Praktek Baik  pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 19

Terbaru455 Dilihat

Oleh Nuraini

“Menulislah setiap hari, biarkan tulisan yang akan menemukan takdirnya sendiri.” Inilah kalimat yang menginspirasi penulis untuk mendokumentasikan setiap kegiatan.  Kalimat motivasi dari Ibu Sri Sugiastuti, MPd, yang lebih akrab dengan sapaan Ibu Kanjeng dalam grup menulis secara online. Kalimat motivasi itu memantik keinginan untuk menulis tentang pembelajaran pada masa pandemi covid 19. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada  evaluasi semua kegiatan yang sudah dilaksanakan  terekam dalam bentuk tulisan.

Penulis terus berinovasi  agar benar-benar bisa mewujudkan kerja terbaik yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.  Mengevaluasi pola pembelajaran yang dilaskanakan secara terus menerus untuk menemukan pola yang tepat. Ketika ditemukan hal-hal yang kurang sehingga menimbulkan perasaan bahwa kinerja belum maksimal, maka  akan membuat diri selalu terus berusaha dan tidak cepat berpuas diri.

Corona Virus Disease 19 (Covid 19), memunculkan  banyak ide untuk ditulis. Kalimat ini pernah ditulis pada blog https://nurainiahwan.blogspot.com. Corona juga memunculkan kreativitas dan inovasi guru dalam pembelajaran. Menjadikan tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan keprofesian guru. Ini terkait pula dengan beberapa isi blog saya sebelumnya tentang bagaimana guru yang ketar ketir ketika pembelajaran berubah pola pelaksanaannya pada masa covid 19.

Ketar-ketir, dan kalang kabut ketika pembelajaran akan bersentuhan dengan teknologi. Begitulah kira-kira kondidi yang menggambarkan perasaan guru ketika pembelajaran sontak berubah polanya begitu pandemic melanda negeri ini. Pembelajaran yang merubah dari pembelajaran secara tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, dalam jaringan, luar jaringan atau kombinasi keduanya. Ketar-ketir itu menjadi berkurang ketika guru memiliki komitmen untuk terus belajar, berinovasi dan mengeluarkan segala jurus kreativitasnya dalam pembelajaran jarak jauh.

Kegundahan dan ketar ketir yang dirasakan perlahan-lahan sirna jika guru bekerja dari hati, atau Work From Heart (WFH). Ini istilah yang penulis buat sendiri, berangkat dari pengalaman pribadi.  Jika pekerjaan dikerjakan dengan hati, maka tidak ada pekerjaan yang dirasakan berat. Rasa senang saja yang dirasakan dalam bekerja sampai waktu tak terasa cepat berlalu. Bahkan bisa jadi kita akan merasakan kekurangan waktu.

Pembelajaran jarak jauh bukan merupakan pilihan tetapi merupakan keharusan di masa darurat covid 19 ini. Ketika pembelajaran jarak jauh dilaksanakan, maka akan terpikir oleh guru, pola pembelajaran apa yang tepat dilaksanakan agar protokol kesehatan tetap bisa dipatuhi. Tidak cukup sampai itu saja, ketika pola pembelajaran sudah bisa tentukan seperti pola daring (dalam jaringan), pola luring atau luar jaringan dan atau kombinasi antara daring dan luring, harus berpikir pula pola manakah yang tepat.

Sebut saja ketika sekolah memilih teknik daring atau dalam jaringan maka akan  diperhitungkan  sarana apa saja yang diperlukan termasuk ketersediaannya. Sarana seperti latop, hnadphone androit, jaringan internet atau kemampuan  untuk membeli kuota internet. Barulah sampai kepada kemampuan guru dalam menggunakan pola pembelajaran dan pemanfaatan sarana yang digunakan.

Satu contoh,  ketika sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah dengan pola daring atau dalam jaringan, tentunya penggunaan teknologi yang paling dominan. Tidak pernah disebutkan teknologi diperuntukkan atau diwajibkan untuk guru yang lahir pada zaman milenial, atau guru yang masuk generasi y, generasi z dan generasi apa lah istilahnya.

Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di era sekarang ini bagi guru adalah sebuah keniscayaan. Karena  teknologi sangat mendukung pembelajaran  di masa covid 19. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dipandang lebih tepat  dalam rangka pemutusan penyebaran virus corona tekait dengan protokol kesehatan. Psysical distancing, sosial distancing dan menghindari kerumunan. Teknologi seakan bisa  memperpendek jarak meskipun lewat dunia maya, mempercepat informasi melalui pesan singkat, sms atau chat di whatsAap, bisa bertatap muka meskipun secara virtual, bisa bercakap-cakap melalui pesan suara dan sebagainya. Teknologi bisa memunculkan kreativitas dan inovasi bagi guru sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik.

Ketika kreatifitas dan inovasi pembelajaran benar-benar nyata dilakukan oleh guru  , kebermanfaatan, keunggulan dari kreativitas dan inovasinya bagus,  baik bagi peserta didik, orang tua /wali dan orang dewasa yang ada di rumah pada masa pandemi ini,  maka pembelajaran yang dilakukannya menjadi sebuah parktek baik   atau best practices bagi guru tersebut.

