Benarkah Pembelajaran Pola Dalam Jaringan Mahal

Terbaru1650 Dilihat

Oleh Nuraini Ahwan

“Benarkah Pembelajaran Teknik Daring Mahal?” Jawaban pembaca tentunya akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi, tempat, keadaan ekonomi dan sebagainya.

Tulisan ini diangkat dari pelaksanaan pembelajaran jarak jauh di tempat penulis bertugas. Sejak pandemi corona virus disease 19 melanda negara kita Indonesia,  pembelajaran jarak jauh  sudah sekian kali mengalami perpanjangan waktu.
Pembelajaran dengan pola dalam jaringan atau  daring jaringan  membutuhkan jaringan internet dan kuota internet yang cukup, handphone android, tablet, lattop, dekstop atau salah satu di antaranya. Ini pastinya memerlukan dana yang cukup untuk membeli perangkat di atas, membeli kuota internet dan memerlukan signal yang lancar untuk bisa melaksanakan atau mengikuti pembelajaran jarak jauh pola dalam jaringan ini.

Penulis  mengambil  contoh langsung di tempat penulis bertugas. Sebuah sekolah desa yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan pola dalam jaringan.  Guru memanfaatkan aplikasi sederhana yakni whatsaap. Pemilihan aplikasi whatsaap ini dengan pertimbangan kemudahan penggunaannya,   Apilkasi ini yang mampu digunakan oleh semua guru pada tahap awal pelaksanaan “Belajar Dari Rumah atau disingkat BDR.
Demikian juga secara umum aplikasi wahtsaap ini yang mampu digunakan oleh sebagaian besar peserta didik dan orang tua siswa.  Orang tua menjadi perhatian juga dalam pembelajaran ini karena  yang akan menjadi guru bagi peserta didik  di rumah adalah orang tua mereka sendiri. Orang tua yang akan mendampingi putra-putrinya belajar di rumah. Orang tualah yang menjadi guru menggantikan peran guru sementara.

Whatshap sebagai aplikasi yang digunakan di tempat penulis bertugas semakin hari anggotanya semakin banyak. Hampir seratus persen  orang tua menjadi anggota watshap grup kelas pada tahap 4 BDR ini.
Dari jumlah anggota grup kelas yang hampir mencapai seratus persen ini, penulis dapat merekam beberapa chat anggota yang mengindikasikan bahwa pembelajaran jarak jauh dengan pola dalam jaringan  (daring) ini mahal. Walaupun ini mungkin tidak terjadi di tempat lain.

Beberapa chat itu merupakan jawaban dari peserta didik kelas tinggi (4, 5,6) dan beberapa orang tua kelas awal (1,2,3) ketika ditanya oleh guru kelas “Mengapa telat mengirim tugas atau mengapa tidak mengirim tugas?”
Jawaban mereka beragam. Jawaban yang memperkaya istilah-istilah pada masa covid 19 ini dan jawaban yang mengindikasikan pembelajaran teknik daring mahal. Begini jawaban mereka:
1. Ma.af Bu, dana kuota internet saya kalah dengan lombok Tengah (penghalusan kata perut lapar) jadi belum bisa mengirim tugas.
2. Ma.af Bu, saya telat mengirim tugas karena kuota internet saya sekarat.
3. Ma.af Bu, kuota internet saya lagi lock down, jadi baru sekarang bisa kirim tugas.
4. Ma.af Pak, kouta internet saya ikuta kena corona, jadi baru sekarang mengirim tugas.

Masih ada beberapa chat orang tua  yang menunjukkan bahwa BDR dengan teknik dalam jaringan memerlukan biaya. Semakin banyak tugas diberikan, semakin banyak tugas yang harus dikumpulkan, semakin beragam tugas semakin beragam pula yang harus dikirim. Semakin banyak pula kuota internet yang harus disiapkan. Apakah mungkin karena penulis adalah guru di desa dengan peserta didik yang sebagian besar berasal dari orang tua dengan ekonomi menengah ke bawah sehingga pembelajaran teknik daring ini terkesan mahal?

Bagi orang tua, memiliki handphone android saja, sudah merupakan suatu kesyukuran yang luar biasa bagi  orang tua atau peserta didik kami. Sehingga penulis mempertanyakan ” Apakah benar pembelajaran jarak jauh mahal?”
Penulis juga pernah menonton sebuah tayangan di youtube, yang meminta perkuliahan jarak jauh model daring dihentikan karena dinilai mahal dan merugikan mahasiswa. Ma.af penulis lupa di chanel yuotube apa namamnya.
Intinya , tayangan itu menjelaskan jika mahasiswa sehari mengikuti perkuliahan jarak jauh menghabiskan dana Rp 50.000 untuk membeli kuota internet, maka dalam satu minggu  akan menghabiskan dana Rp 350.000. Oleh karena itu ia mengatakan pembelajaran atau perkuliahan seperti ini mahal dan minta dihentikan.

Memang BDR ini memerlukan biaya, tetapi apa boleh buat. Ini bukan pilihan tetapi lagi-lagi merupakan keharusan. Agar tidak memberatkan orang tua di tempat penuis bertugas,  maka guru mengurangi tugas untuk menonton youtube tentang pelajaran, tentang sekolahnya, mengurangi peserta didik membuat video dan lain lain tugas yang menyedot kuota internet yang banyak. Terpenting bagaimana anak mampu menahan diri untuk tidak keluar rumah dengan tugas dari guru dan mengimplementasikan pendidikan karakter dalam kehidupannya.

Di tengah pelaksanaan pembelajaran yang terkesan mahal ,  kewajiban tambahan guru yang berdiri di garda terdepan adalah  memberikan wawasan, pandangan dan membangun kesadaran kepada orang tua  bahwa pembelajaran ini memang harus dilakukan seperti ini. Cara aman untuk memutus penularan virus corona.
Guru dan orang tua saat ini harus bersama – sama berdiri di garda terdepan untuk mencegah terputusnya pendidikan bagi anak bangsa.

Pesan penting juga untuk orang tua adalah pengawasan dan pendampingan secara maksimal kepada putra-putri masing-masing di rumah pada saat mengerjakan tugas pembelajaran dengan penggunaan handpone. Jangan boros kuota karena putra-putri mereka main game.

Tulisan ini sudah dipublikasikan pada blog milik penulis, https://nurainiahwan,blogspot.com

Tinggalkan Balasan