
Menjadi Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut) atau Woman Navy memang cita-citaku ketika aku duduk di bangku SD kelas VI karena ketertarikanku dengan seragam putih yang dikenakan kakak pertamaku ketika pulang dari Surabaya selesai dilantik menjadi Letnan Dua. Aku memang tidak banyak tahu tentang TNI AL karena di Kediri aku lebih banyak ketemu dengan Polisi dan TNI AD. Polisi dengan seragam coklatnya dan TNI AD dengan seragam hijaunya.
Ketika kakak datang, dia mengenakan seragam putih dengan pedang panjang dan membawa beberapa foto kegiatan pada saat upacara dan perjamuan formal. Aku menjadi tertarik untuk menjadi seperti kakak. Karena penempatan kakak di Surabaya akhirnya kakak menemukan jodohnya juga di sana. Kakak menetap di Surabaya dan jarang pulang ke Kediri karena kesibukan di tempat kerja dan fokus kepada keluarganya.
Ketika kelas I SMA keinginanku menjadi KOWAL tidak terlalu menggebu-gebu karena masa transisi dari SMP ke SMA. Pelajaran di SMA membutuhkan perhatian ekstra karena akan diadakan penjurusan IPA dan IPS. Mayoritas siswa SMA kelas I ingin mendapatkan IPA termasuk aku, karena di benak kami setelah lulus SMA nanti akan mudah untuk melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Aku bersyukur bisa masuk kelas IPA.
Pada saat kelas II SMA hatiku mulai bimbang akan mencoba test KOWAL atau kuliah. Aku melihat teman-temanku fokus untuk kuliah setelah lulus SMA. Aku berfikir keras dengan berbagai pertimbangan, jika kuliah pasti memerlukan biaya yang tidak murah dan aku tidak yakin dengan kemampuan keuangan orangtuaku. Aku juga bingung jika aku harus kuliah jurusan apa dan universitas mana yang hendak aku pilih.
Kemudian aku berdiskusi dengan kakak perempuanku, mba Mina dan kakakku memberikan gambaran kondisi keuangan orangtuaku tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah hingga selesai. Untuk mendaftar test masih bisa. Kak Mina sendiri setelah lulus SMA tidak dapat kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Aku menyadari hal itu.
Saat kelulusan tiba, para siswa mulai di data akan mendaftarkan ke universitas mana dan memilih jurusan apa. Saat itu aku juga ikut mendaftar Akademi Penilik Kesehatan di Surabaya dan D3 Fisika di Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat itu tidak ada S1 Fisika di UNS dan test seleksi penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru) berpusat di Universitas Brawijaya (UNBRA) Malang kecuali Akademi Penilik Kesehatan memiliki jadwal dan tempat test tersendiri di Surabaya.
Pada saat bersamaan aku mendapatkan pamflet tentang penerimaan Bintara TNI AL dari tetanggaku Marinir yang berpangkat Kopral kepala. Aku didukung oleh Mbak Mina dan kedua orang tuaku. Akhirnya aku mendaftar KOWAL dan Sipenmaru. Jadwal test KOWAL dan Sipenmaru tidak bersamaan. Sehingga aku bisa mengikuti kedua-duanya. Mba Mina yang selalu menemaniku pada saat test.
Alhamdulillah aku lulus kedua-duanya. Rejeki sedang dipihakku. Pengumuman masuk KOWAL lebih dulu daripada test Sipenmaru. Tentunya aku memilih KOWAL karena masa depan yang sudah jelas. Jika aku tidak mengikuti KOWAL aku akan mendapatkan berbagai konsekuensi yang harus aku pertanggunjawabkan. Hidup terus berjalan, cita-citaku untuk menjadi KOWAL telah menjadi kenyataan. Selama menjadi KOWAL aku juga bisa kuliah S1 dan S2 dengan biaya dinas. Allah telah memberikanku segalanya. Puji syukur selalu aku panjatkan ternyata pekerjaan impian dimasa kecil dapat terwujud.
Nani Kusmiyati, S.Pd., M.M., CTMP.
Surabaya, 8 Mei 2021






