Strategi Pembelajaran Dalam Jaringan

Terbaru513 Dilihat

Oleh Nuraini Ahwan

Pembelajaran dengan pola daring atau dalam jaringan atau online yang dilaksanakan di SDN 1 Dasan Tereng tidaklah serta merta berjalan mulus. Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab pembelajaran pola daring ini tersendat-sendat alias tidak mulus. Faktor penyebab yang dimaksud adalah:
1. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pola daring baru pertama kali dilakukan masih kurang;
2. Keterbatasan sarana atau media berupa lattop, tablet atau handphone yang akan di gunakan oleh peserta didik;
3. Peserta didik adalah peserta didik yang masih usia 7-12 tahun yang sangat rentan dengan pengaruh negatif internet sehingga memerlukan pendampingan penuh dari orang tua;
4. Secara rata-rata ekonomi orang tua atau wali murid masih berada pada golongan ekonomi menengah ke bawah, sehingga kesulitan untuk penyediaan kuota.

Tetapi berkecil hati tidaklah tepat, jika saat kebijakan belajar di rumah dilaksanakan lalu kita pasrah begitu saja. Apapun adanya, apapun kondisinya sekolah harus berupaya memaksimalkan segala kemungkinan yang ada dengan memaksimalkan kekuatan yang ada meskipum kekuatan itu kecil. Yang saya maksud kekuatan di sini adalah kemampuan dan keinginan guru untuk belajar dan berinovasi dalam pembelajaran daring , keterwakilan peserta didik yang tidak memiliki sarana oleh adanya admin grup orang tua, dan kemauan orang tua untuk berbagi atau memberikan pinjaman handphone kepada tentangga pada saat melihat tugas dan mengumpulkan atau mengirim tugas kepada guru. (Tetap jaga jarak, pakai masker, dan tidak berkelompok atau tidak lebih dari 10 orang)

Teknik daring ini dilaksanakan di SDN 1 Dasan Tereng, dengan berpijak pada payung hukum yang kuat mulai dari :
1. Edaran Menteri Pendidikan Kebudayan RI, Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 19
2. PermenPAN-RB, Nomor: 19 tahun 2020, tanggal 17 Maret 2020 tentang penyesuaian Sistem Kerja ASN dalam Upaya Pencegahan Covid 19 di lingkungan instansi pemerintah
3. Edaran MenPAN-RB, Nomor: 34 tahun 2020, tentang Perubahan Atas Surat Edaran MenPAN-RB NOmor 19 tahun 2020 tentang Penyesuaian Sisten Kerja ASN Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah
4. Edaran Bupati Lombok Barat Nomor: 440/156/BUP/2020 tentang Sistem Kerja ASN dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintaj Kabupaten Lombok Barat.
5. Edararan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, Nomor: 800/782-Sekr/DISDIKBUD/2020, tanggal 30 Maret 2020, tentang pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, memperbaharui Edaran Nomor: 800/682-Sekr/DISDIKBUD/2020.

Kami menyebut edaran dan PermenPAN-RB di atas sebagai payung hukum karena edaran dan PermenPAN-RB itulah yang melegalkan pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah dan bekerja dari rumah.
Payung hukum di atas semuanya mengatur tentang Sistem Kerja ASN dan kegiatan belajar dari rumah yang diperkuat dengan terbitnya edaran dari dinas di mana kami bernaung yaitu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat.

Berangkat dari payung hukum itulah, Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng menyusun atau mengatur strategi mulai dari:
1. Membuat surat atau edaran ke wali murid tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar dari Rumah
2. Membuat surat tugas untuk ASN yang berusia lebih dari 50 tahun untuk melaksanakan tugas kedinasan dari rumah ( work from home).
3. Mengatur tugas pendidik dan tenaga kependiikan selama masa pembelajaran dari rumah bagi peserta didik
4. Memberikan pembekalan secara terus menerus kepada pendidik tentang pelaksanaan pembelajaran metode daring
5. Kepala sekolah mengevaluasi pembelajaran metode daring secara berkala (tanpa mengumpulkan pendidik lebih dari 10 orang)

