Belajar Dari Rumah (BDR); Rinduku Padamu

Terbaru411 Dilihat

Oleh Nuraini ahwan

Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al qur’an, Jadikan ia imam kami, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami.Ya Allah, ingatkanlah kami apa yang kami lupa dan ajarkan bagi kami apa yang kami jahil. Karuniakanlah kepada kami untuk dapat membacanya sepanjang malamnya dan sepanjang siangnya. Jadikanlah ia prisai kami, Wahai Tuhan sekalian alam

Untaian kalimat di atas membuat hati bergetar dan mengingatkan penulis pada kegiatan tahun 2019 yang lalu. Kegiatan pada bulan suci Ramadhan di tempat saya bertugas. Kalimat di atas membuat saya menangis. Ada keharuan dalam diri. Saya selalu meminta peserta didik-siswi untuk mengulangnya sampai berkali-kali. Saya memberi komando,”Ayo..mana suaramu, nak! Lebih kencang lagi, yang lantang, nak! Biarkan suaramu terdengar sampai rumahmu yang jauh di sana!” Serentak peserta didik-siswi menambah volume suaranya sehingga suara 215 peserta didik seakan menggetarkan sekolah.

Cerita pagi ini, Selasa 12 Mei 2020. Penulis  duduk sendiri di belakang meja piket guru. Suasana memang tidak seperti biasanya. Corona virus disease membuat semua tatanan kehidupan berubah. Wabah atau pandemi covid 19 ini telah mengaduk-aduk perasaan perasaan penulis. Di belakang meja piket, ia hanya duduk termenung sembari menunggu teman-teman piket yang lainnya. . Tidak ada lagi celoteh peserta didik yang terdengar. Hanya suara kendaraan yang terdengar.  Getaran yang ditimbulkan oleh kendaraan jenis dam membuat lamunan penulis menjadi buyar. Wajar saja karena tempat tugas penulis  berada di pinggir jalan antar kabupaten yang lalu lintasnya sangat ramai setiap hari.

Pandangan pun menyapu seluruh sekolah. Dari bagian ujung yang satu ke ujung yang lain.  Pandangannya sampai pada halaman sekolah yang sangat lengang dan sepi. Halaman seakan menyapa,” Hai…mana peserta didikmu? Mengapa ia tidak berlari-lari di sini? Mengapa mereka tidak lagi melantunkan ayat suci Al Qur’an lagi  di sini ? Aku sudah bersih di sapu dari tadi.”

Penulis hanya bergumam sendiri,”Dulu, pada jam ini, halaman ini sudah dipenuhi oleh peserta didik perempuan yang tampak cantik. Busana muslim yang dibalut dengan  menggunakan mukena, menyandang Al Qur’an suci di dada. Peserta didik laki-laki dengan gagahnya menggunakan busana muslim , peci hitam menambah kegagahan dan kesholihannya.

Di halaman inilah, setahun yang lalu semua peserta didik berkegiatan. Sangat seru dan menyenangkan. Mereka tidak merasakan panas meskipun sudah terik. Mereka asyik dalam kelompoknya melaksanakan kegiatan tadarrus dengan dikoordinir oleh masing-masing guru. Mereka melaksanakan tadarrus dengan pola yang diterapkan oleh sekolah.
Pola yang diterapkan dalam tadarrus tahun lalu adalah “One Day One Juz One Grup.” Pola ini dilengkapi dengan media berupa satu kaleng Juz yang terbuat dari kaleng bekas ( Juz Al Qur’an bukan juss minuman) yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menarik bagi peserta didik. Penamaan pola ini sesuai dengan media yang disiapkan. Media ini membuat daya tarik sendiri pada peserta didik. Mediayang cantik dan menarik.

Dalam kaleng juz tersebut berisi kartu potongan surat dan ayat. Kaleng juz dibuat sebanyak 30 yang mencerminkan juz 1 sampai juz 30. Sehingga disebut kaleng juz 1 sampai kaleng juz 30. Dalam kaleng juz itulah terdapat potongan-potongan surat (nomor surat) dan ayat yang akan dibaca peserta didik sesuai dengan potongan surat (nomor surat) yang diambil
Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Dalam setiap kelompok dipimpin oleh 1 orang ketua kelompok dan 1 guru pemandu. Pada awal pelaksanaan kegiatan, kepala sekolah atau guru agama memberikan arahan cara kerja atau pelaksanaan.

Pertama, semua kelompok peserta didik duduk di halaman yang sudah digelar karpet. Koordinator pelaksana menyiapkan kaleng juz di depan. Selanjutnya ketua kelompok mengambil 1 kaleng juz dan menyerahkan kepada anggota kelompoknya. Guru pemandu atau pendamping masing-masing kelompok membimbing peserta didik cara membaca kartu surat, ayat dan halaman yang tertera pada potongan kartu. Selanjutnya peserta didik membaca Al Qur’an sesuai dengan potongan kartu yang mereka ambil masing-masing dalam kaleng juz. (ada perbedaan tugas untuk peserta didik yang masih ikro’ dari hasil pendataan sebelum pelaskanaan)

Pola ini mampu menyelesaikan pembacaan Al Qur’an sampai beberapa juz dalam sehari. Bagi kelompok yang sudah selesai membaca 1 juz menurut kaleng juznya, mereka boleh mengambil kaleng juz berikutnya yang belum dibaca atau lanjutan juz dari kelompok kaleng juz yang terakhir diambil.

Untuk memotivasi grup, koordinator membuatkan jurnal membaca Al Qur’an yang diisi setiap hari, juz apa yang dibacanya. bepa banyak juz yang dapat dibaca oleh kelompoknya pada hari itu.  Bolehkan, berkompetisi untuk kebaikan? Guru pendamping bertugas menyimak dan memperbaiki bacaan peserta didik yang belum tepat. Jadi tidak ada kesan mengejar asal khatam.

Di penguhujung kegiatan apabila sudah khatam, diadakan kegiatan  khataman Al Qur’an., Itu adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi kami. Peserta didik melaksanakan khataman  layaknya mereka khataman Al Quran di masjid. Sebelum khatam Al Qur’an, peserta didik melantunkan doa khatam Al Qur’an yang artinya seperti yang tertera pada awal tulisan ini.
Sebelum acara khataman Al Qur’an dimulai,  kepala sekolah berpesan” Bacaah Al Qur’an dengan hati. Taruh Al-Qur’an di tempat tertinggi dan dekaplah di dadamu!”
Kalimat yang bermakna sangat menyentuh hati dan penuh arti.  Guru agama Islam selaku koordinator kegiatan menjelaskan makna yang terkandung dalam lagu yang di khataman Al Qur’an.

Penulis meneteskan air mata, mengingat peserta didik yang masih saja belajar  dari rumah (BDR) sampai waktu yang belus bisa ditentukan.  Penulis sungguh merindukana suara mereka, rindu gelak tawa mereka, rindu lantunan doa mereka. Rindu pada suara mereka yang menggema sampai jauh dan pada  kalimat yang mereka lantunkan “Allhaummarhamna Bil Qur’an……..”
Rindu padamu duhai peserta didik-, jadilah generasi pencinta Al Quran. Jadikanlah membaca Al Qur’an sebagai kebutuhan. (Lombok, 13 Mei 2020)

Tinggalkan Balasan