Selamat pagi sobat,
Di pagi hari ini saya mengulas topik di rubrik NGETEH MORNING tentang aktivitas saya menjemur Batu Akik.
Kemarin (Kamis, 18/03/2021) pagi setelah menulis artikel untuk mengisi rubrik NGETEH MORNING di website YPTD : terbitin.id dan mumpung matahari bersinar cerah, saya melakukan aktivitas untuk menjemur Batu Akik.
Namun tidak semua koleksi Batu Akik saya jemur melainkan hanya Batu Black Opal Kalimaya asal daerah Banten.
Untuk jenis Batu Akik ini saya memiliki dua buah, satu buah yang sudah memiliki banyak jarong dan yang satu buah lagi masih berproses dan baru beberapa jarong yang muncul.
Keindahan Batu Akik Black Opal Kalimaya ini memang terdapat pada corak warna-warni yang muncul di dalam batu seperti lampu disko yang oleh kolektor Batu Akik disebut sebagai Jarong.
Yang paling menarik dari Batu Akik Black Opal Kalimaya adalah variasi warna jarongnya yang lebih banyak dibanding dengan Batu Opal dari belahan lain di dunia, misalnya Batu Opal dari Wello Ethiopia atau Batu Opal dari Australia.
Sebelum saya jemur, kedua batu akik tersebut saya olesi dengan minyak zaitun agar panas Matahari tidak menyebabkan Batu yang dijenur menjadi retak.
Di terik sinar Matahari pagi, saya sempat mengamati batu Black Opal Kalimaya yang sedang berproses keluar jarong dan ternyata bintik bintik jarong yang berwarna putih sudah semakin banyak yang menjadi jarong, berwarna merah, biru dan hijau.
Begitu indah dilihat ..
Awalnya Batu Akik yang satu ini sama sekali belum ada jarongnya. Ceritanya begini, saat itu tanggal 6 Februari 2019 seorang pelapak online memberikan tiga buah bongkahan Batu Black Opal Kalimaya asal daerah Banten. Namun tiga bongkahan batu Black Opal Kalimaya yang saya punya ini masih sangat mentah alias belum ada jarongnya.
Selepas pemberian itu, tiga buah bongkahan batu Black Opal Kalimaya tersebut saya rendam dengan air hujan dan sesekali saya ganti dengan air hujan yang baru.
Waktu terus berjalan dan ketika saya ganti rendaman air hujan di awal bulan Oktober 2019, saya sempatkan melihat lebih seksama satu dari tiga buah bongkahan batu Black Opal Kalimaya tersebut.
Bongkahan batu Black Opal Kalimaya yang saya amati, terlihat muncul bintik bintik putih di bongkahan batu tersebut. Bintik bintik putih di Batu Black Opal Kalimaya yang menurut info yang saya dapat adalah calon jarong.
Bintik bintik putih tersebut nantinya akan berubah warna menjadi warna merah, biru atau hijau.
Nampaknya, rendaman air hujan cukup ampuh untuk mempercepat munculnya jarong pada batu Black Opal Kalimaya. Kemudian timbul niat saya untuk membuat sebuah batu cincin dari bongkahan batu Black Opal Kalimaya tersebut.
Pada tanggal 21 Oktober 2019, saya bawa bongkahan batu Black Opal Kalimaya yang sudah mempunyai bibit bibit jarongnya ke tempat pembuatan batu cincin di Pasar Segar Depok. Dedi sang pengrajin pembuatan batu cincin sudah ready untuk meng-GOSPOL (GOSok dan POLes) bongkahan batu Black Opal Kalimaya menjadi sebuah batu cincin.
Sebelum diGOSPOL, saya minta Dedi untuk mencari bagian dari bongkahan Batu Black Opal Kalimaya yang banyak menampakkan bintik bintik putih calon jarong.
Sekitar satu jam, Dedi sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memasangkan Batu Black Opal Kalimaya ke sebuah cincin yang berdimensi 25 mm x 18 mm.
Sedangkan sisa bongkahan batu Black Opal Kalimaya diberikan lagi ke saya.
Menurut info yang saya baca dari beberapa media online bahwa memang banyak cara untuk bisa membuat batu Black Opal Kalimaya dapat muncul jarongnya. Oleh karena itu, saya akan mencoba cara yang saya pilih agar Batu cincin Black Opal Kalimaya yang saya miliki bisa keluar jarongnya apalagi bibit bibit jarong berupa bintik bintik putih sudah cukup banyak terlihat dalam batu Black Opal Kalimaya tersebut.
Intensitas merawat batu akik semakin tinggi ketika terjadi wabah pandemi COVID-19 di tahun 2020 yang memaksa saya lebih banyak tinggal di rumah.
Sambil berjemur diri di bawah terik matahari pagi maka saya pun juga menjemur koleksi batu akik saya secara bergantian tak terkecuali Batu Black Opal Kalimaya.
Sebelum dijemur, Batu Black Opal Kalimaya saya olesi dengan minyak zaitun dan setelah dijemur saya keringkan dengan kain halus dan kembali saya olesi dengan minyak zaitun kemudian saya simpan di tempatnya.
Hal tersebut saya lakukan secara berulang ulang. Cara tersebut saya lakukan mulai bulan Maret 2020 dan hingga akhir bulan Juli 2020.
Itu artinya sudah sekitar empat bulan saya melakukan treatmen terhadap Batu Black Opal Kalimaya.
Secara berkala terutama di bulan Juli 2020, saya perhatikan pada Batu Black Opal Kalimaya, beberapa bintik putih yang merupakan bibit bibit jarong sudah berubah warna menjadi warna merah dan warna biru dan itu artinya Batu Black Opal Kalimaya tersebut sudah memiliki jarong meski masih dalam jumlah hitungan jari.
Alhamdulillah ..
Hal ini berarti cara treatmen yang saya lakukan sudah benar dan mampu membuat batu Black Opal Kalimaya yang saya miliki sudah memunculkan jarongnya.
Setelah bulan Juli 2020, batu Black Opal Kalimaya secara berkala masih terus saya jemur hingga saya mulai disibukkan dengan pembuatan buku mulai akhir bulan Agustus 2020 sampai dengan sekarang ini sehingga waktu untuk menjemur batu akik menjadi berkurang secara drastis.
Namun demikian meski waktu menjemur sangat berkurang, setiap hari saya selalu olesi Batu Black Opal Kalimaya tersebut dengan minyak zaitun.
Semakin banyak jarong yang saya lihat di batu Black Opal Kalimaya pada kemarin pagi maka hal ini membuktikan bahwa selain air hujan ternyata minyak zaitun cukup ampuh juga untuk mempercepat bintik bintik putih sebagai calon jarong menjadi jarong dengan warna warni yang begitu indah dipandang mata.
Alhamdulillah ..
Inilah kisah saya saat menjemur Batu Black Opal Kalimaya yang saya miliki.
Saya sudahi tulisan ini dengan sebuah pantun :
Berjalan Di Tepi Sungai Batanghari
Melihat Orang Sedang Memahat
Menjemur Black Opal Di Terik Matahari
Muncul Jarong Nan Indah Dilihat
Sobat, saatnya saya undur diri dan mari kita nikmati secangkir teh hangat di pagi hari ini ..
Selamat beraktivitas ..m
Salam sehat ..
NH
Depok, 19 Maret 2021












