Menulis di Kala Sakit, Kisah Inspiratif Guru Penulis

Terbaru1227 Dilihat

 

Huh, tidak terbayangkan, menulis di kala sakit. Sakit apa? Apa yang ditulis? Bagaimana proses menulisnya? Beberapa pertanyaan pun berkecamuk dalam benak. Ada bayang-bayang kemustahilan dalam pikiran saya yang awam ini.

Namun Cang Atok kadang juga Cing Ato bahkan ada pula yang memanggil Harto, yang bernama asli Suharto, S.Ag., M.Pd., seorang guru MtsN 5 Jakarta membagikan pengalamannya untuk kita semua. Bagaimana serunya beliau berbagi pada malam ke-31 di sebuah grup menulis akan saya ceritakan kepada Anda.

Kalimat pembuka untuk menyapa para peserta pelatihan menulis di grupnya Omjay gelombang 17 adalah sebagai berikut.

“Saya bangga dan angkat topi untuk Anda semua. Kenapa? Karena Bapak dan Ibu adalah orang-orang yang hebat sudah keluar dari zona nyaman.”

Dengan rendah hati juga beliau mengatakan bahwa tidak menyangka bisa terpilih menjadi narasumber pada malam itu. Karena, katanya, ia belum begitu paham tentang tulis-menulis.

Meskipun begitu, ia pun tidak menampik bahwa pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu saat akan menjadi narasumber pelatihan menulis. Eh, ternyata terbukti. Ini mungkin  yang disebut power of dream, ya!

Awal Mula Menulis

Tidak ada sesuatu yang diraih secara tiba-tiba. Semua selalu ada hal yang mengawali. Demikian pula Cang Ato. Ia memulai kegiatan menulisnya dengan rasa “ingin tahu” tentang literasi. Hingga ia berkelana ke dunia maya mencari pelatihan literasi.

Suatu saat ia mendapat postingan tentang pelatihan menulis PTK. Pucuk dicinta ulam tiba, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mengikuti pelatihan tersebut. Akhirnya, ia pun mengenal nama-nama besar dunia menulis seperti Bang Namin, Omjay, Om Dedi, Om Dian Kelana (alm.), dan lainnya. Antara 2015 -2016 Cang Ato banyak mengikuti acara mereka, di antaranya: penulisan PTK, public speaking, dan Writing Camp Batch 6.

Sebelum pandemi melanda negeri, setiap liburan sekolah selalu mencari pelatihan. Walaupun berbayar dan jauh dari rumah serta harus meninggalkan keluarga berhari-hari ia ikuti. Hasilnya, ia mampu membuat PTK  dan ikut menulis buku Antologi.

Pada bulan Desember 2017, Cang Ato mengikuti pelatihan Madia Guru di daerah Cipanas. Dari pelatihan tersebut ia berhasil menerbitkan buku solo perdana” Mengejar Azan”. Buku itu tentang cerita perjalanan hidup dalam menuntut ilmu. Bangga? Tentu saja. Saking bangganya hingga seorang teman pelukis ia minta untuk melukis bukunya itu. Ia pun memajang di ruang tamunya.

Badai Tornado

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. “Badai Tornado” memorak-porandakan kebahagiaan keluarganya. Pada tanggal 19 Juli 2018 seluruh badannya lumpuh, tidak bisa bergerak. Bahkan, napas pun tidak bisa, hanya kepala dan kelopak mata saja yang bisa digerakkan. Alhamdulillah, keluarganya cepat membawa Cang Ato ke rumah sakit.

“Saya terserang penyakit langka. GBS (Guillain Barre Syndrome). Penyakit yang mematikan seluruh syaraf saya sampai napas pun harus dibantu dengan mesin ventilator dan oksigen, ” tuturnya.

