Tantangan 40 Hari Menulis Justeru Tepar di Minggu Pertama

Sejak 3 hari dalam pekan terakhir di bulan Agustus 2021 ini (Selasa, Rabu, Kamis 24-26/8), saya “tepar” di tempat tidur, akibatnya gak bisa ke mana-mana. Hanya di rumah saja gara2 radang tenggorokan dan maag kronis yang kumat lagi. 

Tantangan “Menulis 40 Hari Tanpa Jeda” dari program ulang tahun pertama penerbit buku Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), ikut terganggu. Untungnya, ada keringanan bisa dirapel tulisan yang tertinggal untuk diteruskan lagi. Termasuk tulisan dari status FB ini.

Alhamdulillah. Bukan tulisan jiplakan atau adaptasi dari cerita Cinta dan Rangga versi film “Ada Apa Dengan Cinta (AADC)”. Tapi pengalaman pribadi sesuai tema lomba tantangan menulis 40 Hari YPTD, yakni KMAA, “Karena Menulis Aku Ada”.

Ya, ini bermula gara-gara “tepar” itu. Secara istilah, kata “tepar” atau “terkapar” ini sering digunakan bagi pengguna media sosial, untuk keadaan di mana seseorang sedang merasakan kelelahan atau sedang sakit. Secara bahasa, kata “tepar” adalah terbaring tidak diperhatikan atau tidak beraturan; terhantar. Istilah lainnya boleh ditelusuri di sini : Arti kata “Tepar” Yang Populer di Medsos.

Saat “tepar” itulah, perut terasa melilit. Sakit di bagian tenggorokan jika menelan makanan keras. Menelan ludah saja sudah mengganjal. Badan tiba2 panas terutama di bagian leher. Sudah dikompres pakai handuk basah, bak radiator mobil yang kepanasan 🤣 Seluruh persendian : punggung, pinggang, paha, betis, terasa remuk. Tersiksa benar.

Banyak yang menyarankan agar minum aja obat herbal, atau ramuan tradisional. Jangan ke dokter, apalagi ke rumah sakit. Nanti di-covid-kan. Waduh. Atau ada yang sarankan, agar “segera PCR aja bang Nur, biar ketahuan itu sakitnya karena apa”.

Setengah yakin, saya dan istri putuskan segera ke dokter praktek langganan keluarga kami. Tempat prakteknya tak jauh dari rumah. Dokternya sudah paham sakit saya, pasiennya.

“Si ayah ini paling sakit hati Bu,” canda pak dokter kepada istri saya. “Diagnosa dokter kalau keluhan saya begini, rasanya gak begitu deh,” balas saya. Dokternya ketawa. Saya khawatir, dokter bilang saya positif terpapar Covid19.

Wow…jangan deh. Repot nanti keluarga saya. Dokter mengulangi lagi kata-katanya. “Ibu, si ayah ini sakitnya biasa aja koq. Cuma sakit hati hahaha….”. Alamak, di saat saya tegang, dokter masih mencoba berkelakar. Mungkin semua pasiennya dibercandain begini deh. Bukan saya saja. Pantas saja tempat prakteknya gak pernah sepi.

Saya langsung meralatnya. “Kalau sakit hati sih, itu sudah lama dok”. Lalu kami bertiga tertawa. Akhirnya saya yang bercerita panjang lebar. Awal mula datangnya tanda-tanda sakit ini. “Berarti bapak kecapean, perlu banyak istirahat,” dokter itu menyimpulkan akhirnya.

 

Selesai diperiksa, dapat resep obat, saya pamit keluar ruangan. Istri yang menebus obat di tempat itu juga. Hanya beda ruangan. Dengan pertimbangan kalau ini “penyakit rutin” yang sudah sering jadi langganan saya. Timbul-Asmuni, eh itu Srimulat. Maksud saya timbul- tenggelam, datang dan menghilang. Dari awal saya sudah yakin, kalau ini pasti radang tenggorokan dan maag kronis saya yang kumat.

