
Kunci yang Tertinggal
Kunci yang tertinggal itu ternyata kunci milik sahabat saya dari Depok, Mba Emy. Seperti biasa, selalu ada yang tertinggal jika bepergian kemana saja. Bukan karena kebiasaan namun memori lansia sedikit demi sedikit berkurang. Hal ini dapat terjadi pada siapa saja karena terlalu banyak persoalan yang disimpan di memori dan banyak hal yang belum terselesaikan.
Lupa, dapat diatasi ketika kita fokus kepada satu persoalan dan segera menyelesaikannya. Faktanya sulit karena kita merasa sanggup menyelesaikan apa saja di waktu yang hampir bersamaan. Atau karena memang kita tipikal orang yang mudah terkena distraction (gangguan).
Dua hari setelah Mba Emy dan saya kembali ke Jakarta, info seombyok kunci dengan botol kecil tetes mata dan kaca kecil hadir di whatsapp group “Wonderful Malang”.
Kunci itu tertinggal di mobil putrinya Mba Muji. Peristiwanya terjadi begitu saja—tanpa drama besar, tapi cukup membuat pagi ikut seombyok berpadu dengan kisah lain dari whatsapp group lain .
Di tengah kabar duka dan obrolan kopi Sekanak, tiba-tiba muncul cerita tentang kunci yang “memilih tinggal” di dalam mobil. Kunci itu ikut liburan, terkunci rapi bersama pintu mobil, sementara pemiliknya hanya bisa menarik napas panjang dan tertawa pasrah. Beginilah hidup: di saat hati sedang sendu, semesta tetap menyelipkan kisah kecil agar kita tak tenggelam sepenuhnya dalam kesedihan.
Untungnya, ini Malang—kota dengan udara dingin dan hati hangat.
Ada sahabat, ada gotong royong, ada tawa yang menyelamatkan suasana. Kunci memang tertinggal, tapi kebersamaan tetap hadir.
Seombyok kunci, kaca kecil dan botol kecil tetes mata yang dibawa Mba Emy bukan tanpa alasan. Pertama, Ia selalu membawa kunci rumah cadangan, supaya anggota keluarga tak perlu saling menunggu jika salah satu sedang tidak berada di rumah. Praktis, katanya—pengalaman hidup memang guru terbaik.
Cermin kecil ia gunakan untuk tambah lipstik agar tampak segar dan rapi ketika bepergian. Tetap cantik walau sudah lansia. Dan sebotol kecil tetes mata—penolong setia ketika mata mulai pedih dan terasa lelah.
“Biar tetap jelas kalau lihat duit atau cowok ganteng,” candanya.
Canda khas lansia, jujur, polos, dan bikin kami semua tergelak.
WhatsApp group pun mendadak riuh. Tawa kami tak bersuara, tapi berderet rapi dalam bentuk emoji.
Begitulah kami—para sahabat lama—menertawakan hal kecil, menghangatkan pagi yang sempat sendu.
Pagi ini pun lengkap. Ada kabar wafat yang mengingatkan kami pada pulang, ada kopi yang menghangatkan persaudaraan, dan ada kunci tertinggal yang mengajarkan:
hidup tak pernah satu rasa saja.
Dan kami—para purna, para sahabat lama—tetap saling menyapa, meski hanya lewat layar kecil bernama WhatsApp.
Di antara duka, kopi, dan kunci yang tertinggal, ternyata tawa tetap menemukan jalannya sendiri.
Jonggol, 17 Januari 2026
Nani Kusmiyati
Dosen, Penulis