“Satu tahun tubuh ini lunglai, tidak bergerak sama sekali. Pulang dari rumah sakit pun masih dalam kondisi sakit dan masih memakai oksigen. Dengan kepasrahan dan kesabaran istri dan keluarga, akhirnya mulailah tangan kiri bergerak, diikuti tangan kanan. Butuh waktu 6 bulan tangan bisa menyentuh wajah, sementara jari jemari masih kaku,” imbuhnya penuh duka.

“Tidak banyak yang saya perbuat pada saat itu, kecuali menunggu takdir dan keajaiban. Satu tahun setengah putus hubungan dengan dunia luar,” tulisnya. Ada nada memilukan dalam ceritanya.

Tuhan tidak tidur. Zat yang Mahakuasa itu mendengar pinta dan doa Cang Ato untuk bisa terbebas dari penyakit yang dideritanya.

Cang Ato pun melanjutkan ceritanya.

Menulis di Kala Sakit

“Pada suatu ketika saya mendengar suara bunyi HP istri. Saya pinta perawat untuk meletakkan HP tersebut di atas dada saya, sementara tempat tidur ditinggikan hingga saya bisa melihat HP. Saya mencoba menyentuh layar HP dengan jari yang kaku. Eh, bisa. Langsung saja, ketika istri pulang mengajar saya pinta HP saya. Alhamdulillah, HP-nya masih ada, hanya kartunya yang sudah tidak aktif. Saat itu juga istri membelikan kartu baru,” cerita Cang Ato berapi-api.

“Akhirnya HP saya hidup kembali! Saya lacak akun Facebook selama tiga hari, akhirnya ketemu. Sejak itulah saya memposting kondisi saya hingga seluruh sahabat dan murid saya mengetahui. Akhirnya gelombang sahabat dan murid pun berdatangan,” katanya penuh haru.

Cang Ato pun melanjutkan ceritanya. Ia berpikir.

“Apa, ya yang harus saya perbuat agar hidup ini bermanfaat walau dalam kondisi sakit?” berulang kali pertanyaan itu terngiang-ngiang dalam pikirannya.

Berdasarkan pengalaman menulis buku perdananya, Cang Ato pria tampan guru MTsN 5 Jakarta itu,  menulis apa yang ia bisa, kuasai, dan cukup dengan bahasa yang sederhana, yang penting bisa dibaca dan dicerna. Akhirnya setiap hari ia menulis cerita perjalanan penyakit yang ia alami.

Hari-hari yang kosong ia isi dengan menulis artikel dengan satu tema, yaitu motivasi. Kegiatan itu ia lakukan setiap sesudah subuh hingga pukul 07.00. Kadang sambil terapi, kadang ketika mau tidur, ia menulis.

Jika kehabisan ide, ia membaca buku, menonton televisi, menonton YouTube, membaca tulisan orang lain, mendengarkan pak Mario Teguh, pak Ari Ginanjar. Bahkan, mendengarkan topeng, lenong, lagu Betawi, karena kebetulan sedang menulis cerita Betawi.

Semua tulisan ia bagikan ke halaman Facebook dan blog. Alhamdulillah, banyak yang senang dan menunggu tulisan berikutnya. Bahkan banyak teman literasi berdatangan. Selain ia bagikan ke halaman Facebook, tulisannya pun ia bagikan ke seluruh grup guru yang ia miliki.

Diikutkan dalam Grup Belajar Menulis

Ada kejadian mengejutkan sekaligus membahagiakan. Di tengah perjalanan menulis, tiba-tiba ada orang yang ia kenal menghubunginya melalui panggilan video. Orang itu sangat dikenalnya. Ia tidak asing dengan wajah itu, wajah Bapak Wijaya Kusuma.

“Omjay menelpon, saya!” seakan ingin Cang Ato berteriak.

“Omjay memasukkan saya ke group pelatihan menulis gelombang 8. Walau dalam kondisi sakit saya mengikuti sebatas kemampuan saya. Ketika saya lelah saya berhenti mengikuti pelatihan, tetapi materi saya simpan di wordpress,” papar Cang Ato penuh semangat.

