KABAR MAUT
Oleh: Nanang M. Safa’

Pagi-pagi saya mendapat kiriman kabar dari salah satu WAG tempat saya bergabung. Kabar yang disertai beberapa gambar (foto) itu membuat diri saya benar-benar merasa ngeri. Seorang perempuan muda tergeletak bersimbah darah. Kepalanya remuk (kalau tidak boleh dibilang pecah). Jenazah perempuan muda itu masih dibiarkan tergeletak di tengah jalan. Ada beberapa orang (dalam foto itu) yang berhenti, tentu untuk melihat keadaan perempuan muda korban lakalantas tersebut.
“Astagfirullah…” sebut saya entah untuk yang keberapa kali.
Kejadian kecelakaan mengenaskan itu memang terjadi di lain kecamatan tempat saya bermukim. Kampak, nama kecamatannya.
Pagi-pagi, setiba di tempat saya mengabdi, saya mencoba menggali informasi ke beberapa kawan. Benar, wanita muda itu mengalami kecelakaan di jalur utama Kampak. Perempuan beranak dua dengan paras cantik dan kulit bersihnya, memang masih kelihatan muda. Bahkan dugaan awal saya ketika menerima share berita itu, dia masih single. Namun ternyata dia sudah berumah tangga.
Menurut informasi yang saya terima, perempuan itu bermaksud mendahului sebuah truk, namun karena terlalu mepet dengan bak truk, stangnya nyenggol bak truk. Spontan motornya jatuh ke arah kanan. Kebetulan juga dari arah berlawanan sedang melaju kendaraan lain. Tanpa ba-bi-bu langsung saja motor beserta pengendaranya jadi santapan kendaraan tersebut. (informasi ini masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut ke saksi mata yang melihat langsung kejadian lakalantas itu).
“Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun – Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali pada-Nya jua”
****

Malam ini setelah berbuka puasa, saya dengar isteri saya menerima telephon. Tidak biasanya jam-jam segitu ada panggilan masuk. Pasti ada hal yang sangat penting. Terus terang saja saya sempat punya kekhawatiran tentang mertua saya (bapak dari isteri saya). Maklum, beberapa hari lalu mertua laki-laki saya tersebut sempat opname sehari semalam di Nur Medika. Beliau tidak mau makan dan akhirnya lemas dan harus dilarikan ke rumah sakit agar bisa diberi asupan nutrisi lewat infus.
Untuk sekedar diketahui saja, mertua saya itu menurut kakak ipar saya lahir tahun 1935. Jika dihitung berarti usianya di tahun 2021 ini sudah 86 tahun. Sudah cukup senja. Namun yang membuat saya sendiri cukup takjub adalah di usianya yang sudah setua itu, mertua saya masih cukup gesit. Cuma seminggu terakhir ini memang kondisinya kurang menggembirakan.
Itulah yang membuat perasaan saya tidak enak tentang telephon yang diterima isteri saya malam ini.
Saya mendekat ke isteri saya. Dan memang benar, suara itu mengabarkan berita kematian. Suara di seberang ternyata adalah suara kakak saya yang terdengar jelas sambil sesenggukan menahan tangis. Perasaan saya menjadi semakin tak karuan. Bercampur aduk antara penasaran dan kedukaan. Lagi-lagi berita kematian. Siapa gerangan yang meninggal malam ini. Namun yang pasti bukan mertua saya.
Setelah menyimak beberapa detik percakapan antara kakak saya di seberang dengan isteri saya, barulah bisa saya tangkap tentang berita kematian itu. Seorang kawan guru di madrasah kami (MTsN 4 Trenggalek) meninggal dalam perjalanan ke Puskesmas. Namanya Diah Ayu Ekowati atau akrab dipanggil Bu Diah. Informasinya rekan guru ini menderita gangguan lambung.
Benar-benar berita yang tidak saya sangka-sangka.
Saya buka WAG madrasah. Ternyata sudah berderet ucapan belasungkawa dan do’a untuk kepergian Bu Diah.
“Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun,” ucap saya lirih.
“Semoga almarhumah husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan dilimpahi keikhlasan dan kesabaran. Aamiin” tulis saya di deretan berikutnya.
Rekan guru ini terbilang masih sangat muda. Usianya jauh di bawah saya. Tak lebih 36 tahun. Dua hari lalu kami masih sempat ngobrol bersama kawan-kawan lain di ruang guru. Memang beberapa hari terakhir, dia kelihatan lesu dan tidak bersemangat. Namun berita kematian yang mendadak ini tetap saja membuat kami, para rekan guru benar-benar kaget. Siapa sangka dia yang masih sangat muda dan energik tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia.
***

Dua berita kematian dalam kemasan berbeda yang saya terima hari ini sungguh mengejutkan. Ternyata memang benar adanya. Maut tak pernah bisa disangka kapan datangnya. Dan ketika maut itu datang maka tak ada seorangpun yang bisa menghindarinya. Tak perduli muda apalagi tua. Tak perduli siapa harus siap memenuhi panggilanNya. Maut akan datang melalui taqdirnya sendiri, bukan sesuai dengan keinginan kita.
Orang yang mestinya menurut hitung-hitungan matematis lebih dulu meninggal karena memang lebih banyak usianya (uzur) ternyata belum juga meninggal. Bahkan ketika dia sendiri sudah merasa bosan menjalani kehidupan. Sementara orang yang masih belia dan mestinya masih produktif ternyata sudah mendahului. Orang yang menurut perkiraan medis mestinya lebih dahulu meninggal karena penyakit kronis yang dideritanya ternyata malah bisa hidup bertahun-tahun. Sementara orang yang kelihatan sehat dan baik-baik saja tiba-tiba saja mati.
Itulah kematian yang akan tetap menjadi rahasia Sang Pemberi Hidup.
Allah SWT telah memaklumatkan dalam beberapa firman-Nya, “Tiap-tiap yang bernafas pasti akan mati” (Q.S. Ali Imran: 185). “Maka jika telah tiba waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan tidak juga mendahulukannya sedetikpun” (Q.S. An Nahl: 61).
Berita kematian sudah semestinya menjadi pelajaran berharga bagi diri kita bahwa sesungguhnya kita ini hanyalah makhluk lemah dan tidak berdaya. Bahwa sesungguhnya maut selalu mengintai kita. Maka bersiap-siap menghadapi kematian tentu tidak bisa dilakukan secara spontan. Kesempatan yang ada harus dimaksimalkan untuk menghadapi kematian. Kapanpun dan di manapun selagi ada kesempatan berbuat baik, maka marilah berbuat baik. Jangan menunggu nanti. Ada banyak cara untuk berbuat baik. Ada banyak cara untuk melakukan hal yang bermanfaat. Dan sebaliknya, marilah sedapat mungkin kita hindari hal-hal yang memungkinkan kita terseret pada dosa dan kemaksiyatan. Ikhtiar inilah yang harus selalu kita lakukan dengan harapan kita bisa husnul khatimah. Mati dalam dekapan iman, bukan mati dalam dekapan syetan. Semoga….
***












