memperhatikan kaidah menulis. Pokoknya yang penting menulis. Perkara tulisan itu sesuai atau tidak dengan kaidah menulis, itu perkara nanti. Kedua, menulis yang terus dilatih sambil tetap belajar menerapkan berbagai ilmu menulis.

Cara pertama mungkin akan meningkatkan keterampilan menulis, tetapi bisa jadi tidak efektif untuk menghasilkan tulisan benar-benar bermutu. Cara kedua mungkin akan lebih efektif meningkatkan keterampilan menulis sekaligus menghasilkan tulisan yang bermutu. Oleh karena itu, menulis dengan mendalami ilmu menulis adalah keharusan, terutama bagi penulis pemula.

Tinggalkan Balasan

5 komentar