Day 12 Keheningan Setelah Memberi

Catatan Ramadhan

Ramadhan6 Dilihat

Jigsawscapes

Day 12 – Keheningan Setelah Memberi

(Catatan Ramadhan)

Ada keheningan yang datang setelah memberi.
Bukan hening yang kosong, melainkan sunyi yang penuh—seperti hati yang baru saja diletakkan kembali di pangkuan-Nya.

Hari ini aku belajar berdamai dengan diri sendiri.
Bahwa keinginan, sebaik apa pun, perlu disesuaikan dengan kondisi fisik.
Rencana untuk melanjutkan menulis demi membantu seseorang harus sedikit tertunda.
Tubuh memberi isyaratnya sendiri: rasa kantuk yang sering mendominasi, mata yang ingin lebih lama terpejam.

Saat sahur, aku memilih secangkir kopi.
Bukan untuk melawan lelah, tetapi agar pagi nanti bisa dijalani dengan lebih fokus dan sadar.
Laptop sudah menyala—seperti niat yang sudah siap—namun belum kusentuh.
Aku memilih merapikan peralatan sahur, membersihkan sisa-sisa malam, sambil menunggu adzan Subuh memanggil dengan lembut.

Hujan turun deras, meski hanya sesaat.
Lalu ia berlanjut dalam rintik-rintik kecil, setia menemani pagi.
Aku percaya, hujan memang ingin menyapa—menenangkan aku yang tinggal di rumah, dengan berbagai rencana yang belum tentu harus semuanya terlaksana hari ini.

Aku menyemangati putraku yang bersiap berangkat kerja.
Ia berkata, jika hujan, jalanan sering macet.
Obrolan pun mengalir tentang kemacetan Jabodetabek dan daerah lain di Indonesia—diskusi ringan di sela-sela sahur, namun terasa hangat dan dekat.

Apa pun yang terjadi hari ini,
aku memilih memaknainya sebagai berkah dari Ilahi.
Bukan karena semuanya mudah, tetapi karena semuanya berada dalam pengawasan-Nya.

Saat berbuka, pecel khas Madiun tersaji sederhana namun penuh rasa.
Es teler diminum setelahnya—segar, manis, dan menenangkan.
Seperti hari ini: tidak riuh, tidak sempurna,
namun cukup… dan penuh syukur.

Self Reminder

“Di antara kopi sahur, hujan pagi, dan niat yang tertunda,
aku menemukan berkah yang tidak berisik.”

 

Jonggol, Senin 2 Maret 2026

Nani Kusmiyati

Pecinta Literasi

Tinggalkan Balasan