
MENGENAL PUISI LAMA DAN BARU
Resume ke-17 KBMN-28
Tanggal : 15 Februari 2023
Tema : Menulis Puisi
Narasumber : Dr. Hj. E. Hasanah, M. Pd.
Moderator : Sim Chung Wei, SP.
Malam ini narasumber pada topik Menulis Puisi disampaikan oleh Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. dengan moderator bapak Sim Chung Wei, SP., yang populer disebut Koko Sim.
Berikut profil narasumber yang dapat dibaca dari link berikut:
https://hasanahhalima.blogspot.com/2023/02/profil-e-hasanah.html
Ibu Dr. Hj. E. Hasanah, dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 10 Agustus 1967 dan memiliki tiga orang anak yang sudah berhasil seperti ibundanya dibidang yang berbeda-beda. Riwayat pendidikan Ibu Hasanah, beliau berhasil menyelesaikan Pascasarjana Ilmu Pendidikan (S3) di UNINUS Bandung (lulus tahun 2022).
Riwayat Pekerjaan: Berkiprah di dunia Pendidikan sebagai guru di MAN Cibadak (1994-2015), dan beberapa lembaga pendidikan swasta (1990-2017), Pendiri Yayasan Pendidikan Halima Al-Azar (Kursus, Kober, dan TK Halima Bojonggenteng, 2002 – sekarang) dan sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kankemenag Sukabumi (2015 – sekarang) serta staf Pengajar di STAI Kharisma Cicurug.
Prestasi yang telah diraih dibidang literasi, diantaranya, pada Tahun 2021 hingga sekarang telah menulis buku solo dan menulis pantun, puisi, cerita, dan non-fiksi di lebih dari 70 buku antologi, diantaranya; “Tantangan Pendidikan Abad ke-21_Antologi Artikel Dunia Pendidikan Indonesia di Era Digital; Menggerakkan Literasi Mencerdaskan Generasi_Antologi Pegiat Literasi Berbagi dan Beraksi; Inspirasi dalam Untaian Puisi,” dan lainnya.
Buku solo yang sudah terbit berjudul Buku Panduan Guru Penulis Pemula (ISBN 978-623-378-050-6, terbit September 2021) dan buku solo yang berjudul Selaksa Suara Sukma (ISBN 978 623 378 538 9 terbit 2023),
Organisasi yang diikuti sekarang: Anggota Pokjawas Madrasah (Kelompok Kerja Pengawas Madrasah), Anggota APSI (Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia), Anggota PERGUNU, Anggota KPPJB (Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat), dan Anggota Muslimat NU.
Sebelum mengetahui pelajaran dari ibu Hasanah, saya akan membagikan pengalaman saya, saat proses pertama mengenal puisi. Berharap ilmu yang saya dapat sebelumnya dapat melengkapi penjelasan dari ibu Hasanah.
Ketika pertama kali saya mengenal Puisi, saat saya duduk di bangku SMA, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat itu saya tidak mengerti puisi secara mendalam walau sempat membaca teori tentang puisi melalui pelajaran bahasa Indonesia. Bisa bermenit-menit untuk membuat puisi dan akhirnya putus asa tidak menghasilkan satu puisipun. Anehnya ketika saya diminta membaca puisi, penonton yang kala itu teman-teman se SMA mengatakan bahwa saya membawakannya dengan sepenuh hati dan saya pernah menjadi juara dua baca puisi di SMA.
Di tahun 2022 saya pernah mengikuti kelas puisi di WCS (Writer Class School). Ternyata banyak sekali jenis-jenis puisi. Sebelum saya menyajikan resume dari narasumber malam ini saya ingin melengkapinya dengan pengetahuan yang saya dapat dari WCS.
Sebelum kepada detail tentang puisi maka perlu mengetahui istilah yang digunakan dalam puisi (materi ibu Hasanah), yaitu:
- Struktur Fisik Puisi : Berbentuk baris/bait
- Diksi : pemilihan kata indah dan memiliki kekuatan makna
- Majas : Bahasa kias untuk mengungkapkan isi hati penyair
- Rima : persamaan bunyi di baris atau di akhir baris untuk memunculkan keindahan bunyi.
Berikut tentang serba serbi puisi menurut WCS:
Puisi adalah bentuk ekspresi diri yang menggambarkan keresahan, kritik, pemikiran, pengalaman, atau nasehat seseorang. Karya puisi mengandung nilai estetika. Orang yang membuat puisi disebut dengan penyair puisi.
Ciri-Ciri Puisi menurut WCS:
- Puisi memiliki rima atau sajak yang teratur.
- Puisi pencapaian konotatif. Konotatif adalah makna yang bersifat khusus. Puisi tersebut pada setiap kata mempunyai makna yang bersifat khusus.
- Puisi bersifat simetris, kata – kata yang di susun rapi menjadi 4 bait.
Jenis-Jenis Puisi :
1. Puisi Lama
Menurut WCS, puisi lama sudah muncul sejak zaman dahulu dan sering digunakan dalam upacara upacara adat. Puisi lama adalah puisi yang memiliki aturan-aturan dan mempunyai makna.
