
freepixel
Day 30 Air Mata di Penghujung Ramadhan
Hari ini adalah hari terakhir Ramadhan.
Sejak pagi, hati saya sudah terasa berbeda.
Ada keheningan yang tidak biasa. Bukan karena suasana rumah, tetapi karena perasaan yang perlahan menyadari bahwa Ramadhan akan benar-benar pergi.
Selesai sholat Subuh, saya berdoa lebih lama dari biasanya.
Dzikir yang saya lafalkan terasa lebih pelan, lebih dalam, seakan saya ingin memperpanjang waktu.
Hari ini saya tidak ingin terburu-buru.
Saya menjalani aktivitas seperti biasa—membersihkan rumah, merapikan dapur, dan melakukan pekerjaan ringan.
Namun di sela-sela itu, pikiran saya sering kembali pada satu hal:
apakah saya akan dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan?
Putra saya menjalani harinya seperti biasa. Kondisinya sudah jauh lebih baik, dan itu membuat hati saya sedikit lebih tenang.
Siang hari saya sempat membuka kembali catatan Ramadhan dari hari pertama hingga hari ini.
Tanpa terasa, perjalanan ini sudah sampai di ujungnya.
Begitu banyak hal kecil yang saya jalani—yang dulu terasa biasa, kini terasa begitu berarti.
Menjelang sore, saya mencoba lebih banyak diam.
Lebih banyak berdoa.
Lebih banyak mengingat Allah SWT.
Saat waktu berbuka semakin dekat, ada perasaan yang mulai memenuhi hati saya.
Bukan lapar.
Bukan lelah.
Tetapi rasa kehilangan yang perlahan datang.
Ketika adzan Maghrib berkumandang, saya menyiapkan teh panas seperti biasa.
Namun saat saya mulai berbuka, tiba-tiba air mata saya menetes.
Saya terdiam sejenak.
Tidak ada suara.
Hanya rasa yang sulit dijelaskan.
Mungkin ini adalah bentuk rasa syukur.
Mungkin juga rasa sedih karena harus berpisah.
Ramadhan telah menemani saya selama satu bulan—mengajarkan banyak hal tentang sabar, syukur, ikhlas, dan kembali kepada Allah.
Dan hari ini… saya harus melepasnya.
Saya menatap secangkir teh di tangan saya.
Hangatnya terasa sampai ke hati.
Saya berbisik dalam doa:
Ya Allah, terima kasih atas Ramadhan tahun ini.
Jika Engkau berkenan, pertemukanlah aku kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya… dalam keadaan sehat dan lebih baik.
Malam ini terasa sunyi.
Namun bukan sunyi yang kosong.
Melainkan sunyi yang penuh makna.
Self Reminder Day 30
Ikhlas melepas,
mensyukuri perjalanan,
dan berharap dipertemukan kembali.
“Air mata di akhir Ramadhan bukan tanda kelemahan,
tetapi tanda bahwa hati pernah benar-benar hadir di dalamnya.”
Jonggol, Jumat, 20 Maret 2026.
Nani Kusmiyati
Pecinta Literasi