Mengangkat Galon Air

Saat kondisi badan saya mulai agak mendingan, sudah bisa bangun dari tempat tidur, saat itulah istri minta tolong. Minta dibantu menaikkan galoin air ke dispenser. “Sudah kuat ngangkat galon gak pah?” tanya istri.

Saya menjawab dengan enteng, “Insha Allah kuat, apalagi kalau dilakukan dengan perasaan cinta, pasti jadi ringan. Kalau sekedar mengangkat galon air mah masih enteng.”

Istri saya langsung memotong, “udah ah, masih pagi, gak usah gombal…” hahahaha….Malah jawaban istri tadi, jadi kekuatan tambahan bagi saya mengangkat galon air. Luar biasa kan? Cinta itu bukan hanya perlu dirawat, tapi harus terus diperbaharui setiap saat. Baik dengan lisan maupun perbuatan. Ciiieeeh…🤣

Saat makan siang, istri membuatkan bubur sesuai saran dokter. Juga mengingatkan agar minum obat sakit radang tenggorokan, obat mual, obat pusing, obat panas, obat lambung. Ada tablet, kapsul dan obat cair. Ada yang diminum 1 jam sebelum makan, juga ada setelah makan.

Begitu bubur tersedia, saya mencari lauk kesayangan: ikan bandeng bakar yang “berenang” di atas air garam. Atau ikan “pallu’mara” — ikan bandeng bumbu kuning, khas Makassar dari bahan “Juku Bolu”. Juku artinya ikan, bolu artinya bandeng. Bukan kue bolu ya.

Makanya PSM Makassar pakai julukan “Juku Eja”. Artinya ikan merah, mungkin karena kaos pemainnya berwarna merah. Tapi memang ada koq, ikan di sana namanya Juku Eja.

Sama dengan pengalaman teman saya dari Jakarta, ketika saya bawa ke Makassar. Waktu diajak mampir di rumah makan Sop Saudara (bukan saudara yang punya rumah makan yang dibikin sop ya, bukan), diansi teman tadi ini terlihat bingung. “Planga-plongo” kata orang Jawa, “lippui” atau “abbangngo-bangngoi” kata orang Makassar.

Kenapa Mas? Dia lalu cerita sambil ketawa. Katanya, “Saya heran (gak bingung ternyata, hanya dia heran 🤣) koq ada tulisan ‘sedia ikan bolu’. Apa ikannya dicampur kue bolu?”.

Hahahaha… itu rupanya yang bikin teman tadi bingung, eh heran. Tenang aja Mas, di sini itu biasa koq. Ini Kota Makassar, kota para “Daeng” yang selalu ada “Angin(g) Mammiri”, angin berhembus. Maksain amat ya? Hehehe…🙏

Memperbaharui Cinta Kami

Eh iya, kembali ke cerita bubur yang sudah disediakan istri tadi. Begitu tahu saya mencari lauk kesayangan, istri menjawab, “masih pagi, belum sempat ke pasar beli ikan (bandeng atau bolu, maksudnya). Pakai dadar telur aja ya”. Saya mengangguk.

Tiba-tiba putri bungsu saya menyahut dari kamarnya. “Kalau Mamah pegang duit banyak sekarang Pah, jangankan beli ikan bandeng, lebih dari itu bisa kali Pah”.

“Maksudnya Mamah beli apa dek? Beli Papah baru, hahaha…”

“Astagfirullah…”

Lalu kamipun bertiga tertawa di siang bolong. Tetangga mungkin kaget ada “kerusuhan” di dalam rumah kami, tapi biarin aja deh.

Nah, Inilah salah satu gaya kami merawat dan memperbaharui terus cinta kami. Kali ini gak perlu pakai “cieeeh” lagi deh. Tapi mohon diaminkan saja. Aaamiin!

#NurTerbit #KMAA-4 

* Sebelumnya tulisan ini dimuat di akun Facebook @Nur Alim Advokat, Kamis 26 Agustus 2021 dengan judul asli : ADA APA DENGAN CINTA? Cerita Saat Lagi “Tepar” Di Rumah.

Tinggalkan Balasan