Menurut ibu Hasah, puisi lama terikat pada aturan-aturan tentang jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait, persajakan/rima dan banyaknya suku kata dalam tiap baris.
Ciri-ciri Puisi lama menurut ibu Hasanah :
1) Tidak diketahui nama penulis atau pengarangnya
2) Merupakan sastra lisan karena disampaikan dari mulut ke mulut
3) Begitu terikat aturan. Misalnya jumlah kata dalam tiap baris.
Jenis-jenis Puisi Lama menurut ibu Hasanah:
1) Mantera, Ucapan-ucapan yang memiliki kekuatan gaib
2) Pantun, adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b
3) Seloka, pantun yang berkait atau bertautan
4) Talibun, yaitu pantun genap yang setiap barisnya terdiri dari 6, 8 atau 10 baris.
Jenis-jenis Puisi Lama menurut WCS:
1) Mantra
Mantra adalah salah satu jenis puisi lama yang ciri khasnya terdiri dari ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Biasanya Mantra ini dipakai dalam acara tertentu. Contohnya mantra yang dirapalkan untuk menolak turunnya hujan atau sebaliknya. Mantra dipercaya memiliki kekuatan magis untuk keperluan ritual atau pengobatan.
Contoh mantra:
Assalamualaikum putri satulung bersar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
2) Pantun
Pantun adalah jenis puisi lama yang masih populer sampai saat ini. Ciri-ciri pantun adalah bersajak a-b-a-b, terdiri dari 4 baris, 2 baris awal adalah sampiran dan 2 baris akhir adalah isi pantun.
Beberapa jenis-jenis pantun misalnya pantun nasehat, pantun teka-teki, pantun anak-anak, pantun agama, pantun jenaka, dan sebagainya.
Contoh Pantun:
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
3) Karmina
Karmina merupakan jenis puisi lama yang hampir sama seperti pantun, tapi lebih pendek. Karmina terdiri dari 2 baris saja, baris pertama adalah sampiran, baris kedua adalah isinya.
Karmina juga merupakan salah satu prosa dimana bentuknya lebih pendek dari pantun. Saking pendeknya, biasa juga disebut dengan pantun kilat.
Contoh Karmina:
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)
4) Seloka
Seloka adalah jenis puisi lama berupa pantun yang saling berkaitan. Seloka/pantun berkait berasal dari Melayu klasik yang berisi pepatah. Umumnya ditulis sebanyak 2 baris, 4 baris atau bahkan sampai 6 baris.
Contoh Seloka:
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati ‘tak ‘kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
5) Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari 2 baris dengan sajak a-a-a-a yang berima sama. Umumnya isi gurindam berisi tentang nasehata, amat, atau cerita-cerita.
Contoh Gurindam:
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
6) Syair
Syair adalah salah satu jenis-jenis puisi lama yang terdiri dari 4 baris dengan sajak a-a-a-a. Syair termasuk kategori puisi bebas yang masih sering ditulis sampai saat ini, sebagai wujud ekspresi penyair. Syair biasanya menceritakan sebuah kisah dan di dalamnya terkandung amanat yang ingin disampaikan penyairnya.
Contoh Syair:
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
7) Talibun
Talibun merupakan jenis pantun genap yang umumnya terdiri dari 6 baris, 8 baris atau bahkan 10 baris sekalipun. Asalkan jumlah barisnya lebih dari 4 baris seperti pantun pada umumnya yang memiliki rima abc-abc.
Contoh Talibun:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
2. Puisi Baru : Menurut WCS, puisi baru merupakan salah satu jenis puisi yang mempunyai bentuk yang lebih bebas dalam hal aturan. Baik itu aturan mengenai jumlah baris, suku kata, ataupun rima dan irama. Puisi baru tidak kaku seperti halnya puisi lama. Menurut ibu Hasanah, puisi baru tidak terikat oleh aturan. Bentuknya lebih bebas dari puisi lama.
Ciri-ciri Puisi Baru menurut ibu Hasanah :
1) Memiliki bentuk yang rapi atau simetris
2) Persajakan akhir yang teratur
3) Menggunakan pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain
4) Sebagian besar bait dengan empat baris atau empat untai
Jenis Puisi Baru menurut ibu Hasanah :
1) Balada, yaitu Puisi berisi kisah atau cerita
2) Himne, yaitu puisi pujaan untuk menghormati Tuhan, seorang pahlawan ataupun tanah air.
3) Ode, yaitu puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4) Epigram, yakni puisi yang berisi ajaran hidup
5) Romansa, puisi yang berisi luapan hati atau cinta kasih
6) Elegi, puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan
7) Satire, yaitu puisi yang berisi sindiran maupun kritik.
Puisi semakin berkembang. Perubahan bentuk dan isi bisa disesuaikan dengan selera. Untuk penulis puisi pemula disarankan untuk menulis puisi dengan menggunakan kata-kata atau diksi yang nyaman dan enak di hati.
Demikian pengetahuan puisi yang saya dapatkan dari ibu Hasanah dan WCS, semoga dapat melengkapi ilmu puisi kita.
Jakarta, 15 Februari 2023
Nani Kusmiyati















Selalu, yess ulasannya Bu Nani