
Dokpri
Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati
Day 21 Kenangan yang Tersimpan dalam Benda Kecil
Kegiatan hari ke-21 masih berjalan seperti biasa: sahur, beribadah, belajar bahasa Inggris, dan menjalani puasa hingga waktu berbuka tiba.
Namun ada satu hal yang memberi sedikit kelegaan di hati. Saya kembali bersemangat menyelesaikan Proposal Penelitian yang saya kirim sesuai permintaan Profesor di kampus.
Dalam prosesnya, saya belajar kembali tentang pentingnya kesabaran dalam berkomunikasi. Jika ada hal yang belum dimengerti oleh lawan bicara, kita harus bersedia menjelaskan berulang-ulang. Terkadang apa yang kita maksud belum tentu langsung dipahami oleh seseorang yang usianya lebih lanjut.
Apalagi jika permintaan itu datang dengan waktu yang cukup mendesak, bahkan kadang diminta selesai pada hari yang sama. Saya mencoba menenangkan diri. Pikiran yang terlalu dipaksakan juga membutuhkan jeda.
Untuk menyegarkan pikiran, saya menyelinginya dengan membersihkan beranda di lantai dua dan memilah beberapa barang yang sudah tidak perlu lagi disimpan.
Di tengah kegiatan merapikan, saya menemukan kembali beberapa souvenir dari berbagai negara yang sebenarnya sengaja saya simpan dengan baik. Rupanya tetangga yang pernah membantu membersihkan rumah memindahkannya ke beranda dan ditumpuk dengan beberapa benda lain.
Walaupun kotak penyimpanannya sudah rusak, sebagian besar souvenir itu masih dalam kondisi baik, hanya sedikit berdebu.
Saya menemukan kembali syal merah cantik dari China yang jika dipadukan dengan kemeja merah saat perayaan Tahun Baru Imlek pasti sangat serasi. Ada juga boneka kecil dan asbak dari Jepang yang rasanya cocok diletakkan di dalam lemari kaca—yang hingga sekarang lemari kaca itu masih menjadi rencana untuk saya beli.
Beberapa benda lain juga kembali saya temukan: gantungan kunci dari Brunei, gantungan baju dari Australia, berbagai pernak-pernik dari Singapura, koin dari Vietnam, dompet kulit wanita dari India, serta alat pembuka amplop dari Uni Emirat Arab. Ada pula beberapa souvenir dari Malaysia dan Thailand.
Benda-benda itu sangat spesial buat saya karena setiap benda menyimpan suatu cerita perjalanan hidup yang pernah saya alami ketika masih aktif di TNI AL dalam kegiatan keprotokoleran dan MC.
Melihat kembali semua souvenir itu membuat saya berpikir, mungkin suatu hari nanti saya ingin menuliskan cerita di balik setiap benda tersebut.
Membersihkan dan merapikan rumah hari ini terasa sedikit melelahkan, mungkin karena tubuh mulai merasakan energi yang berkurang menjelang waktu berbuka puasa.
Saya pun bersandar di kursi sambil mendengarkan tausiah menjelang berbuka puasa.
Tidak lama kemudian putra saya pulang dari tempat kerja dengan membawa dua kotak nasi briyani, lengkap dengan lauk ayam berbumbu rempah dan daging cincang.
Alhamdulillah. Segelas teh panas saat berbuka puasa terasa begitu menenangkan dan perlahan mengembalikan energi yang sempat terkuras sepanjang hari.
Kadang kebahagiaan Ramadhan datang dari hal-hal sederhana: pekerjaan yang selesai, kenangan yang ditemukan kembali, dan kebersamaan kecil di meja berbuka.
Self Reminder Day 21
Bersabar dalam berkomunikasi,
menghargai kenangan perjalanan hidup,
dan mensyukuri rezeki yang datang di setiap hari.
“Benda kecil bisa menyimpan perjalanan panjang,
dan dari sanalah kita belajar mensyukuri setiap langkah kehidupan.”
Jonggol, Rabu, 11 Maret 2026
Nani Kusmiyati
Pecinta Literasi











