
Hari ini, aku kembali datang ke rumah sakit ini. Aku datang bukan karena aku sakit. Aku datang ketika pagi-pagi ketika aku sedang memasak di dapur, handphonku berbunyi. Pesan lewat whatsaap masuk dari adikku. Katanya,”bisa kakak ke rumah sakit, ibunya Whendi dirawat di IGD.”
IGD adalah singkatan dari Instalasi Gawat Darurat.IGD merupakan singkatan dari Instalasi Gawat Darurat. Selain dokter spesialis dan dokter umum yang bekerja di dalamnya, IGD memiliki ruang yang cukup besar serta alat yang digunakan lebih lengkap.
Perbedaan IGD dan UGD juga kondisi darurat yang dialami pasien, di ruang IGD menangani beberapa kondisi darurat seperti serangan jantung, stroke, dan luka tembak.
Waktu petugas yang bertugas di ruang IGD yaitu selama 24 jam/7 hari, staf yang bertugas di dalamnya berupa asisten dokter, dokter, praktisi perawat, dan perawat yang terlatih dalam memberikan perawatan darurat, serta tim yang memiliki kemampuan cepat dalam penyedia ahli spesialis lanjutan seperti neurologi, kardiologi, dan ortopedi. Ruang IGD juga terdapat sumber daya laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosis serta memberikan perawatan untuk pasien yang sedang dalam kondisi parah dan mengancam jiwa.
Pasien dalam keadaan darurat merupakan suatu keadaan dimana terjadi secara tiba-tiba dan tidak diperkirakan sebelumnya seperti kecelakaan, atau kebutuhan yang mendesak. Sedangkan pasien yang dalam keadaan gawat merupakan suatu keadaan yang berkaitan dengan suatu penyakit atau kondisi yang mengancam jiwa.(https://aido.id/health-articles/jangan-sampai-salah,-ini-perbedaan-igd-dan-ugd/detai)
Sehingga, sifat operasional di ruang IGD tepat, cepat dan tidak dibatasi waktu. Maka, ruang IGD sangat bergantung pada sumber daya manusia, fasilitas, dan tata cara kerja yang baik dan benar.
Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan saja padahal kepalaku sangat sakit dari semalam. Kepalaku sakit ketika akan berbalik arah waktu tidur. Kekeluargaan yang ditanamkan oleh ayahku pada semua buah hatinya sangat baik. Saling pengertian, saling sayang, saling memperhatikan bahkan ketika kami berselisih paham pun tak pernah muncul di permukaan. Ayahku tak pernah tahu jika suatu waktu kami pernah berselisih paham. Kami mampu meredamnya sampai kami bisa saling mengintrospeksi diri.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap, aku berangkat dengan sepeda motor yang selalu setia menemaniku, vario warna pink yang ku peroleh dari hasil jerih payahku, enam belas tahun yang lalu, tahun 2007.
Meski usia tua, sepeda motor kesayanganku ini membawaku dengan cepat tiba di rumah sakit. Aku langsung menuju ruang IGD, tempat adik iparku di rawat. Di sana sudah menunggu adik perempuanku yang selama ini sangat dekat denganku. Ia berdiri di sisi tempat tidur (tempat tidur pasien) yang ditempati oleh adik iparku. Aku pun turut berdiri di tempat itu sambil bertanya tentang kondisi adik iparku yang saat itu sudah terbangun. Katanya, ia kena demam berdarah atau DBD.
Saat aku mendengarkan cerita awal mula adik iparku cerita tentang sakit yang diderita, pandanganku tertuju pada seorang pasien yang baru datang. Ia tertidur lemas di atas tempat tidur pasien yang didorong satpam. Aku kaget, melihat pakaian yang dikenakan pasien itu seperti pakaian ayahku. Usianya juga seperti tak jauh dari usia ayahku. Seperti wajah lelah di usia tuanya sama dengan ayahku. Bulir-bulir hangat terasa membasahi wajahku. Mataku terasa perih, hidungku yang sudah capek dengan masker semakin kesulitan bernapas.
“Seperti baju Bapak.”ucapku memberitahu adikku yang selalu siap siaga ketika ada keluarga yang sakit.
“Ah, tidak!” jawab adikku berusaha mengalihkan perhatianku. Rupanya adikku melihat wajahku yang sudah mulai memerah.
Meskipun adikku sudah berusaha mengalihkan perhatianku, aku tetap saja mengarahkan pandanganku pada pasien yang sedang ditangani perawat. Aku sempat kesal juga saat perawat sibuk menanyakan kartu BPJS pasien pada keluarganya. Lagi-lagi prosedur perawatan mungkin seperti itu, Entahlah…
Tetapi aku ingin, pasien dirawat dulu baru sibuk dengan urusan BPJS. Segala macam pikiran memenuhi kepalaku saat itu. Aku pernah mengalami bagaimana menggunakan kemanfaatan kartu yang satu ini termasuk kesusahan dengan kepemilikan kartu yang konon katanya menolong.
Di tengah lamunanku, kembali aku memperhatikan dengan seksama pasien yang telah membuat mutiara berjatuhan dari kawahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kaki itu, desahku perlahan. Persis seperti kaki ayahku yang sering ku lihat. Kaki itu seperti bekas lumpur yang sudah mengering. Kaki yang bergumul dengan lumpur sawah, berangkat dan pulang tanpa alas kaki. Bukan selangkah tapi ribuan langkah bahkan tak terbilang langkah kaki itu berjuang demi keluarga.
Mungkin pasien laki-laki itu jatuh sakit ketika ia sedang berada di sawah. Ia dibawa keluarganya tanpa membersihkan kakinya terlebih dahulu.
Aku sudah tidak asing lagi dengan kaki kotor seperti kaki pasien laki-laki itu. Kaki ayahku yang seorang petani penggarap. Kaki ayahku yang kotor dengan lumpur sawah namun suci bagiku. Kaki yang selalu kuat berjuang untukku dan keluargaku.
Ruang IGD ini mengingatkanku pada banyak cerita tentang ayahku. Andai ruang IGD ini mampu bicara, maka ia akan ceritakan padaku tentang semua yang dirasakan ayahku saat dirawat di sini.
Aku hanya berkata pada perawat yang bertugas hari itu,”Terima kasih telah merawat ayahku dulu di sini. Kini ayahku sudah tidak ada lagi.”








