WhatsApp Pagi: Duka, Persahabatan, dan Kopi Sekanak

Cerita Pagi

Terbaru71 Dilihat

Pagi ini sunyi tapi ramai.

Sunyi di hati, ramai di WhatsApp group.

Paguyuban Kowal, Women Navy, dan Wonderful Malang saling bersahutan—dari kabar duka, permintaan kopi Sekanak, sampai cerita seombyok  kunci yang tertinggal di mobil milik putri salah satu sahabat di Malang.

Dari grup Paguyuban Kowal, kabar sedih itu datang.

Senior kami, Ibu Sasi, telah berpulang. Beliau sempat hadir pada anniversary HUT PPAL Kowal ke-8. Umur memang tak pernah kita tahu—semuanya milik Allah SWT. Pangkat tak lagi kami sebut, karena kami semua telah purna, namun rasa hormat kepada senior tetap utuh.

Saya teringat, tanpa sengaja melihat beliau berfoto dengan teman seangkatannya. Suami tercinta Ibu Sasi berdiri di balik kamera, menjadi fotografer—momen sederhana, penuh makna.

Usai dua hari acara di AAL, beliau jatuh sakit dan dirawat di RS Angkatan Laut Surabaya. Saya tak mengikuti detailnya karena sudah kembali ke Jakarta. Hingga akhirnya, kabar sakit dan wafat itu pun saya terima dari grup WhatsApp.

Pagi yang sama, bertepatan dengan libur Isra Mi’raj—hari yang seharusnya mengingatkan kita pada perjalanan ruhani—justru menghadirkan pengingat tentang kefanaan.

Di grup Women Navy, nuansanya berbeda.

Ada canda ringan dan antusiasme tentang kopi Sekanak kiriman sahabat kami dari Tanjung Pinang. Namanya Mba Wilis—begitu kami memanggilnya. Sahabat seperjuangan sejak basic training di Bumimoro, Surabaya. Kenangan puluhan tahun lalu kembali menyapa: Cabawan Milsuk V, 1986/1987.

Usia kami kini lansia dan menjelang lansia, tapi komunikasi tetap hangat—via WhatsApp group.

Kopi itu dikirim ke Mba Joe di Malang, dengan harapan bisa dibagikan kepada teman-teman di Surabaya yang hadir di HUT PPAL Kowal ke-8. Alhamdulillah, kami satu batch yang hadir kebagian. Yang tidak hadir pun mulai membuat daftar permintaan.

Jujur, saya merasa kasihan.

Mba Wilis—yang juga sudah purna—harus mengeluarkan dana untuk membeli dan mengirim kopi ke berbagai alamat, termasuk Jakarta. Namun begitulah beliau: tulus ingin berbagi. Mungkin baginya, kopi hanyalah medium; yang dibagikan adalah rasa persaudaraan.q

Begitulah pagi ini.

Ada duka, ada tawa kecil, ada kenangan, ada kopi—semuanya berbaur dalam satu cerita.

Cerita tentang kunci yang tertinggal?

To be continued ☕

Nani

Penulis

Tinggalkan Balasan

2 komentar