Day 1 — Sahur Pertama dan Belajar Cukup

tentang penyesuaian perut, hujan, kesederhanaan

Ramadhan10 Dilihat

noname_13-key-3087900_1280

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 1 — Sahur Pertama dan Belajar Cukup

(tentang penyesuaian perut, hujan, kesederhanaan)

Bulan puasa selalu menjadi waktu yang paling saya nantikan.
Bulan suci yang hadir membawa berkah, ampunan, dan ruang sunyi untuk kembali menata hati.

Sahur pertama kami lalui dengan sederhana. Tidak ada menu istimewa—karena saya dan putra saya sama-sama memahami, di hari-hari awal puasa, perut masih perlu penyesuaian. Makan secukupnya jauh lebih menenangkan daripada berlebihan.

Kami bersahur dengan mie goreng yang dicampur orek telur, ditemani nasi putih dan segelas teh manis hangat. Mie dan nasi memang sama-sama karbohidrat, tetapi di sahur pertama, perpaduan itu justru menambah selera.

Kami memilih makan di kamar masing-masing. Saya menikmati sahur sambil menonton televisi, sementara putra saya menyimak berita favoritnya dari gawai. Televisi di kamarnya memang tak lagi berfungsi untuk siaran, lebih sering menjadi teman bermain gim saat lelah sepulang kerja.

Malam itu hujan turun deras, berlanjut hingga pagi, bahkan bertahan sampai sore hari—menambah suasana sahur yang hening dan syahdu.

Usai sahur, sebagai ibu, saya membereskan meja dan mencuci piring. Sebelum beduk imsak, kami minum vitamin dan air mineral secukupnya. Setelah membersihkan diri, kami menunaikan salat Subuh dengan hati yang pelan-pelan ditenangkan.

Putra saya berangkat kerja lebih pagi. Ia khawatir macet dan memilih tiba lebih awal agar bisa beristirahat di mobil setelah finger print. Perjalanan menuju Jakarta bisa memakan waktu dua jam atau lebih—ujian tersendiri, terlebih di hari pertama puasa.

Saya melanjutkan pekerjaan rumah yang tersisa. Tidak ada target yang harus dikejar, hanya keinginan untuk menjalani hari dengan lebih sadar dan menikmati Ramadhan tanpa tergesa.

Pukul 09.00 saya sempat membantu mahasiswa dengan masukan untuk perbaikan tesisnya. Pukul 10.00 saya menunaikan salat Dhuha. Menjelang siang, saya beristirahat sejenak sambil menonton televisi dan membalas pesan sahabat serta keluarga di grup.

Tidur siang sekitar satu jam membuat tubuh kembali segar. Saat waktu Zuhur tiba, saya terbangun dan melaksanakan salat. Hari terasa berjalan perlahan, namun justru itu yang membuatnya bermakna.

Sore hari, selepas salat Ashar, saya berjalan kaki mencari lauk, sayur, dan takjil. Hari pertama puasa belum banyak pedagang yang berjualan. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, saya menemukan menu yang terasa pas di hati: sayur bening bayam, telur balado, dadar telur, oseng kentang, dan perkedel. Untuk putra saya, saya memilihkan soto ayam—menu favoritnya. Takjil kami sederhana, satu gelas bubur candil campur-campur.

Dalam perjalanan pulang, putra saya menelepon. Ia sudah memasuki gerbang Citra Indah dan meminta saya menunggunya karena ia akan menjemput. Alhamdulillah, langkah terasa diringankan. Saya bisa segera menyiapkan hidangan dan minuman berbuka di rumah.

Menjelang magrib, hujan kembali turun perlahan. Adzan berkumandang, dan kami berbuka dengan doa sederhana, diawali air minum dan bubur candil hangat. Tak ada hidangan mewah, namun rasa syukur memenuhi ruang makan kecil kami.

Puasa pertama kami lalui tanpa kendala, dengan hati yang khidmat dan penuh rasa cukup.

 

Jonggol, Kamis , 19 Februari 2026
Nani, pecinta literasi

 

Self Reminder

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

“Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam rasa syukur yang kita tanamkan.”

“Ramadhan mengajarkan kita bahwa menahan diri adalah jalan menuju ketenangan hati.”

“Dalam kesederhanaan sahur dan berbuka, Allah sering menitipkan keberkahan yang paling jujur.”

 

Tinggalkan Balasan