Day 7 Lelah yang Diterima, Hati yang Tetap Lapang

Catatan Ramadhan

Ramadhan8 Dilihat

6689062-coffee-2847957_1280

6689062-coffee-2847957_1280

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 7 — Lelah yang Diterima, Hati yang Tetap Lapang

(Catatan Ramadhan)

Sahur hari ketujuh terasa sederhana namun cukup. Nasi dan bihun goreng, dadar telur, serta air mineral menjadi menu utama. Untuk saya, ada tambahan secangkir kopi hitam panas dengan gula merah—agar tubuh lebih fokus dan tidak mudah mengantuk setelah sahur. Pilihan kecil, namun membantu menjaga ritme hari.

Pagi hari saya isi dengan mencuci dan mengeringkan pakaian. Setelah itu, saya merapikan kamar agar enak dipandang mata. Sebagian besar kegiatan memang saya lakukan di kamar, karena ruang ini sudah lengkap: tempat tidur besar, meja dan laptop, lemari pakaian, kulkas, televisi, serta kamar mandi di dalam. Ruang yang membuat saya bisa bergerak tanpa perlu banyak berpindah.

Meski begitu, saya tidak hanya berdiam di kamar pribadi. Saya juga merapikan dan mengecek kamar putra saya setelah ia berangkat bekerja. Membersihkan bak mandi dan mengisinya penuh menjadi bagian dari rutinitas—hal kecil yang sering luput, tetapi penting.

Di sela kegiatan, saya mendengarkan tausiah dari beberapa channel televisi. Rasanya sudah sepatutnya, di bulan Ramadhan ini, saya lebih banyak mendengar nasihat dan pengingat. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri—sebagai upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Ada waktu khusus hari ini untuk membaca ulang Bab 1 buku yang saya tulis bersama mantan siswa bahasa Inggris saya. Perlahan, dengan fokus yang dijaga. InsyaAllah, Bab 1 bisa diselesaikan. Setelah draft saya kirimkan, saya memilih menunggu dengan sabar—menanti respon dan masukan darinya.

Salat Dhuha hari ini juga tidak saya lewatkan, melengkapi salat fardhu yang menjadi poros hari. Saya pun menyempatkan diri belajar bahasa Inggris melalui aplikasi Duolingo. Sedikit, namun konsisten.

Menjelang siang, saya beristirahat agar tubuh kembali segar. Setelah itu, saya memasak nasi dan sayur sop berisi wortel, buncis, dan bakso. Lauk dan kudapan lainnya saya beli di sore hari, menyesuaikan tenaga yang tersisa.

Hari ini memang terasa lelah. Namun bukan lelah yang memberatkan—melainkan lelah yang diterima dengan sadar.

Karena pada akhirnya, ada lelah yang justru menandakan hari telah dijalani dengan penuh.

Jonggol, Rabu, 25 Februari 2026
Nani, pecinta literasi

 

Self Reminder

“Tidak semua lelah harus dilawan; sebagian cukup diterima agar hati tetap tenang.”

“Ramadhan mengajarkan kita bahwa merawat diri juga bagian dari ibadah.”

“Ketika niat lurus dan langkah jujur, lelah pun berubah menjadi nikmat.”

 

Tinggalkan Balasan