Menjadi Narasumber

Terbaru299 Dilihat

Menjadi Narasumber

Menjadi narasumber belajar menulis merupakan pengalaman yang tidak dapat saya lupakan. Peserta group menulis pemula maupun sudah ahli berada disana.
Bangga di tengah komunitas yang berbeda namun serasa seperti keluarga.

Om Jay sebagai penyelenggara pelatihan memperkenalkan saya sebagai salah satu temannya yang sedang belajar S3 di UNJ.

Om Jay dengan bahasa santunnya mengawali pelatihan dengan memperkenalkan narasumber dan moderator, ibu Aam yang sangat energetic memandu setiap pelatihan dan menemani para narasumber.

Beberapa WA dari Bunda Kanjeng dan Mr Bambs memberikan support. Mereka orang-orang hebat yang saya kenal di dunia maya. Saya mengenal melalui foto-foto mereka di Whatsapp ataupun sosial media lainnya.

Saya diberi topik Om Jay, “Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian.” Topik ini tidak sulit karena para peserta pastinya sudah mendapat ilmu tentang hal ini dari para narasumber sebelumnya. Hanya pengemasan dan sudut pandang sedikit berbeda.

Saya sudah menyiapkan materi ini satu hari sebelum pelatihan dimulai. Pesertanya banyak, namun saya kurang yakin apakah yang menyimak banyak juga.

Waktu pelatihan hari Jumat malam mulai pukul 19.00 sampai dengan pk 21.00 menurut teorinya. Namun bisa selesai pukul 22.00 dengan beberapa pertanyaan.

Poin yang saya sampaikan, menulis itu harus dengan hati dan yang terpenting kita suka untuk menuangkannya kedalam tulisan yang nantinya dapat dinikmati orang lain.

Saya juga menyarankan, karena kegiatan menulis untuk membuat kita rileks tanpa tekanan, maka hasil tulisan dapat dinikmati oleh pasar yang tepat. Jika tema kita tentang remaja maka tulisan itu akan tepat dibaca para remaja. Demikian juga temanya orang dewasa, maka pangsa pasar pembaca juga orang dewasa.

Menulis setiap hari akan mengasah memori kita dan tidak mudah lupa atau pikun. Menulis juga mengajarkan kebaikan kepada orang lain melalui kisah-kisah inspiratif.

Menulis membuat hidup lebih berwarna. Kisah-kisah hidup kita masih dapat dinikmati anak cucu kita maupun orang lain.

Sebagai narasumber saya berterima kasih kepada bu Aam yang mengawali pertanyaan agar suasana tidak vakum.

Saya sangat mengerti jika hanya 7 orang yang bertanya. Kemungkinan mereka belum sampai dirumah atau sedang ada kegiatan lain yang bersamaan.

Kebanyakan dari peserta bertanya tentang bagaimana membagi waktu menulis dengan kegiatan dikantor yang padat juga kegiatan-kegiatan lainnya.

Setiap orang dapat me-manage waktu luangnya sesuai kondisi yang di hadapi. Yang terpenting jika ada free time, daripada hanya sekedar membaca Whatsapp bisa memulai membuat draft di Hp.

Hal itu yang sering saya lakukan walau kadang belum sempat saya pindah ke blog.

Pada saat menunggu rapat akan dimulai, saya melihat keadaan dan kondisi, tepatkah jika saya mulai menulis.

Jika peserta rapat asyik ngobrol, disitulah mata dan telinga saya mulai merecord hal-hal menarik yang mereka bicarakan.

Segera saya membuat pointers tentang apa yang akan saya tulis atau langsung membuat paragraph pertama walau tidak terlalu panjang.

Untuk mengajak teman kita untuk menulis tidaklah mudah karena mereka memiliki berbagai alasan. Saya tidak pernah memaksa mereka untuk ikut belajar menulis. Saya hanya menceritakan pengalaman saya ketika waktu senggang juga beberapa artikel yang sudah saya kirimkan menjadi buku antologi.

Kadang saya share artikel di blog kepada group satu leting atau angkatan juga group murid-murid saya. Saya tidak begitu ambil pusing mereka akan membacanya atau tidak.

Paling tidak saya sudah berbagi informasi dan kebaikan, karena yang saya tulis tentunya hal-hal yang positif.

Pertanyaan diatas sempat ditanyakan oleh bu Aam. Saya rasa bu Aam sudah mendapatkan jawabannya.

Salah satu penanya yang membuat saya tertarik selain penanya lainnya adalah ibu Persit (sebutan istri TNI Angkatan Darat).

Beliau ternyata juga tergabung ke dalam group menulis. Motivasi menulis mungkin berasal dari teman-teman beliau.

Saya sangat salut kepada mereka yang masih sempat mengikuti pelatihan.

Selesai kuliah ada seseorang yang langsung jadi dengan resume dengan bahasa mengalir dan indah yang di share di group. Resume dari mba Pipit. Berikutnya dari bu Aam, sang moderator dengan balutan kata membuat pembacanya mudah untuk mencerna.

Pada hari Jumat malam dan hari Sabtu hanya ada dua yang membuat resume hingga pagi tadi, di hari minggu. Resume dari bapak Dadang dengan bumbu-bumbu pengetahuan beliau tentang daerah misi dan potret masa lampau yang dapat diabadikan melalui tulisan-tulisan.

Itulah pengalaman saya sebagai narasumber dengan resume peserta yang telah saya baca.

Jonggol, 7 Maret 2021

Nani Kusmiyati, S. Pd., M. M., CTMP

Tinggalkan Balasan

1 komentar