Day 13 Diam yang Menyembuhkan

Catatan Ramadhan

Ramadhan11 Dilihat

Group whatsapp 

Sumber foto: whatsapp group

Day 13 — Diam yang Menyembuhkan

Hari ke-13 Ramadhan dijalani dengan ritme yang hampir sama seperti hari-hari sebelumnya, namun terasa berbeda di dalam dada. Bukan karena aktivitasnya berubah drastis, melainkan karena hati mulai lebih menerima diam sebagai bagian dari penyembuhan.

Sahur sederhana: mi rebus campur telur kocok dan secangkir teh hangat. Cukup untuk menyapa pagi tanpa berlebihan.

Hari ini diisi dengan ibadah seperti biasa—sholat, mengaji satu surah—lalu berlanjut pada pekerjaan yang membutuhkan fokus: menyelesaikan dua proposal Pengabdian Kepada Masyarakat. Ada rasa lega ketika target terpenuhi, meski tubuh tak selalu bersemangat penuh. Di titik ini, diam menjadi teman, bukan musuh.

Waktu istirahat diisi dengan menyimak program Ramadhan di televisi. Salah satu topik yang menarik adalah persamaan gender dalam Islam. Seorang ibu ustadzah menjelaskan dengan tenang bahwa persamaan bukan berarti keseragaman mutlak, melainkan keadilan yang disesuaikan dengan kodrat. Pesan itu menempel lama: adil tidak selalu berarti sama, tetapi tepat.

Ceramah berikutnya membahas makna rezeki. Bahwa rezeki tidak selalu berwujud angka.
Ia bisa hadir sebagai kesehatan, ketenangan menjalani hari, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kemampuan beribadah, dan ruang untuk melakukan hal-hal yang disukai. Uang memang penting—terutama jika halal—karena dengannya kita bisa berbagi, membeli makanan bergizi, menjaga kesehatan, bepergian, dan menjalin silaturahmi. Namun inti dari semua itu tetap satu: pandai bersyukur.

Berbuka puasa pun sederhana dan membahagiakan. Pepes ayam, nasi putih, dan bothok—makanan kesukaan yang selalu berhasil menghadirkan rasa pulang. Ada juga sop ayam yang ternyata hambar, mungkin karena yang memasak sedang berpuasa dan lupa menambahkan bumbu. Hal kecil yang justru mengundang senyum, bukan keluhan.

Hari ke-13 ini dilalui dengan ketenangan, meski hati sempat bergejolak saat melihat berita perang di berbagai belahan dunia. Di situlah aku kembali pada diam—diam yang tidak acuh, tetapi diam yang berdoa. Diam yang menyerahkan.

Hari ini mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diramaikan dengan kata-kata.
Ada hari-hari yang cukup dijalani dengan kesadaran, syukur, dan keheningan.

Dan dalam keheningan itulah, Allah bekerja—pelan, namun pasti.

 

Jonggol, Selasa 3 Maret 2026

Nani Kusmiyati,

Pecinta Literasi

 

Self Reminder.

“Tidak semua lelah perlu dijelaskan.
Ada diam yang memulihkan,
dan di sanalah Allah bekerja paling pelan.”

 

Tinggalkan Balasan