Oleh Nuraini Ahwan
Menulislah setiap hari, biarkan tulisan yang akan menemukan takdirnya sendiri. (Sri Sugiatuti, M.Pd)
Mari membiasakan diri untuk menulis setiap hari. Menulis apa saja yang ada dipikiran kita. Jangan takut meskipun pada awalnya belum terstruktur dan belum terpola dengan baik. Yakinlah, lama kelamanan akan menjadi tulisan yang baik dan tentunya tulisan yang tidak asal jadi. Tapi ingat,…semua akan bis ajika komitmen dan konsistensi tetap dipegang. Tulisan yang dihasilkan berproses menjadi tulisan yang lebih baik. Apalagi jika tulisan itu ditulis dengan sepenuh hati. Tentunya tulisan itu merupakan tulisan yang tidak asal jadi.
Setiap tulisan yang ditulis sudah melalui tahapan pengeditan langsung oleh penulis. Itu juga yang saya lakukan ketika tulisan saya sudah selesai. Ini artinya bahwa penulis itu sebelum menyerahkan tulisannya ke editor yang dipercaya, maka penulis menjadi editor bagi tulisannya sendiri. Kecuali penulis sudah mampu menjadi editor untuk tulisannya sendiri.
Mengedit tulisan pun tak lepas dari masukan atau komentar saran dari teman setia yang berkunjung ke blog, ke wordpress, kompasiana, gurusiana, akun fb dan lain-lain media sosial yang kita gunakan sebagai sarana publish tulisan.
Saya berusaha menulis setiap hari dan memposting pada blog yang saya miliki, ternyata berkontribusi dalam proses perkembangan atau kemajuan saya dalm menulis. Saya berusaha menulis dengan berbagai genre tulisan. Baik genre yang sudah biasa saya dengar maupun genre yang benar-benar asing bagi saya. Ada grup yang dijadikan wadah diskusi dan ada mbah google yang selalu baik menjawab setiap pertanyaan kita tentang genre tulisan yang kita minta.
Tulisan yang diposting saya harapkan dapat dibaca oleh para pencinta literasi maupun yang masih ogah untuk membaca. Melihat fenomena di masyarakat kita, untuk menuju masayarakt yang memiliki budaya baca, kita masih harus bekerja keras untuk membangunnya.
Seperti apa yang disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta “Anies Baswedan” dalam sambutan beliau pada hari pendidikan Nasional beberapa tahun yang lalu. Dalam sambutannya. beliau mengatakan bahwa minat baca kita tinggi tetapi daya baca kita rendah. Artinya keinginan atau minat membaca sudah tinggi sekali seperti membaca whatsaap, membaca sms bisa sampai berjam-jam tetapi jika membaca buku yang tebal, maka akan di skip atau dilewati saja.
Menyadari hal itu, maka tetaplah menulis, meskipun tidak dibaca orang. Untuk memperkaya ide dan perbendaharaan kata, luangkan waktu membaca 10 halaman setiap hari. Sejatinya menulis akan kita rasakan manfaatnya. Tulisan kita suatu saat akan menemukan takdirnya sendiri, jika tulisan kita disenangi pembaca, itu adalah bonus bagi kita, jika sebaliknya maka jangan putus asa, tetaplah melatih kemampuan kita untuk menulis.
Jangan mengatakan bahwa menulis itu sulit karena itu menulis bukanlah suatu keahlian tetapi karena kemauan, latihan dan kebiasaan. Karena menulis memerlukan kemauuan, latihan dan kebiasaan maka saya berusaha untuk melatih dan mebiasakan diri untuk menulis setiap hari. Berusaha menemukan ide yang banyak tersebar di alam untuk menjadi tulisan.
Apapun bisa menjadi ide untuk tulisan kita. Seperti kali ini, ide muncul dari pelaksanaan kenaikan kelas dan kelulusan siswa di tempat saya bertugas.
Di sela-sela kesibukan hari ini, saya mengawali tulisan dengan mengapa harus menulis dan melanjutkan tulisan ini dengan kegiatan teman-teman guru di akhir tahun pembelajaran. Kesibukan yang berkaitan dengan kenaikan kelas bagi kelas 1 sampai kelas 5 dan kelulusan bagi siswa kelas 6. Kenaikan kelas dan kelulusan yang dirancang dengan teknik sedemikian rupa, online dan atau ofline mengingat pendemi covid 19 masih mengancam. New Normal untuk Nusa Tenggara Barat belum diizinkan oleh pemerintah pusat.
Kesibukan guru untuk memeriksa hasil ulangan meluluhkan kesan negatif tentang guru “ngaji” atau ngarang biji” atau ngarang nilai.
Guru ,”Ngaji,” akibat kelalaian atau ketidaktekunan guru dalam melakukan penilaian secara rutin termasuk mengoreksi hasil kerja siswa. Jika penilaian tidak dilakukan secara rutin, maka kondisi inilah yang akan mengakibatkan guru cendrung ngarang biji. Kecanggihan teknologi juga saat ini disertai dengan guru yang memiliki kompetensi dalam penggunaan teknologi, meminimalisir bahkan menghapus malpraktek dalam penilaian. Saya menyebutnya sebagai malpraktek untuk guru yang suka ngaji atau ngarang biji.
Teknologi, pada masa pandemi ini dirasakan sangat besar pengaruhnya atau manfaatnya terhadap pembelajaran jarak jauh. Teknologi memainkan perannya dalam pembelajaran dalam jaringan atau daring.
Pada penilaian kelas 1 sampai kelas 5 untuk kenaikan kelas dan kelas 6 untuk kelulusan bisa menggunakan teknik online. Penerimaan raport bisa dilakukan secara online dan bisa secara ofline. Untuk tahun ini penerimaan raport ditempat saya bertugas direncanakan secara ofline sedangkan pengumuman kelulusan direncanakan secara online.
Pengumuman secara online dilakukan untuk mempermudah siswa melihat hasil ujian dengan membuka tautan yang dibagikan sekolah. Siswa hanya menulis atau mengetik usermane yaitu NPSN dan pasword menggunakan NISN masing-masing. Mereka bisa melihat hasil ujian berupa pengumuman lulus tidak dan nilai mereka masing-masing
Selamat bekerja bapak dan ibu guru.. selamat melaksanakan penilaian. Lakukanlah penilaian dengan benar.
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Yang artinya, “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan
timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qur’an surat Al Isra Ayat 35)
Lombok, 13 Juni 2020










