
beasternchen-letter-8078124_1280
Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati
Day 2 — Menjalani Hari Tanpa Tergesa
(tentang ritme pelan, menerima rasa haus, hari Jumat)
Pagi kedua Ramadhan datang dengan tubuh yang mulai belajar berdamai.
Tidak sepenuhnya ringan, tetapi juga tidak seberat yang dibayangkan.
Sahur hari ini masih sederhana. Saya dan putra saya sepakat, cukup makan seperlunya. Tubuh seakan sedang diajak berdialog—belajar mengenali batas, belajar menghargai rasa cukup. Teh manis hangat kembali menjadi teman setia, menemani keheningan sebelum imsak.
Usai sahur, hujan semalam meninggalkan udara yang lebih sejuk. Rumah terasa tenang. Setelah membersihkan diri dan menunaikan salat Subuh, saya duduk sejenak, membiarkan hati menata niat. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi memperhalus rasa.
Putra saya kembali berangkat pagi. Saya melepasnya dengan doa dalam diam—doa yang sama setiap hari, agar perjalanannya dimudahkan dan puasanya dijaga.
Hari Jumat membuat ritme terasa sedikit berbeda. Pekerjaan saya jalani perlahan, tanpa tergesa. Beberapa catatan saya rapikan, beberapa pesan saya balas. Menjelang Dhuha, saya salat dan memohon agar hari ini dijalani dengan lapang dada.
Menjelang siang, rasa haus mulai terasa. Saya tersenyum kecil—tubuh sedang belajar sabar. Waktu Zuhur saya sambut dengan salat dan istirahat singkat. Tidak ada keluhan, hanya penerimaan.
Sore hari, langit mendung kembali menggantung. Setelah Ashar, saya menyiapkan berbuka lebih awal. Tidak banyak menu, tetapi cukup. Saya belajar bahwa ketenangan tidak selalu datang dari kelimpahan, melainkan dari kesiapan hati menerima apa yang ada.
Menjelang magrib, suasana rumah kembali hening. Saat adzan berkumandang, kami berbuka dengan doa yang lirih. Air pertama yang menyentuh bibir terasa seperti nikmat yang baru disadari.
Hari kedua berlalu dengan tenang.
Ramadhan pelan-pelan mengajari kami: hidup tidak harus penuh untuk terasa cukup.
Jonggol, Jumat, 20 Februari 2026
Nani, pecinta literasi
Self Reminder
“Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi melatih hati untuk tidak berlebihan.”
“Ketika kita belajar cukup, Allah mengajarkan kita arti syukur.”