Pembelajaran teknik daring yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng dari hari ke hari terus mengalami pembenahan. Tahapan pelaksanaaan teknik daring diawali dengan membentuk grup kelas dengan aplikasi whatsaap untuk setiap rombongan kelas. Karena jumlah rombongan kelas atau rombel kami ada 12, maka jumlah whatsaap grup pun ada 12. Setiap grup kelas mempunyai admin dari masing-masing dusun yang menjadi sumber peserta didik. Admin itulah yang membantu melacak dan memasukkan peserta grup
Untuk memantau pelaksanan daring, kepala sekolah masuk dalam whatsaap grup semua kelas. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya suara klang, klung bunyi di handphone kepala sekolah ketika chat masuk dari semua kelas. Sebentar saja kepala sekolah tidak membuka handphone, maka ratusan chat yang belum dibuka. Sabar membaca dan memberi komentar dalam beberapa kata atau dalam sekedar emoticon sebagai bentuk bahwa Kepala Sekolah menghargai kerja mereka. Cukup banyak memang karena 50 % wali murid sudah tergabung dalam grup. Jumlah ini akan bisa bertambah mengingat meningkatnya kepedulian wali murid terhadap pendidikan putra-putri mereka.
Seiring dengan pelaksanaan teknik daring ini, sederet cerita yang ditemukan oleh kepala sekolah. Mulai dari bentuk tugas yang diberikan kepada peserta didikoleh guru kelas, guru mapel yang tidak aktif, guru kelas yang timbul tenggalam di whatsaap grup termasuk cara guru memberikan tugas.
Yang lebih seru lagi, ketika kepala sekolah dapat mengetahui bahwa wali murid ada yang tidak sabar mendampingi putra putrinya. Hingga di chat peserta didik ada yang menceritakan bahwa ibu mereka tidak cocok menjadi guru he he he. Namun banyak juga wali murid yang minta tugas diperbanyak agar putra-putri mereka tidak bermain ke luar rumah.
Cerita lucu lainnya yaitu guru hanya menggunakan handphone untuk whatsaap dan nelpon saja, sehingga peserta didik diberikan tugas seabrek dan mencatat berlembar-lembar. Memberikan tugas dari halaman sekian sampai halaman sekian. Hanya lewat pesan singkat atau chat saja, bahkan memberikan tugas peserta didik menggunakan tulis tangan, tugas difoto dan di posting melalui whatsaap grup kelas. Padahal di handphone mereka bisa memakai writer plus dan aplikasi lainnya. Waduh…memang kurang wawasan saja dan kurang akrab dengan teknologi.

Kepala sekolah bertanya,”Apakah bapak dan ibu guru bisa menggunakan handphone untuk merekam suara, membuat video, atau menggunakan aplikasi pembelajaran lainnya?” Jawabannya , tidak!!
Akhirnya, variasi cara pembelajaran jarak jauh sangat diperlukan supaya peserta didik tidak bosan. Terbukti dengan memperdengarkan suara bapak dan ibu guru kepada peserta didik melalui pemanfaatan tanda micropon di handphone pada aplikasi whatsaap kepada peserta didik mengurangi kebosanan peserta didik. Bapak dan ibu guru bisa merekam suaranya untuk menjelaskan pelajaran lalu share ke grup kelas. Insyaallah peserta didik akan senang mendengarkan suara gurunya. Kepala sekolah memberikan tantangan ini. Alhamdulillah guru-guru mampu menjawab tantangan ini.
Ini artinya sudah ada peningkatan untuk beberapa orang guru. Mereka sudah juga sudah bisa menampilkan video dirinya dalam menjelaskan materi lewat whatsaap grup dengan aplikasi rekam layar.

Jangan dulu ke aplikasi zoom cloud metting, writer plus, webex dan lainnya, yang penting sederhana dulu supaya guru tidak bertambah kaget. Sebagian besar guru di sekolah kami masih gagap teknologi. Pernyataan ini adalah pengakuan jujur dari bapak dan ibu guru. Ketika saya bertanya tentang penguasaan mereka pada teknologi terutama pada pemanfaatan aplikasi- aplikasi yang ada di handphone miliknya terutama aplikasi yang berkaitan dengan pembelajaran.

Tulisan ini ada pada blog milik penulis yakni https://nurainiahwan.blogspot.com

Tinggalkan Balasan