
Tempat Terindah di Institusiku
Banyak sekali tempat-tempat terindah di institusiku, Lemhannas RI, yang saat ini masih menjadi tempat aku bekerja. Selain Masjid Sudirman, aku juga menyukai Perpustakaan Lemhannas RI yang berada di lantai 2 Gedung Asta Gatra. Di jam kerja memang jarang pengunjung karena para personel Lemhannas Ri disibukkan oleh kegiatan masing-masing, demikian juga para peserta PPRA, mereka datang ketika harus mencari referensi untuk Taskap mereka. Maklum kegiatan belajar memang padat dengan tugas-tugas.
Aku menyukai perpustakaan karena tempatnya yang tenang, nyaman, indah dan bersih. Ketika aku masuk, ada petugas yang menyapaku dengan ramah. Karena aku personel Lemhannas sendiri, aku biasanya cukup mengucapkan salam kemudian aku duduk di kursi dengan meja segi empat yang besar dengan bunga meja di atasnya.
Salah satu petugas menghampiriku dan menanyakan aku akan pinjam buku atau sekedar membaca buku di perpustakaan. Awalnya aku hanya ingin melihat-lihat buku yang ada di perpustakaan, jika tertarik aku ingin meminjamnya. Petugas itu mempersilakan aku untuk melihat-lihat buku atau membacanya di tempat atau meminjam buku untuk dibawa pulang. Buku boleh dipinjam dan dibawa pulang maksimal dua minggu.
Aku masih melihat-lihat seluruh ruangan yang membuatku nyaman untuk berlama-lama disana. Kebetulan aku tidak ada pekerjaan yang mendesak. Di bulan Ramadhan selain ke masjid, perpustkaan menjadi sebuah tempat pilihan yang wajib dikunjungi. Aku perhatikan rak-rak dengan buku-buku yang disusun rapi dengan kode-kode tertentu yang sudah dibuat oleh petugas perpustakaan. Mataku tertuju pada quote yang ditulis besar sebagai icon perpursatakaan.
“A Room Without Books Is Like A Body Without Souls.” – Marcus
Setuju sekali dengan quote yang tertulis itu. Buku-buku yang banyak itu mesti dibaca oleh para personel Lemhannas RI sebagai pengunjungnya. Mungkin membaca di perpustakaan selama satu jam pada saat jam istirahat setelah sholat dhuha atau dzuhur di bulan Ramadhan. Jika hari-hari lain bisa membaca 30 menit disesuaikan dengan kesibukan kantor masing-masing. Kegiatan membaca mesti disempatkan walau sibuk, agar otak terus terasah. Bagi yang gemar menulis, membaca buku dari perpustakaan dapat menjadi referensi untuk tulisannya.
Menjelang hari ulang tahun Lemhannas RI yang ke-58 aku ikut mendaftarkan buku soloku untuk mengikuti pameran buku di Lemhannas RI. Lumayan sudah lima buku. Semoga para pengunjung nanti tertarik untuk membaca bukuku dan bahkan membelinya. Pada bulan Mei 2022, aku baru bisa mendaftarkan 3 bukuku karena buku keempat baru mendapatkan ISBN di bulan Desember 2022 dan buku kelima di awal Januari 2023.
Buku-buku di perpustakaan mayoritas tentang politik, Sumber Daya Manusia (SDM) dan kebijakan publik. Bukuku sangat berbeda karena termasuk kelompok buku bacaan ringan yang menceritakan true story atau pengalaman pribadi juga tentang motivasi. Namun cukup bangga karena bukuku dapat menghiasi rak-rak buku di perpustakaan Lemhannas RI. Berharap akan ada yang membacanya. Aku memberikan e-book kedua bukuku terakhir yang berjudul, “Puisiku Goresan Hatiku” dan “A Cup of Tea from Nani’s Blog”. Untuk hard copy aku serahkan kelima bukuku untuk ikut dalam pameran buku nanti.
Akhirnya aku juga meminjam buku dari perpustakaan tentang Geopolitik. Aku kembali ke kantor dengan hati bahagia karena bisa datang ke perpustkaan dan berbincang-bincang tentang banyak hal positif khususnya tentang literasi disana.
Jonggol, 9 April 2023
Nani Kusmiyati











Waah senang dan bhgianya hasil karya 5 buju akan di ikutkn dalam paneran.. semangat terus berkarya Mbk..