Day 27 Syukur dalam Segala Keadaan

Catatan Ramadhan

Ramadhan12 Dilihat

daniel_calabrese-flower-8173078

daniel_calabrese-flower-8173078

 

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 27 Syukur dalam Segala Keadaan

Selesai menunaikan sholat Subuh, saya melanjutkan aktivitas dengan membersihkan dapur. Pagi itu terasa tenang, ditemani suara tausiah dari channel televisi.

Dalam tausiah tersebut, seorang ustadz menyampaikan pentingnya bersyukur dalam setiap keadaan, baik dalam suka maupun duka. Beliau mengingatkan bahwa ujian hidup tidak selalu berupa kesulitan. Terkadang, ujian justru datang dalam bentuk kecukupan.

Ketika segala sesuatu terasa cukup, di situlah manusia sering lalai—lupa beribadah, lupa berdoa, bahkan tanpa sadar menjadi sombong.

Pesan itu terasa sangat dalam bagi saya.

Dari channel televisi lainnya, saya juga mengikuti tausiah seorang ustadzah. Beliau menyampaikan bahwa Ramadhan adalah momen terbaik untuk berdzikir, untuk selalu mengingat Allah SWT.

Dengan berdzikir, pintu rezeki akan dibukakan, dan jalan keluar dari setiap kesulitan akan dimudahkan.

Dua tausiah pagi itu seperti saling melengkapi: tentang syukur dan dzikir sebagai kunci ketenangan hidup.

Setelah itu, saya melanjutkan aktivitas dengan merapikan buku-buku serta file-file surat. Beberapa dokumen yang sudah tidak digunakan saya pisahkan dan masukkan ke dalam dus untuk dibuang.

Hari berjalan dengan rutinitas seperti biasa: beribadah dan meluangkan waktu untuk belajar bahasa Inggris.

Menjelang sore hari, tukang AC datang kembali. Kali ini untuk memasang perlengkapan pendingin di ruang band putra saya, yang sudah lama tidak digunakan.

Sejak ia mulai bekerja, waktunya untuk latihan band memang sangat terbatas. Kini ia lebih sering bermain gitar di kamarnya di lantai dua.

Menjelang waktu berbuka, putra saya datang bersama seorang teman dekatnya. Mereka membawa makanan untuk berbuka puasa sekaligus beberapa sembako.

Alhamdulillah, rezeki terasa mengalir hari ini.

Menu berbuka kami sederhana: mie ayam bakso dan es sirup. Namun seperti biasa, saya tetap lebih menikmati teh panas saat berbuka.

Ketika adzan Maghrib berkumandang, kami bertiga berbuka bersama dengan penuh rasa syukur.

Walaupun saya hanya mampu menghabiskan setengah porsi mie ayam, hati saya terasa cukup.

Hari ini kembali mengingatkan bahwa kecukupan bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa mampu kita mensyukurinya.

 

Self Reminder Day 2

Bersyukur dalam segala keadaan,
memperbanyak dzikir,
dan menyadari bahwa kecukupan juga adalah ujian.

“Rezeki yang paling menenangkan bukan yang paling banyak,
tetapi yang paling membuat hati merasa cukup.”

 

Jonggol, Selasa, 17 Maret 2026.

Nani Kusmiyati
Pecinta Literasi

 

https://www.kompasiana.com/image/bluesea/69be8e8834777c06fc098d62/syukur-dalam-segala-keadaan?page=1

 

Tinggalkan Balasan