NASI GORENG PERSAHABATAN

Nasi goreng persahabatan tepat sekali namanya, karena pagi ini saya mendapat undangan makan sahabat saya Lisda yang hobi memasak untuk sarapan bersama. Sengaja dari pagi saya whatsapp dia menanyakan apakah dia masuk kantor hari ini. Alhamdulillah ternyata masuk kantor. Saat itu saya masih diperjalanan menuju kantor. Saya hanya berfikir sarapan apa pagi ini bersama Lisda dan sahabat saya yang lain, Yulistio.
Tanpa saya duga Lisda membawa satu tepak (tempat dari plastik untuk micro wave) nasi goreng petai buatannya. Dia menelpon dan memintaku segera turun dari lantai 9 menuju parkiran di sebelah kanan gedung dia.
Tanpa pikir panjang saya segera turun dan menuju parkiran. Saya lihat sudah banyak mobil berjajar di parkiran walau hari masih pagi. Mobil Lisda sudah terpakir di tempat yang teduh karena ada atap yang melindungi mobil dengan tulisan khusus untuk perwira di kantor Lisda. Walau mobil Lisda ditutupi beberapa mobil, sangat mudah mobilnya saya kenali karena bentuknya yang unik dengan plat nomer khas nama putranya.
Sesampai di mobil saya dapati Lisda sedang ber- make up. Sambil tersenyum saya ketuk pintu mobil dan Lisda membuka jendela mobil sambil mempersilakan saya untuk masuk mobil.
“Bu sedang ber- make up nich.” Kata saya.
“Tidak Nan, hanya menggunakan pelembab saja supaya tidak kasar.” Jawab Lisda sambil menyelesaikan usapan terakhir di wajahnya.
“Ini Nan, nasi goreng petainya. Sengaja aku bawa banyak untuk makan kita dengan Yulistio.” Kata Lisda.
“Yulis masuk kerja ya.” Kata saya menegaskan.
“Iya, tadi sudah aku telpon. Aku minta dia bawa sendok lagi karena aku hanya bawa dua, untukmu dan untukku.” Jelas Lisda kemudian. Kami tidak mulai sarapan karena menunggu kedatangan Yulistio.
Tidak berapa lama Yulistio tampak menuju parkiran mobil sambil mencari-cari keberadaan kami. Lisda membuka jendela lebar-lebar agar Yulistio bisa melihat kami. Yulistio menengok ke arah kami. Sambil tersenyum dia menghampiri kami sambil membawa snack pastel berukuran besar dan arem-arem (lontong dengan isi kentang dan wortel).
Dia masuk dan langsung duduk di belakang saya.
“Ini snack untuk kamu berdua.” Kata Yulistio sambil menyodorkan ke arah kami berdua.
“Simpan dulu Bu, nanti kita makan setelah menikmati nasi goreng petai ya.” Kata Lisda sambil membuka tepak dan menyodorkan sendok ke saya.
“Yulis bawa sendokkan?” Tanya Lisda.
“Iya, aku bawa sendok dan piring kertas untukku.”Jawab Yulistio sambil mengarahkan piring kertasnya ke Lisda untuk di isi nasi goreng.
“Maaf ya Yulis, sedikit-sedikit dulu ya karena piringmu kecil.” Kata Lisda.
“Iya, gak papa.” Jawab Yulistio sambil langsung memakan nasi yang diberikan kepadanya.
Saya juga mulai memakan nasi goreng petai yang tidak terlalu pedas.
“Kita seperti di pendidikan ya Nan.” Kata Lisda sambil menikmati makanan buatannya.
“Alhamdulillah ya Lis kita masih diberi kesehatan dan bisa sering ketemu, jalan dan makan bareng.” Kata saya sambil sesekali minum air mineral yang Lisda letakkan di sela-sela pintu mobilnya.
Sungguh nikmat sarapan pagi bersama dengan sahabat satu pendiikan di dalam mobil.
“Semoga kita masih bisa sering-sering ketemu ya dan diberikan kesehatan oleh Allah SWT.” Kata saya lirih.
“Amin Nan.” Kata Lisda dan Yulistio hampir bersamaan.
“Setelah sarapan apa kegiatanmu hari ini Nan? Tanya Lisda.
“Saya akan ngajar. Ada jadwal 4 jam pelajaran pagi dan siang nanti. Bagaimana denganmu Lis?” Saya balik bertanya.
“Aku ada rapat, cuma tidak tahu rapat tentang apa karena hanya di info untuk datang ke ruang rapat.” Jawab Lisda.
“Yulis bagaimana denganmu?” Tanya Lisda.
“Aku akan ke lobi bergabung dengan teman-temanku melanjutkan minum jahe panas.” Jawab Yulis sambil tersenyum.
Kami tidak bisa berlama-lama berbincang-bincang di mobil karena kami harus segera beraktivitas di kantor kami masing-masing.
“Lis terima kasih untuk sarapan paginya ya. Saya harus segera kembali ke kantor untuk menyiapkan bahan mengajar pagi ini dan siang.”
“Ok Nan, selamat mengajar ya.” Kata Lisda sambil mempersilakan saya meninggalkan mobil.
“Aku juga balik ya Lis. Sampai jumpa hari Jumat ya di hari olah raga.” Kata Yulistio berpamitan juga.
Akhirnya kami bertiga berpisah dan menuju gedung masing-masing. Saya merasa cukup kenyang sarapan pagi dengan sahabat-sahabat saya. Kenikamatan memang dapat diciptakan dengan kebersamaan diantara para sahabat. Dengan setepak nasi goreng persahabatan kami semakin erat. Nasi goreng persahabatan ini hanya salah satu cara dari kami untuk saling menyayangi dan perduli.
Nani Kusmiyati, S.Pd., M.M., CTMP.







