Memaknai kata, Indonesia Terserah (Pagah dan Pengkong)

Terbaru391 Dilihat

Oleh Nuraini Ahwan

Membaca postingan di media sosial, menonton video di media sosial, media televisi dan membaca di media massa, menjadikan segala perasaan berkecamuk dalam hati. Bahkan ketika melihat langsung di lingkungan sekitar tak kalah membuat hati kesal, gemas, dan kecewa. Namun ada pula peristiwa yang sangat menyentuh hati. Ada rasa bangga dan  ada pula yang membuat hati sedih di masa pandemi covid 19  ini.

Postingan yang berisi curahan  hati para tenaga medis yang berdiri di garda terdepan menyelamatkan nyawa manusia membuat saya merasa besedih. Mereka rela tidak berkumpul bersama keluarga pada saat orang lain bisa berbuka puasa, santap sahur dan sholat  berjamaah bersama keluarga di rumah. Tenaga medis hanya bisa melepas rindu sama keluarga hanya dengan  menatap keluarga dari layar handphone.

Rasa bangga pun menyelinap dalam hati teruntuk  tenaga medis, yang rela berkorban  untuk menyelamatkan jiwa raga orang lain tanpa berpikir tentang keselamatan jiwa ragaya sendiri

Saya menonton video mereka yang saat itu, melepas pakaian yang berapa lapis banyaknya, lalu tidur terlentang di atas aspal di jalanan sepi di daerah perkampungan. Rupanya mereka baru saja selesai pemakanan jenazah covid 19 sesuai SOP yang sudah ditetapkan. Tampak mereka terengah-engah dengan keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Ketika diwawancara, suaranya terbata-bata karena capek. Ada rona gembira yang luar biasa ketika seragam layaknya astronot itu mereka lepaskan. Andai saja pakaian itu bisa cepat bisa dilepas seterusnya seiring dengan berlalunya civid 19, mereka pasti akam merasa bahagia yang  tak terhingga.

Postingan para pemerhati nasib para medis,  membuat saya merasa bangga dan salut atas perbuatan baik mereka. Seperti yang pernah saya tuangkan ceritanya dalam tulisan saya sebelumnya. Seorang pemilik home stay”Aksara’ di Mojokerto yang menjadikan home stay miliknya untuk tempat menginap bagi tenaga medis yang menangani pasien covid 19. Tidak sedikit ruangan home stay miliknya yang digunakan. Terhitung ada 20 kamar untuk penginapan para tenaga medis. Beliau menanggung semua biaya makan minum mereka alias gratis semua. Sungguh kebaikan yang luar biasa.

Pemandangan yang membuat hati lega, ketika masyarakat mau mengikuti protokol kesehatan yang dibuat oleh pemerintah. Keluar rumah dengan melengkapi diri menggunakan penutup wajah yakni masker. Pada tempat atau  fasilitas umum tersedia tempat cuci tangan. Masyarakat  tidak berada di tempat keramaian atau mau berusaha menghindari kerumunan.  Mereka hanya  keluar rumah kalau jika hendak mencari keperluan yang sangat penting.

Tapi tidak semua demikian, sepanjang perjalanan yang saya lalui beberapa hari yang lalu, saya masih melihat hal yang sebaliknya terjadi. Himbauan pemerintah tidak diindahkan.  Himbauan pemerintah melalui media sosial, media massa dan himbauan langsung dari perpanjangan tangan pemerintah seakan tak didengar. Pusat pertokoan  terutama toko pakaian penuh sesak berjubal. Seakan Idul Fitri tak akan tiba jika tidak mengenakan pakaian baru. Penjaja takjil sampai tak terlihat oleh kerumunan pemburu takjil di sore hari.

Mau kita katakan mereka un education, tidak juga.  Mengatakan  mereka tidak memiliki handphone android, untuk melihat dan mencermati himbauan pemerintah,  juga belum tentu benar.   Mereka tidak gaptek sehingga tidak bisa mengoperasikan handphone. Bukan karena mereka tidak beruang.

Kita lihat saja, kerumunan anak muda, mereka memakai sepeda motor bagus.  Duduk santai berkerumun tanpa menggunakan masker. Seolah tak ada bahaya yang mengancamnya.

Kita juga melihat orang berkerumun di pusat pertokoan, mall , dan pusat-pusat perbelanjaan.  Tentunya mereka memiliki kemampuan secara ekonomi, untuk sekedar harga masker dan handsanitizer bukan merupakan masalah baginya. Tetapi tidak juga mengindahkan himbauan pemerintah.

Inilah dalam bahasa sasak disebut pagah, pengkong (keras hati, tidak mau mendengar dan menurut). Awas…. kena dengan lagu Rhoma Irama,___buta tuli___. he he.

Timbul penyesalan dan khawatir saya secara personal, akan kesia-siaan usaha yang dilakukan selama 3 bulan ini terhitung Maret 2020.  Jika masih banyak yang terus tidak mengindahkan himbauan pemerintah ini, apakah kita akan kembali dari awal? Cukuplah waktu ini, yang terasa terlalu lama. (pendapat personal)

Ketika jemari tangan saya menggesek layar handphone turun naik, saya melihat satu postingan. Postingan itu pasti kita hafal siapa dia. Seorang berpakaian astronot memegang sebuah poster bertuliskan “Indonesia Terserah”

Apakah makna di balik kata “Indonesia Terserah?”

Menurut hemat saya, makna yang terselubung dibalik kata “Indonesia Terserah” adalah silahkan lakukan apa maumu, yang menurutmu benar. Jika tidak mengikuti anjuran pemerintah itu merupakan hal yang benar menurut hatimu, silahkan saja! Tetapi akibatnya tanggung sendiri. Saya tidak peduli. Bukankah pemerintah sudah mengingatkan?

Apakah karena ungkapan kekecewaan para medis ini ditujukan kepada pemerintah yang sepertinya tidak tegas menegakkan kebijakan atau aturan terkait protokol kesehatan yang sudah ditetapkan terkait Covid 19?  Seperti pusat keramaian masih saja dibuka.

Apakah kalimat ,”Indonesia Tersesrah,” juga merupakan ungkapan  kekecewaan kepada  masyarakat yang seakan tidak peduli dengan pandemi covid 19 ini? Tidak mengindahkan himbauan pemerintah alias pagah dan pengkong (keras hati dan tidak mau ikuti himbauan)

Bagaimana kalau seandainya, tenaga medis sudah tak mau lagi menangani pasien covid 19, sementara pagah, pengkong tetap saja melekat pada diri? Apa yang akan terjadi?

Mari, jangan sampai kalimat yang terpampang dalam poster ini menjadi benar adanya. Kasihan mereka juga manusia biasa, punya perasaan capek, lelah, pun punya keluarga yang menanti mereka di rumah.

Oleh karena itu, mari patuhi himbauan   pemerintah, agar covid 19 cepat berlalu.

Terlebih saat ini, pusat perbelanjaan ditutup total sejak 20 Mei 2020 sampai waktu yang tidak ditentukan. Pemegang kebijakan sudah tegas terhadap edaran yang dikeluarkan. Kita tidak perlu khawatir lagi. Terpenting adalah kita mengikuti aturan atau himbauan pemerintah tentang protokol kesehatan. Jangan pagah dan pengkong (keras hati, tak mau mendengar dan  tak mau menurut).  Insyaallah kita selamat.

Lombok, 21 Mei 2020

Tinggalkan Balasan