Setiap peserta pelatihan menulis bareng Omjay diwajibkan menuliskan resume materi yang disampaikan oleh narasumber. Cang Ato tidak menyetorkan resume, tetapi ilmunya ia pakai untuk memperkaya tulisan. Maka lahirlah dua karya secara bersamaan.

 

 

Cang Ato memang luar biasa. Lelah, letih, pusing yang dideritanya tidak menghambatnya untuk menulis setiap hari.

“Menulis itu mengalir begitu saja. Saya sendiri juga bingung dibuatnya. Ya, seperti dalam mimpi saja. Hingga terkadang bertanya pada diri sendiri, ini tulisan saya apa bukan,” ceritanya penuh keheranan.

“Istri saya juga ikut bingung, kenapa saya bisa menulis? Bahkan akhirnya ada tawaran menulis naskah pembelajaran PJJ. Lumayan ada rezeki yang menghampiri. Menulislah setiap hari dan lihatlah rezeki menghampiri. Ha ha ha …,” tuturnya dengan perasaan penuh suka cita.

Dengan menulis setiap hari, Cang Ato lupa bahwa ia sedang sakit. Mukjizat Tuhan, Allah SWT, hingga tiba-tiba tubuhnya sedikit-demi sedikit mengalami perubahan yang cukup membahagiakan.

Beberapa Langkah yang Harus Diketahui sebagai Penulis Pemula

Dari pengalaman yang ia lakukan Cang Ato memberikan tips tentang beberapa langkah yang harus diketahui sebagai penulis pemula. Di antaranya, yaitu:

  1. Tulis apa yang kita bisa dan kuasai. Menulis apa yang kita bisa akan memudahkan kita untuk menulis. Mulailah dengan satu paragraf terlebih dahulu. Tidak usah terlalu panjang. Gunakan bahasa yang sederhana, yang terpenting bisa dibaca dan dipahami.
  2. Mulailah dari apa yang pernah kita alami. Menulis yang pernah kita alami lebih mudah, tanpa harus mengeluarkan energi yang menguras pikiran. Buku perdana dan kedua Cang Atok isinya apa yang ia alami. Tentunya harus terstruktur dengan baik sesuai urutan peristiwa.
  3. Buat tema agar fokus dalam tulisan. Mengambil pernyataan pak Akbar Zaenudin, menulis harus membuat tema terlebih dahulu hingga seluruh isi buku temanya sama. Misal tentang motivasi, traveling, kuliner, dll. Buku ketiga Cang Atok adalah buku motivasi, materinya ia ambil dari tulisan di blog pribadinya. Tulisan diblog diedit kembali lalu, masukkan rumus 5W + 1H.
  4. Membuat target dalam menulis. Waktu membuat buku ke 2 dan ke 3, Cang Ato menargetkan tahun 2020 buku ini harus terbit. Alhamdulillah, 5 bulan terbit. Smester ganjil 3 buku jadi, semester genap konsentrasi buku motivasi siswa dan guru. Tahun ini (2021) insyaallah 5 buku
  5. Memiliki semangat. Jangan berharap apa yang kita inginkan akan tercapai, jika tidak ada semangat. Semangat itu yang membuat Cak Ato mampu untuk menyelesaikan tulisan menjadi sebuah buku.

Sakit, sepanjang masih bisa menggerakkan jemari, bukan hambatan dan alasan untuk tidak menulis. Seperti Cang Ato, anugerah yang diberikan Tuhan, Allah SWT, ketika sakit yakni bisa menggerakkan jemari tangan, ia manfaatkan untuk menulis.

Jika yang sakit saja tidak berhenti menulis, konon kita yang masih segar bugar tidak berhenti menulis. Malu? Harusnya begitu.

 

Salam Blogger Sehat
PakDSus
Blogger Guru Musi Rawas
https://blogsusanto.com/

 

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar