Oleh Nuraini
Alhamdulilah, bisa melepas sejenak tulisan yang berputar-putar sekitar kegiatan pembelajaran jarak jauh karena sudah kegiatan akhir tahun pelajaran. Grup whatsaap kelas yang sudah beberapa bulan belakangan ini memenuhi memori handphone saya dan memenuhi kepala saya. Grup yang membuat kepala cenat-cenut dan jemari hamper terasa kesemutan. Perasaaan rada-rada gemes menghadapi anggota grup yang terdiri dari orang tua siswa dengan latar belakang beragam. Dengan segala celoteh di luar konteks pembicaraan. Yang sibuk memposting sesuatu yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Meskipun diingatkan berkali-kali.
Senyum-senyum sendiri menonton video yang dikirim oleh siswa atau membaca chat siswa. Membaca chat orang tua yang kadang nyeleneh. Melepas dulu sejenak perasaan gembira ketika mendengar orang tua yang semakin pintar belajar bersama putra-putri mereka. Menyimpan dulu rasa bangga ketika mendengar orang tua yang membangun kerjasama, tolong menolong dan berbagi dengan siswa lain yang tak lagi mampu membeli kuota atau tak memiliki handphone andoroid
Kini , saatnya blog diwarnai dengan resume tulisan ydari grup menulis maupun dari media sosial facebook. . Tulisan ini merupakan hasil jalan-jalan saya di blog teman dalam anggota grup menulis dalam whatsaap grup. Tulisan teman yang saya baca sangat menyentuh hati, sesuai dengan perasaan saya, sesuai dengan pengalaman saya sebagai pencinta literasi yang baru mulai belajar menulis.
Saya berkunjung ke blog miliknya Bapak Ngainun Naim , https://spirit.blogspot.com/2020. Judul tulisan beliau adalah “Kunci dan Alasan.” Tulisan beliau berisi tentang begitu sulitnya konsistensi seseorang untuk menulis. Konsistensi itu memerlukan perjuangan. Beliau juga memaparkan tentang kehidupan yang sesungguhnya bergerak di antara dua kutub: Idealitas dan Realitas. Jika kita seperti berlari dari angka 0 menuju 100 , maka angka 0 adalah realitas dan angka 100 adalah idealitas. Jika impian kita terpenuhi, mungkin derajatnya mendekati 100.
Perspektif di atas digunakan untuk memotret tradisi menulis dan realitas yang dihadapi tidak seperti idealitas yang diharapkan. Hanya sebagian saja yang mau dan mampu untuk menulis. Sesungguhnya semua mampu menulis karena latar belakang pendidikan yang jauh dari cukup untuk menulis bahkan berlebih. Ada yang S1, S2 dan S3 jika melihat kenggotaan dalam grup.
Ini membuktikan pendidikan tidak berkorelasi secara signifikan dalam menghasilkan karya. Persoalannya adalah Mau.
Bapak Ngainun Naim, menyebut nama penulis terkenal dalam paparan beliau, Ajib Rosidi, satrawan yang banyak menghasilkan buku ternyata tidak tamat SD hanya lulusan SMP, D.Zanawi Imron juga lulusan SMP, Ahmad Tohari, hanya lulusan SMA.
Tulisan bapak Ngainun Naim telah memunculkan nama penulis terkenal dengan latar belakang pendidikan yang tidak tinggi. Hal ini membuat semangat saya untuk menulis semakin tinggi. Saya pernah merasa berkecil hati ketika bertemu seorang teman yang sedang menempuh pendidikan pasca sarjana. Ketika bincang-bincang kami mengarah kepada kegiatan menulis, ia mengatakan bahwa,”Pendidikan sangat berpengaruh kepada orang yang mau membaca. Begitu melihat gelar pendidikan yang disandang oleh penulis masih rendah, maka tulisan mereka akan di kesampingkan. Dikatakan tidak layak untuk jadi referensi. Pasca sarjana akan merujuk atau mejandikan buku karya S1 untuk referensi, masak ya?”
