Day 3 Saat Mata Lebih Lapar dari Perut

tentang lapar mata, snack berlebih, belajar menahan keinginan

Ramadhan16 Dilihat

ritae-burger-3442227_1280

ritae-burger-3442227_1280

 

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 3 — Saat Mata Lebih Lapar dari Perut

(tentang lapar mata, snack berlebih, belajar menahan keinginan)

Hari ketiga Ramadhan kami awali dengan sahur yang terasa lebih “berat”, namun tetap menenangkan. Dadar telur, opor ayam, dan segelas teh manis panas tersaji di meja. Saya juga minum vitamin, disertai obat maag karena perut terasa sedikit tidak nyaman. Tubuh rupanya masih menyesuaikan diri, dan saya memilih untuk mendengarkannya, bukan memaksanya.

Sahur kami jalani perlahan. Tidak banyak bicara, tetapi penuh kesadaran bahwa menjaga tubuh juga bagian dari ibadah.

Pagi hingga siang hari berjalan hampir sama seperti hari sebelumnya. Saya mencuci, menyetrika, lalu menyempatkan diri membaca. Aktivitas sederhana, namun justru membuat hari terasa utuh. Tidak ada yang dikejar, tidak ada yang ditinggalkan—semuanya berjalan pada porsinya.

Menjelang sore, selepas Ashar, saya keluar untuk membeli keperluan berbuka. Hari ini saya memilih sayur asem yang segar, ikan tongkol berbumbu asem-asem sedikit pedas, dan beberapa jajanan tradisional sebagai tambahan berbuka puasa.

Sayangnya, mata rupanya lebih lapar daripada perut. Snack yang saya beli dengan semangat itu ternyata tak mampu kami habiskan. Setelah berbuka, tubuh terasa cepat penuh. Saya tersenyum kecil—ternyata Ramadhan bukan hanya melatih menahan lapar, tetapi juga mengajarkan untuk menahan keinginan.

Maghrib tiba dengan suasana rumah yang hangat. Kami berbuka dengan sederhana, diawali doa dan rasa syukur. Tidak semua yang tersaji harus habis hari ini. Sebagiannya bisa menunggu esok hari, seperti keinginan-keinginan yang memang tak harus segera dipenuhi.

Malam itu, saya menyadari satu hal:
puasa bukan tentang meniadakan rasa lapar, tetapi tentang mengenali batas dan belajar cukup.

Hari ketiga pun ditutup dengan tenang—tanpa keluhan, tanpa berlebih.

Jonggol, Sabtu, 21 Februari 2026
Nani, pecinta literasi

 

Self Reminder

“Allah tidak melarang kita menikmati, tetapi mengajarkan kita kapan harus berhenti.”

“Ketika perut belajar cukup, hati belajar bersyukur.”

“Ramadhan adalah sekolah keikhlasan: tentang menerima yang ada dan melepas yang berlebihan.”

 

 

Tinggalkan Balasan