Kanker Nasofaring / Karsinoma Nasofaring (KNF) Membunuh secara perlahan (Part 6)

Sabtu tiga Juli 2021 akhirnya datang, perasaan ku mulai tak enak, pikiran menerawang entah kemana. Setelah mendapat informasi dari suami bahwa beliau mengidap kanker nasofaring, diri ini sering melamun kadang-kadang menangis tanpa sebab. Rasa-rasa nya ini hanyalah mimpi, Ketika tersadar semua baik-baik saja. Tapi… hati dan segenap jiwa kembali menangis, ini nyata. Tidak mungkin dokter memvonis tanpa bukti. Mengapa? Mengapa cobaan ini begitu berat? Sanggupkah aku menjalaninya?

Tuhan, Engkau lah yang Maha mengetahui atas apa yang kami jalani. Tuhan berilah kami kekuatan dan kesabaran hingga kami bisa berjuang sampai akhir. Tuhan jikalau memang waktu suamiku masih sedikit hadirkan lah kebahagiaan dan senyuman yang menghiasi hari-hari tapi jikalau waktunya Masih lama berilah kesembuhan agar dia pulih dan sehat.

Salahkah jika aku meratap? Aku tidak putus asa, aku juga tidak menolak ujian ini, aku hanya shock dan masih tidak percaya dengan semua yang terjadi. Lamunanku buyar ketika petugas memanggil nomor antrian yang ku pegang. Aku berdiri dan bergegas menghampiri mereka dan menyerahkan nomor antrian beserta berkas kontrol.

Sambil menunggu aku melihat sekeliling, bangunan rumah sakit yang bagus.Hampir tiap hari rumah sakit ini ramai pengunjung. Aku akan menjadi pengunjung setia untuk beberapa waktu ke depan dan menjadi teman hidupnya dalam diam. Setelah mendaftar, berkas pun diserahkan ke bagian Poli. Seperti biasa asisten memberitahukan dokter datang sekitar jam 11 wib.

Secara mak- mak, asal hari Sabtu dan minggu pasti menghabiskan waktu di pasar basah untuk melengkapi kebutuhan dapur. Karena masih ada waktu longgar 2 jam menjelang jam 11, saya langsung mengambil jalur belakang rumah sakit. Saya menyusuri koridor rumah sakit secepat mungkin. Sesekali saya melirik jam.

Saya menghabiskan waktu lebih kurang tiga puluh menit di pasar basah. Sesampai di rumah, abang tertua sudah tiba dan sedang bercengkrama dengan abak yang baru sampai dari Kerinci.
Setelah memenuhi kebutuhan suami, saya pun ikut bergabung. Banyak hal yang diceritakan, sehingga tak terasa menjelang jam 11. Saya pun mengundurkan diri dan kembali menemui suami untuk bersiap-siap.

Saya sangat bersyukur dikelilingi keluarga yang baik dan perhatian. Sebenarnya kedatangan abak tidak direncanakan. Beliau sebenarnya sedang melakukan perjalanan dari Kerinci menuju Jambi kemudian akan dilanjutkan penerbangan Jambi -Jakarta dan akan berakhir di Lampung. Rencana tinggal rencana. Ternyata Tuhan berkehendak lain, ketika 4 jam perjalanan menuju keberangkatan ke Lampung, tiba-tiba si bungsu menelpon bahwa dia terpapar Covid-19.

Memang seminggu belakangan, di kampus tempat dia mengajar lagi marak nya mahasiswa dan dosem terpapar. Saya pun sudah mengingatkan untuk melakukan Swab. Karena kesibukan nya akhirnya Swab baru dilakukan Pas hari keberangkatan abak. Awal nya abak bertekad untuk ke Lampung tapi setelah mendapat telpon dari si bungsu, “Abak boleh berangkat tapi kita harus Jaga jarak.” Setelah mempertimbangkan, akhirnya abak membatalkan penerbangan nya ke Lampung dan memilih penerbangan ke Bangka Belitung.

Sesampai di Bangka Belitung ternyata abak dikejutkan dengan berita suami saya sakit. Abak juga sedih dan memberikan nasehat untuk mengurus dan mengobati suami sampai sembuh. Saya sendiri kadangkala juga heran, betapa sayang nya beliau terhadap menantu nya.

Jam 11 Kami pun ke rumah sakit, Alhamdulillah bisa diantar dan ditemani abak sama abang kandung. Puji syukur yang tak terkirakan saat-saat seperti ini bisa didampingi keluarga besar. Lalu mana keluarga suami? Keluarga inti suami juga jauh. Ibu mertua di Kerinci, sementara bapak mertua sudah lama meninggal. Kakak tertua suami kebetulan berada di Bandung. Bercerita tentang keluarga mereka membuat saya teringat akan penyakit yang diderita adik kandung suami. Penyakit mereka sama, takdir lebih dulu membawa nya ke Surga Allah lebih kurang setahun yang lalu.

Apabila kondisi diri ini labil, rasa-rasa nya tiada guna berobat toh akhirnya akan kembali padaNya. Akan berbeda jikalau pikiran ini sehat. Sembuh akan segera diraih setelah mengikuti berbagai macam pengobatan. Rasa optimis sembuh sangat tinggi ditambah dengan motivasi dan kepedulian dokter THT di awal kami berobat. Semangat, berpikir positif, iktiar, berusaha, berdoa, dan selalu memotivasi diri untuk sembuh, InsyaAllah kesembuhan akan diraih.

Tinggalkan Balasan