Guru hendaknya jangan membiarkan praktek baik itu hanya menjadi milik sendiri atau digunakan sendiri, tetapi berikan kepada orang lain  dengan cara mengabadikannya dalam tulisan atau mengikatnya dengan tulisan agar bisa dibaca orang lain.   Barangkali praktek baik itu bisa digunakan di sekolah pembaca dengan teknik adopsi, tiru, modifikasi (ATM). Oleh karena itu, menulis praktek baik sangat diperlukan untuk penyebaran inovasi-inovasi yang membuat pembelajaran lebih menarik.  Berbagi pengalaman baik, akan menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT.

Banyak sekali guru yang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik bahkan sangat baik. Guru yang memiliki kreatifitas tinggi, menemukan inovasi-inovasi dalam pembelajarannya. Kreatifitas dan inovasi yang belum tentu orang lain sudah melakukannya. Tetapi tidak banyak guru yang menulis apa yang sudah mereka lakukan. Mereka membiarkan praktek baiknya berlalu begitu saja.  Sangat disayangkan, bukan?

Sulitkah menulis itu? Saya menjawabnya tidak, karena menulis bukanlah merupakan bakat atau keahlian tetapi merupakan kebiasaan yang dilatih secara terus menerus. Banyak orang yang mampu menulis tetapi belum berani menampilkan tulisannya. Banyak orang yang pandai berbicara atau bercerita, tetapi tidak pernah menulis apa yang diceritakan. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menulis itu perlu keberanian. Keberanian untuk membiarkan tulisannya dibaca oleh orang lain. Membiarkan tulisan dikritik oleh orang lain bahkan mungkin ketika tulisan dicemooh oleh orang lain dan membiarkan tulisannya menemukan takdirnya dengan mengikutsertakan dalam lomba, mempublishnya melalui dunia maya, mengirimnya ke dunia cetak dan seterusnya.

Ada banyak manfaat ketika praktek baik yang kita lakukan didokumentasikan dalam tulisan. Bermanfaat untuk orang lain bermanfaat pula untuk diri sendiri.  Apabila ada lembaga yang hendak menginisiasi kegiatan lomba praktek baik guru, maka kita bisa mengikutsertakan praktek baik kita dalam lomba tersebut. Jangan menjadikan juara sebagai tujuan utama tetapi berbagi pengalaman, tukar pengalaman menjadi orientasi yang terpenting.

Setiap pelaksanakan lomba, tentunya akan memilih karya yang terbaik di antara yang terbaik. Seperti apa yang dilakukan oleh LPMP DIY baru-baru ini. LPMP Daerah Istimewa Yogyakarta, di bawah pimpinan Bapak Minhajul Ngabidin, S.Pd., M.Si, mengadakan lomba kreativitas dan inovasi pembelajaran di masa darurat Covid 19. Menjaring peserta dari seluruh provinsi di Indonesia. Penulis masuk menjadi salah satu peserta yang  duduk dalam nominasi 20 besar. Peserta 20 besar melakukan presentasi secara daring untuk menentukan peringkat 4 besar.

Pengumuman juara pun dilaksananakan. Euporia kegembiraan sang juara terlihat dari senyum dan anggukan kepala di layar lattop. Penghargaan yang luar biasa dari LPMP DIY. Mengabadikan tulisan  dari 20 peserta dan mungkin beberapa peserta lainnya  dalam sebuah buku  dan ber -ISBN. Buku yang insyaallah bisa digunakan oleh bapak dan ibu guru. Buku ini tentu akan menjadi  hadiah  istimewa  bagi seluruh peserta.

Menerbitkan buku dari tulisan peserta lomba juga pernah dilakukan oleh Pak Min, sapaan akrab Bapak gagah dan berkumis ini. Buku yang mengabadikan kejadian gempa bumi Lombok dan Sumbawa tahun 2018 lalu. Masa itu, Pak Min, masih bertugas memimpin LPMP provinsi Nusa Tenggara Barat. Buku berjudul,”Walau Digetar Sampai Terkapar, Tak Kan Goyah Jiwa-Jiwa Pembelajar.” lahir sebagai  hadiah istimewa bagi penulis.

Penghargaan juga datang dari keluarga, teman kerja  dan sahabat baik secara langsung maupun  tidak langsung. Ucapan selamat mengalir di dunia maya, baik melalui whatsaap maupun melalui facebook.

Inilah yang bisa disebut sebagai karya yang biasa dihargai luar biasa. Terima kasih kepada semua yang telah memberikan apresiasi  terhadap hasil ini.

Apresiasi memang sangat besar pengaruhnya terhadap tumbuhnya dan terbangunnya motivasi dalam diri. Ketika hasil sudah bisa diraih, tidak harus menjadi the best  lalu diberikan apresiasi maka motivasi  yang muncul akan semakin kuat untuk terus berbuat menjadi lebih baik.

 

Tinggalkan Balasan