Day 4 Doa di Tengah Hujan dan Harapan yang Ditanam

Catatan Ramadhan

Ramadhan6 Dilihat

erickromansyah9-girl-3404847_1280

 

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 4 — Doa di Tengah Hujan dan Harapan yang Ditanam

(Catatan Ramadhan)

Sahur hari keempat saya awali dengan menu yang sederhana namun mengenyangkan: nasi putih, ikan tongkol bumbu asem-asem, dadar telur, segelas teh manis hangat, dan air mineral. Vitamin tetap saya minum, sebagai ikhtiar menjaga tubuh agar tetap kuat menjalani puasa.

Usai Subuh, hujan turun deras disertai petir. Tidak berlangsung lama, namun cukup mengerikan. Saya dan putra saya berada di kamar yang berbeda. Dalam sunyi dan gemuruh langit, saya hanya bisa berdoa—semoga kami berdua aman, rumah ini terlindungi, dan tetangga sekitar juga dijaga Allah.

Televisi saya matikan. Laptop sudah tertutup sejak semalam. Saya memilih diam dan pasrah. Pagi ini, saya mengirim pesan singkat di grup sahabat seprofesi, mengabarkan hujan deras dengan petir yang turun di tempat saya.

Tak lama kemudian, saya tertidur.

Saat terbangun, hujan telah berhenti. Saya melirik ponsel dan mendapati banyak balasan dari sahabat-sahabat. Ada yang bersyukur karena hujan dianggap rezeki, ada yang bercerita tentang mendung di tempat mereka, ada pula yang berbagi kabar tanaman mangga dan anggur merah yang mulai belajar berbuah. Percakapan mengalir ringan—tentang berkebun, tentang durian yang lebih sering dinikmati jika ada yang memberi, dan tentang kebahagiaan kecil yang datang dari menanam, meski tidak selalu berhasil.

Saya tersenyum. Obrolan sederhana itu terasa seperti imun bagi hati—cerita kehidupan yang apa adanya, namun menghangatkan.

Hari berjalan tenang. Saya bisa mengetik artikel kegiatan Ramadhan, mencuci, dan menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa tergesa. Di sela-sela waktu, saya juga berbincang dengan sahabat dari Malang. Kami merencanakan perjalanan ke Lombok—berlibur sekaligus menengok sahabat yang tinggal di sana. Kami berencana naik kapal pesiar dengan biaya terjangkau, meski waktu tempuh lebih lama. Rencananya, kami ingin berangkat di akhir April, setelah Hari Raya Idul Fitri.

Belum ada kepastian. Namun saya menyimpannya sebagai doa. Berharap selalu ada jalan bagi niat baik untuk menemukan waktunya.

Hari ini saya belajar satu hal:
seperti hujan dan tanaman, tidak semua harus segera terlihat hasilnya. Ada yang cukup ditanam, dirawat, lalu diserahkan kepada Allah.

Jonggol,  Minggu, 22 Februari 2026
Nani, pecinta literasi

Self Reminder

“Di tengah hujan dan petir, doa sering menjadi satu-satunya tempat pulang.”

“Apa yang ditanam dengan sabar, akan tumbuh pada waktunya—jika Allah menghendaki.”

“Ramadhan mengajarkan kita percaya: tidak semua rencana harus cepat, yang penting lurus niatnya.”

 

Tinggalkan Balasan

News Feed