Saya pun melupakan tentang vaksin. Ketika berada di rumah terutama Sabtu dan Minggu, serasa bekerja tidak ada habis nya. Saya kembali sibuk dan berjibaku dengan semua pekerjaan rumah tangga. Meskipun di rumah ada yang bantu, tetap saja hal-hal yang berhubungan dengan dapur saya yang handle.
Sebelum suami sakit, berbelanja ke pasar basah akan didampingi. Tidak semua laki-laki suka terjun ke pasar basah dikarenakan becek dan berdesak-desakkan. Tapi sekarang, saya pergi sendiri dengan ojol atau diantar adik. Sepulang dari pasar, dilanjutkan bersih-bersih barang belanjaan seperti ikan, ayam, cumi, udang dan sebagainya. Selanjutnya menyimpan semua barang bawaan sehingga dapur tidak penuh.
Rutinitas berikutnya adalah memasak. Jika suami tidak sakit, maka menu andalan weekend adalah rendang atau gulai masakan Padang. Tapi semenjak suami sakit saya memasak seadanya. Aktivitas lain yang saya lakukan adalah membuat nugget ayam untuk anak-anak, Kadang-kadang membuat tempe bacem dan sebagainya. Jika kaki bisa bicara dia akan berkata, “Saya bukan robot yang bisa dipekerjakan sepanjang hari”
Setelah urusan dapur selesai, anak-anak akan membuntuti kemana kaki melangkah. Mereka ingin diajak bermain dan bercanda sehingga tidak mau sama orang lain, termasuk babysitter. Meskipun kadangkala saya dibuat kesal oleh mereka, tangisan mereka membuat saya frustrasi sehingga harus menemani dan memeluk mereka.
Hal utama dan paling penting adalah memastikan kebutuhan sehari-hari suami tercukupi. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Sore nya saya harus menyiapkan keperluan di rumah selama ditinggalkan dan keperluan untuk keberangkatan senin pagi.
Di samping aktivitas utama sebagai ibu, istri, dan pegawai, saya juga sempat mencuri waktu untuk menulis, meskipun satu sampai tiga kalimat. Kemudian kalimat tersebut saya simpan dan akan dikumpulkan ketika waktu senggang saya. Berikutnya baru diedit dan dipoles.
Semua aktivitas harus berjalan seperti sediakala. Tidak alasan bersedih apalagi meratapi yang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, saya coba berbuat Sebaik-baiknya dan semampunya sehingga saya tidak hanyut dalam kesedihan.
Seandainya akhir Maret 2021 lalu, saya tidak bergabung dengan grup patihan belajar menulis PGRI bersama Om Jay, mungkin saya lebih banyak bersedih dan menagis. Ternyata menulis juga menjadi salah satu cara agar saya keluar dari zona Kepiluan.
Apapun yang bisa saya lakukan untuk mengisi hari-hari akan saya lakukan. Kebiasaan menulis membuat saya ingin menorehkan perjalanan kehidupan kami selama menghadapi ujian ini. Tentu saja saya harus meminta izin dari suami terlebih dahulu, jikalau diizinkan maka tulisan ini akan berlanjut tetapi jika tidak diizinkan maka tulisan ini akan tersimpan rapi di laptop.
Memang beberapa kisah sudah saya tuangkan di Kompasiana akan tetapi tidak sekomplit tulisan ini. Tulisan ini menjelaskan bagaimana kami harus berjuang hari demi hari melawan penyakit tersebut. Apakah Kanker Nasofaring/Karsinoma Nasofaring (KNF) akan memberikan hikmah atau berujung maut?