Saya mengakhiri perbincangan dengan sebuah pertanyaan. Apakah saya akan berhenti menulis saat itu setelah mendengar pendapat teman tadi? Begitu pertanyaan pada diri saya sendiri yang akhirnya saya jawab sendiri juga dengan jawaban,”Tidak!”
Saya mengatakan bahwa saya menulis tentang apa saja yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, saya baca dan saya pikirkan. Tulisan saya tidak ilmiah. Saya hanya bertutur atau bercerita lewat tulisan sederhana.
Jadi, pembaca boleh memberikan,”saran tidak dikritik karena tulisan yang tidak berdasarkan referensi yang jelas, tulisan tidak memenuhi kreteria, mungkin tidak jelas alurnya, tidak menunjukkan adanya “kegelisahan akademik” tidak ada metodologi, sistematika tidak jelas, kerangka tidak jelas dan sebagainya.”
Seperti yang diungkap oleh bapak Ngainun Naim dalam blog beliau pada tulisan yang berjudul “Kalau Sekedar Kritik, Semua Orang Bisa”
Barangkali saja, tulisan sederhana dari seorang yang tidak berpendidikan tinggi ini, akan ada pembacanya dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Meskipun secara jujur saya mengakui bahwa ada keraguan saat saya mengajak teman-teman untuk menulis. Melihat pendidikan teman-teman yang tinggi. Tapi ada Ajib Rosidi, D. Zarwan dan Ahmad Tohari ynag membuktikan bahwa pendidikan tidak ada korelasi secara signifikan dengan karya seperti yang dicontohkan oleh Bapak Ngainun Naim. Yang penting ada kemauan, tidak perlu banyak berdebat tentang teori dan jangan banyak alasan
Meskipun pendidikan tidak berkorelasi secara signifikan terhadap karya berupa tulisan, namun pendidikan tinggi bagi saya sangat mempengaruhi kepercayaan diri dalam menulis.
Contoh dengan perasaan diri saya yang hanya lulusan S1. Berbagi tulisan kepada teman yang pendidikannya lebih tinggi terasa garing saja bagi saya. Saya merasa tidak pantas. Sampai berpikir, mungkinkah karena saya hanya lulusan S1 sehingga tulisan saya tidak dibaca? Ah…lepas, buang perasaan buruk sangka. Saya merasa menulis adalah kebutuhan. Jika orang tidak membaca tulisan yang saya publish, ya tidak apa-apa. Jika ada yang membaca dan suka , maka itu adalah bonus..
Apakah ingin melanjutkan pendidikan meskipun usia sudah lewat lima puluh tahun?
Ya!
Saya sangat ingin melanjutkan pendidikan, tetapi banyak hal yang menjadi pertimbangan. tentunya bukan karena usia. Saya melihat status teman dalam facebook tanggal 19 Juni 2020. Statusnya tentang tokoh bangsa yang menyelesaikan pendidikannya di usia yang tidak lagi muda. “Alumni UT: Bapak Djoko Suyanto, Almarhumah Ibu Any SBY, Ibu Linda.A.Gumelar, Bapak Wiranto, Bapak Moeldoko, dan Inu Mooryati Soedibbjo. Ibu Moer lulus UT saat berusia 69 tahun, lulus S2 UNS ketika berusia 71 tahun, dan lulus S3 UI ketika berusia 81 tahun. “UT: Making higher education open all.”
Akun facwbook milik Bapak Minhajul Ngabidin, yang membagikan status milik Maximus Gorky Sembiring bersama Ojat Darojat dan Tian Belawati
Termotivasi untuk melanjutkan studi, melihat tokoh penting dengan usia menjelang senja masih haus dengan pendidikan.
Tulisan Bapak Ngainun Naim menjadi pelecut semangat untuk menulis dan status yang ada pada akun Fb milik Bapak Minhajul Ngabidin menjadi pembakar semangat untuk pendidikan. Untuk Bapak Ngainun Naim, Insyaallah saya akan konsisten untuk menulis. Untuk bapak Min, semoga saya bisa melanjutkan pendidikan meskipun tidak sekarang.
Salam Semangat Literasi dari SDN 1 Dasan Tereng, (Sdensa Santer Apik)
Lombok, 21 Juni 2020
Hp. 081805597038












